Bang Sat

11 01 2010

“Bang Sat”, kata panggilan itu terucap ketika orang-orang di sebuah kampung pinggiran Ibukota membutuhkan jasa tambal ban panggilan. Yang bisa dipanggil setiap saat dengan hanya mengirim pesan melalui sms. Tapi orang-orang di kampung itu juga sebenarnya tidak selalu dan sepenuhnya memanggil dengan kata lugas seperti itu. Nama tukang tambal ban itu adalah Satriyo. Ada yang memanggil bang Iyo, tetapi ada juga yang memanggil dengan nama Bang Sat. Katanya, supaya lebih beken. Maklum, meskipun di kampung pinggiran Ibukota, pobia untuk selalu mengikuti trend yang uptodate juga digandrungi. Dan jangan salah dengan sebutan nama yang terdengar amat kasar itu, Bang Sat. Tapi bagi penduduk kampung, nama panggilan itu sudah wajar. Familier terdengar di telinga orang. Dan si pemilik nama juga tak pernah mempermasalahkan hal itu.

Tapi, baru-baru ini. Belum lama ini, nama panggilan tukang tambal panggilan tersebut lebih tenar di ruangan wakil rakyat. Di sebuah gedung hijau megah di Ibukota, yang kata si kambing jantan “Raditya Dika”, mirip kodok. Bukan untuk memanggil Bang Satriyo karena meminta jasa tambal ban. Tetapi konon katanya karena ada suasana emosional adu mulut di sebuah sidang. Adu mulut yang cukup lama dan disaksikan langsung oleh rakyat. Sehingga salah satu anggota wakil rakyat mengucapkan kata itu.

Lalu bermunculanlah berbagai pendapat. Pendapat para pakar dan ahli di bidangnya hingga masyarakat awam. Atau mungkin sebuah gambaran ironi; “Adakah rakyat yang merasa terwakili dengan wakil-wakil rakyat yang seperti itu?“. Dan ada juga pendapat dari kelompok-kelompok yang kontra, yang mengatakan hal itu tidak pantas. Hingga pendapat yang cukup mendukung. Pendapat dari salah seorang ketua kelompok kecil wakil rakyat yang mengatakan hal itu wajar. Sekali lagi, kata-kata itu adalah wajar. Ya, wajar katanya. Lalu badan kemuliaan wakil rakyat juga sempat berujar belum bisa mengkoreksi dan menindaklanjuti hal itu karena seolah belum ada bukti.

Terlepas dari itu semua, jadi teringat oleh sebuah artikel di sebuah koran lokal jawa tengah minggu lalu. Mengupas tentang anomali demokrasi. Dimana katanya, ada sifat atau kondisi tertentu dimana paham demokrasi di sebuah negara bisa menimbulkan sebuah boomerang yang menghantam diri sendiri. Boomerang itu timbul karena satu alasan. Roda demokrasi yang seharusnya dipimpin oleh wakil rakyat, dari oleh dan untuk rakyat, justru dipimpin oleh segerombolan orang yang kurang bisa menjalankan roda demokrasi itu sendiri. Siapa segeromboan itu? Bisa benar-benar orang yang tidak tahu-menahu, orang-orang pintar tapi mudah disetir, atau orang-orang yang tampak di luar nampak pintar tapi sebenarnya tidak tahu-menahu sama sekali?

Iklan

Aksi

Information

26 responses

12 01 2010
Abula

Selamat pagi,
Selamat hari Selasa,,
Semoga tetap semangat dan sukses selalu,,,

Salam Hangat,
AbulaMedia

12 01 2010
wibisono

ilustrasinya keren..

memang seperti itulah kondisi bangsa kita.. hehehe.. turut prihatin..

12 01 2010
wibisono

ilustrasi yang bagus..

turut prihatin dengan kondisi bangsa ini..

yang pintar saja bisa di stir orang lain.. berarti orang itu lebih pintar lagi.. 😀

12 01 2010
farizy

mas tukeran link yuk…

12 01 2010
Andi

wah ini bisa dibahas dlm kajian pragmatik mas. suatu satuan bahasa bisa berbeda penafsirannya tergantung konteks yang berlaku pada suatu setting. 😉

12 01 2010
wardoyo

Lucu banget memang si bang sat …

12 01 2010
Rossa

lagi naik daun yah nih thread?

12 01 2010
ngupingers

ehm…acungkan tangan *saya tidak terwakili*

13 01 2010
Henny Faridah

Jadi ada bangsat yang baik dan juga ada bangsat yang jadi tidak terhormat dong…

13 01 2010
olvy

hey, i’m back ^^

yeah, kalo tentang Bang Sat jadi ingat karakter2 di Prime Time Trans TV yang ada Mas Salah, Mang Kok, dll itu….

13 01 2010
vany

kyknya orang2 politikus yg jd wakil rakyat itu benar2 ‘bangsat’ ya, mas….hehehe

14 01 2010
rio2000

bangsat beda sama bang sat(riyo) ^^

14 01 2010
Ruang Hati

bang sat gas

14 01 2010
the riza de kasela

BANGSAT

14 01 2010
cow

oooo nyambungnya kesana to mang bangsat tu orang pada

14 01 2010
limit 4.5

INDONESIA…sebenarnya tidak ada makna bang–sat di dalamnya

15 01 2010
Andi

komen lagi ah…. 😉

15 01 2010
kaptenagil

panggil bang sat aja sebagai wakil rakyat! hehe..

15 01 2010
Ruang Hati

apa yang keluar menggambarkan dalam nya

16 01 2010
Yosi

Sangat tidak wajar kita ucapakan kata2 tersebut,btw bagus juga sudah mengulas kata Bang Sat ini…

16 01 2010
yos

bang ruhut yang selalau menggembor2kan bahawa pansus harus punya etika, tapi dia sendiri malah memberi contoh yang buruk…
atau bahasa jawanya bang ruhut tuh

Ora ngilo githok

17 01 2010
Eka Situmorang-Sir

Sindiran yg keren.
LIKE it!

18 01 2010
meds

wah sebuah sindiran yang bagus. Ya politik memang wilayah yang tak jelas. yang abu-abu bisa benar atau salah tergantung maunya sang mayoritas.

asal tidak sampai mem-voting: 1 + 1 = berapa? itu sudah sangat keblinger.

19 01 2010
dodi3384

wah..kalao satrio yang aku kenal sih dipanggilnya mas sat yam n tukan maen cewe tuh 🙂

30 01 2010
coretanpinggir

Wah… kartunnya boleh juga tuh… 🙂

30 01 2010
nurrahman18

cuma editan pake corel pak 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: