Rumah untuk Rakyat

16 01 2010

Di hari minggu, di sebuah rumah reyot yang terbangun dari susunan kayu usang. Di sebuah pinggiran sungai. Sungai yang berwarna coklat kehitam-hitaman dan penuh gundukan sampah. Yang baunya begitu menyengat hidung bagi siapa saja yang belum terbiasa. Sungai itu membentang di sekitar pinggiran Ibukota.

Adalah sebuah keluarga yang sedang menonton televisi. Televisinya pun juga kelihatan usang. Karena terlihat jadul dan ukurannya yang mini. Keluarga itu terdiri sepasang suami istri dan seorang anak kecil. Anak kecil yang belum sekolah. ”Rumahnya bagus sekali ya Bu”, celoteh anak kecil itu dengan lugu. Di hari minggu memang beberapa stasiun televisi menayangkan promosi komplek hunian tinggal yang cukup elit dan mewah. Di samping acara-acara ringan dan menghibur keluarga seperti kartun anak.

Ayah dan Ibu dari anak kecil tersebut tak membalas celoteh si anak. Sedang menata kardus-kardus dan koran bekas yang siap jual. Toh jika dijawab mungkin tak ada gunanya. Karena sadar diri bahwa kehidupan mereka yang pas-pasan dari bermata pencaharian sebagai pemulung kardus dan koran bekas, mungkin tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan dari pertanyaan si anak selanjutnya. ”Rumah itu milik siapa ya Bu? Kapan kita bisa tinggal di rumah seperti itu?”, si anak bertanya dengan wajah memelas, lugu tapi cukup tegar.

****

Mungkin tidak ada yang salah bagi sebagian orang dengan melihat kedua gambar di atas. Karena pemandangan itu sudah jamak dilihat. Di ibukota dan kota-kota besar lainnya, melihat apartemen dan rumah-rumah mewah dibangun dengan gencar adalah hal lumrah. Rumah-rumah mewah yang ditawarkan di televisi itu memang bagus. Hampir semua orang akan tertarik untuk memilikinya. Karena sebegitu mewahnya fasilitas yang ada. Ada fasilitas olahraga, taman, dukungan keamanan dan fasilitas lainnya yang cukup mewah. Komplek hunian apartemen dan rumah mewah dibangun oleh para pengusaha handal yang jitu melihat peluang. Dan memanfaatkannya menjadi ladang bisnis yang juga bisa memberikan manfaat bagi orang lain, seperti dapat memberikan lapangan pekerjaan.

Tapi di sisi lain tak dipungkiri bahwa di kota-kota besar dan Ibukota, selain banyak rumah mewah yang gencar dibangun, ada juga rumah-rumah kayu yang kumuh di pinggiran sungai. Pemukiman kumuh yang mungkin sudah bertahun-tahun eksis. Di pinggiran sungai, di sekitar rel kereta api, di atas tanah sengketa dan bahkan di komplek pemakaman umum.

Lalu, bisakah mereka-mereka yang ter-marjinal-kan itu dipersalahkan atas perilaku dan sikap mereka sendiri yang tak mau giat berusaha sehingga menjadi orang-orang yang terpinggirkan? Atau siapa yang mau bertanggungjawab? Pihak penguasa yang mengurusi perumahan rakyat itu kurang tanggap dan kurang cekatan? Sehingga sudah sebegitu lamanya bertahun-tahun masalah klise seperti itu selalu ada. Atau mungkin dapat dikatakan bahwa ketidakadilan rumah untuk rakyat kecil itu karena kesalahan sistemik? Sistemik, kata yang tahun lalu, kini dan mungkin beberapa tahun mendatang akan menjadi quote yang populer karena gara-gara kasus pengucuran bantuan ke sebuah bank yang bermasalah.

Yang jelas pencarian kambing hitam untuk dijadikan tumbal tak akan memberikan sesuatu yang solutif. Tapi tanyakan pada diri sendiri apa bisa dilakukan. Jika bisa menggunakan kuasa, gunakanlah untuk membantu membangun rumah untuk rakyat. Atau dengan kata-kata, dan yang paling lemah dengan hati. Karena di negeri yang katanya rakyat berdaulat ini, belum semua rakyat punya rumah layak. Dan bahkan rumah wakil rakyat pun terkadang dianggap tak bersahabat dengan rakyat.


Aksi

Information

11 responses

18 01 2010
Dodinur

kasian ya bagi orang yang tak mampu 😦 …sebelumnya makasih ya atas kunjungannya 🙂

18 01 2010
alief

memang diman kita menginjak tanah,,,berbed pula bahasa dan etika ya mas,,,,tanks ya infonya,,,,,,,, tulisan anda Sistematis,,,sebelumnya terimakasih telah berkunjung,,,salam kenal,,,

18 01 2010
ekojuli

melihat yang salah terus menerus lama-lama yang salah itu bisa jadi “benar”
hati kita jd tumpul
menganggap hal itu lumrah

ayooo bergerak
lawan ketidakadilan

19 01 2010
vany

memang ironis ya, mas….
tapi, dimana-mana kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin itu selalu ada…
dan khususnya dinegara kita ini sampai skrg blm ditemukan solusinya…. 🙂

19 01 2010
katakatalina

coba prinsip berbagi itu benar-benar dilakukan ya….

salam kenal, terima kasih atas kunjungannya. tukaran link yuk 🙂

20 01 2010
rudis

kapan lagi keadilan akan ditegakkan kalau tidak dari sekarang

20 01 2010
wibisono

terjadi gap yang besar antara rumah rakyat dan rumah wakil rakyat..

20 01 2010
Putra Cinunjang

salam kenal…
mampir2 (kalo da waktu)…
http://denisuryana.wordpress.com

24 01 2010
kaptenagil

di negeri ini rakyat kecil selalu terpinggirkan…

wakil rakyat hanya label! merk, kualitasnya bukan untuk rakyat, tapi tuk diri sendiri…

Great article!

17 04 2011
Negara Berkembang « nurrahman's blog

[…] Setiap hari, berbagai iklan perumahan mewah di kota besar laris manis, tapi di sisi lain memang perumahan rakyat yang kumuh masih ada. Sekolah bertaraf internasional telah mulai dirintis, namun kisah seperti di […]

5 11 2011
Piramida Sosial « nurrahman's blog

[…] dalam piramida sosial yang acapkali muncul dan berulang itu adalah kenyataan. Sebutlah adanya perumahan kumuh di tengah hingar bingarnya ibu kota. Sekolah untuk rakyat di pelosok belum merata. Kasus susahnya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: