Negeri Lima Menara

16 02 2010

Ketika seseorang membaca, terkadang pikirannya bisa terbawa ke angan-angan atau imajinasi seperti apa yang tertulis di dalam buku. Serasa mengalaminya sendiri. Dan akan bertambah beruntung jika yang dibaca adalah buku cerita atau novel yang banyak berisi petuah untuk penyemangat hidup. Dan buku negeri lima menara adalah salah satu buku yang masuk kategori tersebut. Penulis adalah Ahmad Fuadi, anak Minang yang mencoba berbagi cerita hidupnya di masa sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo (yang kemudian disebutkan di novel sebagai Pondok Madani-PM). Novel setebal lebih dari 400 halaman ini telah diterbitkan di tahun 2009 oleh Gramedia, dan telah berulang kali cetak ulang. Penulis adalah lulusan Hubungan Internasional Unpad, dan lalu melanjutkan studinya di Washington University.

Novel yang menceritakan bagaimana lika-liku kehidupan penulis (diceritakan sebagai seseorang bernama Alif Fikri) dimulai semenjak lulus smp. Pergolakan setangah hati dengan Amak-nya (Ibu) akhirnya berujung pada sebuah keputusan untuk merantau ke tanah jawa, dengan masuk ke pondok. Dan di situlah semuanya dimulai. Penulis mencoba menceritakan dengan alur bolak-balik. Beberapa pesan yang ingin diangkat adalah bahwa kehidupan di pondok pesantren yang mungkin selama ini adalah pendidikan untuk kelas ”dua”, untuk anak yang kurang pintar dan seterusnya adalah tidak benar. Kehidupan pondok yang diceritakan penulis bukanlah seperti itu. Namun adalah kehidupan pondok yang disiplin, diwajibkan mahir dua bahasa yakni Arab dan Inggris, persahabatan dengan anak-anak dari se-anteroIndonesia, serta hal-hal lain yang memang diceritakan dengan kocak dan lucu. Sehingga tidak membuat pembaca bosan.

Hal lain yang patut disimak di novel ini adalah penulis berhasil membuat suasana batin pembaca naik turun. Di sebuah bab, bisa menggambarkan semangat yang membara. Tetapi di lain bab bisa berbalik gundah gulana. Tapi itulah mungkin pesan atau kritik sosial bahwa kehidupan ini berulang seperti roda yang berputar. Seperti halnya peradaban manusia di dunia.

Penulis tak lupa menyelipkan pesan untuk menjunjung tinggi apa itu makna keikhlasan. Satu kata yang sebetulnya sangat dalam maknanya. Dicontohkan dengan banyak hal di novel ini. Mulai dari ikhlas menjalani hukuman kedisiplinan di PM, keikhlasan menuruti apa kata orang tua, sampai keikhlasan ustad atau guru di PM yang katanya tidak digaji dalam bentuk rupiah seperti halnya guru pada umumnya.

5 menara. Mengapa diberi judul 5 menara? Itu mungkin juga berkaitan dengan persahabatan penulis dengan 5 sahabatnya. Said, Raja, Dulmajid, Baso dan Atang. Sewaktu di PM, 6 anak tersebut suka sekali berteduh dan bercengkrama di bawah menara masjid. Dan berangan-angan tentang mimpi-mimpi mereka kelak. Sehingga mendapat julukan Sahibul Menara, atau pemilik menara. Itu mungkin juga bisa diartikan selaras dengan penulis yang menggemari menara. Beberapa menara itu antara lain menara masjid di kampungnya sewaktu kecil, menara Gadang, Monas dan menara di Trafalgar Square.

Memang jika ada yang berkesan seolah novel ini mengekor ketenaran Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata karena ada satu alur kisah yang mirip, yakni cerita anak kampung yang bisa sampai kuliah di luar negri. Itu adalah sah-sah saja. Tapi kali ini dengan suasana cerita yang jauh berbeda. Dan tentunya tidak kalah menariknya

Tapi ada satu hal yang mungkin agak membuat kecewa pembaca. Yakni mengenai bagaimana kehidupan Alif Fikri selanjutnya. Selepas lulus PM, bagaimana dia bisa menyelesaikan ujian persamaaan SMA-nya, dan bagaimana dia bisa menjutkan kuliah di luar negri. Itu semua nampaknya akan terjawab di novel berikutnya. Karena novel ini adalah novel pertama dari sebuah trilogi. Dan konon kabarnya akan segera naik ke layar lebar.

Beberapa ”mantra” yang selalu menjadi penyemangat Alif Fikri dan kawan-kawannya, patut disimak ;

  • Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan.
  • Ballighul anni walau aayah. Sampaikanlah sesuatu, walau hanya sepotong ayat.
  • Kullukum ra’in wakullukum masulun an raiyatihi. Setiap orang adalah pemimpin, tidak peduli siapapun, paling tidak untuk diri sendiri.
  • Saajtahidu fauqa mustawa al akhar. Berjuanglah dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukn orang lain.
  • Man jaddwa wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Yang terakhir adalah kata ajaib yang menjadi alur utama cerita di novel ini.

Iklan

Aksi

Information

35 responses

17 02 2010
kedai opini

Pertamaxxx…….

Memang kreatifitas anak negeri sudah mulai terasah dengan banyaknya novel-novel yang isinya berbobot, memberikan suguhan kepada masyarakat tentang semangat hidup. Khususnya terkait dengan modernisasi para santri dalam berpola pikir tidak hanya sekedar kekolotan dalam pola pikir mereka, namun santri yang memiliki wawasan luas dalam memandang suatu kondisi kehidupan dan masa depannya. mantabs….PERTAMAX…

mampir ke blog kami, link sudah kami pasang, link balik kami tunggu

17 02 2010
darahbiroe

Penulis tak lupa menyelipkan pesan untuk menjunjung tinggi apa itu makna keikhlasan. Satu kata yang sebetulnya sangat dalam maknanya. stuju banget dengan potongan kalimat ini

berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih 😀

17 02 2010
indonesiatekno

Top!!!

17 02 2010
antokoe

jadi pengin baca, beli dimana ya…?

17 02 2010
f4j4rn

Bagus kayaknya nih buku….he..he..

17 02 2010
Darin

Dari resensi ini saya jadi pengen baca juga.. hmmm

17 02 2010
wibisono

bagus kayaknya kang..

18 02 2010
RitaSusanti

Saya juga sangat terkesan dengan cerita Novel Negeri Lima Menara ini, sangat inspiratif dan motivatif, terutama bagi para sahabat yang sedang menuntut ilmu…

Mantra2 nya juga keren dan mujarab, ya iyalah lahwong itu janji ALLAH di dalam AQ.
Mantra yang kedua mungkin maksudnya: “Ballighuu anni walau aayah” ya Rif…
Terima kasih reviewnya Rif, sangat bermanfaat.

18 02 2010
nurrahman

makash atas koreksinya yah mbak rita. . segera dperbaiki 🙂

18 02 2010
Greengrinn

kebetulan saya sedang baca,. *jadi artikel ini lewat dulu, ah* komennya entar pas udah selesai baca aja 😆

18 02 2010
kucingkeren

mmmm… review nya bikin aku pengen cepetan beli bukunya… tks ya

18 02 2010
Ruang Hati

sambang konco, semoga baik baik selalu, keep posting nice info dah sukses selalu

18 02 2010
farizy

Kunjungan… dah lama ga’ walking… sibuk nyiapain PKL… (PSG)… dan TA… 😀

18 02 2010
Syafa Mulya

buku baru ya ????

19 02 2010
nurrahman18

terbitan tahun kemaren, tp masih seger 😀

18 02 2010
gendhito

dah selesai bacanya kan bro? brarti skrg bisa dipinjem nih, hehehehe…:D

19 02 2010
nurrahman18

boleh, sehari sekitar 10 ribu ongkos sewa utk temen, wekekekeke

18 02 2010
muhammad zakariah

weww,, kayaknya keren nih.. hampir mirip kah dengan laskar pelangi atw sang pemimpi? 😉

jd penasaran nih.. 😀

19 02 2010
nurrahman18

langsung beli di toko buku terdekat aajah bro 😀

19 02 2010
Nisa

yang terakhir bukan “man jadda wa jadaa” ya??

^_^ kereenn!!

19 02 2010
nurrahman18

mm, yg ditulis itu seperti apa kata buku seeh, cuma ngutip ajah 🙂

19 02 2010
Nisa

Subhanallah…. semoga bermanfaat ya ^^

19 02 2010
komiocy

wah, hobby novel juga ya rif ? SUKSES SELALU

19 02 2010
nurrahman18

lumayan Om 😀

20 02 2010
Andi

kalo saya ikut dalam cerita itu, mungkin jadi 6 menara mas, menara kudus… 😀

22 02 2010
vitri

apiikk ..

23 02 2010
Budi Mulyono

Enak juga bacanya. Di pinjemin ke temen2 sekedar memberikan gambaran bahwa lulusan pondok bisa menjadi yang terbaik. Contohnya ya sang penulis itu.

26 02 2010
Nur Amaliah

sangat tertarik…. pengen koleksi bacaan lagi nih… thanks Infonya ^_^

1 03 2010
yugioohh

wah …. memang buku ini sangat menarik …. tiap lembar bukunya selalu membuat penasaran …. dan ini cerita yang benar terjadi … subhanallah ya..

28 04 2010
ulfa

Bukunya mank keren abiz mas…
Jadi mengingatkanku waktu mengalami masa-masa itu…:(

7 09 2010
Bumi Cinta « nurrahman's blog

[…] tentang kisah seorang santri seperti ini (dan dalam novel karangan penulis lainnya, atau novel negeri lima menara) patut diapresiasi. Karena dikotomi ilmu agama dan ilmu umum selama ini tak dipungkiri telah cukup […]

14 09 2010
DEWI

Subhanallah………kisah dlm novel ini, sangat menarik & berkesan. Bahkan bisa menjadi motivasi. Seakan-akan kita pun ikut terlibat dlm peristiwa itu. wih…….keren………

11 02 2011
Ranah 3 Warna « nurrahman's blog

[…] novel kedua kelanjutan dari novel Negeri 5 Menara karya lulusan pondok Gontor Ponorogo yang bernama A. Fuadi. Rilis 23 Januari 2011, pernebit […]

17 12 2011
Kebahagiaan | Arif's Blog | Kumpulan Hobi

[…] Mensyukuri apapun yang kita miliki sekarang, yang baik dan buruk, adalah cara yang tepat untuk jujur bahwasanya kita tidak akan selalu mendapatkan semua yang kita inginkan. Padahal yang kita butuhkan dan inginkan itu sumber kesuksesan kita yang kemudian akan membuat bahagia. Oleh karena itu, bersyukur adalah kunci kebahagiaan. Bersyukur bukan diam hanya berdoa saja. Tapi seperti apa yang tertuang dalam buku Ranah 3 Warna sebagai satu “mantra” yang dijadikan sebagai sebuah tema, kelanjutan dari Man Jadda Wa Jadda (novel pertama : Negeri 5 Menara). […]

26 06 2012
Trilogi Novel Dahlan Iskan | Arif's Blog | Kumpulan Hobi

[…] Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur yang berhasil mewujudkan mimpi menggapai jendela dunia. Novel Negeri 5 Menara (2009) diterbitkan oleh Gramedia. Dan beberapa bulan lalu telah diangkat di layar lebar […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: