Mencegah Plagiat

22 04 2010

Belum lama ini, sebuah kampus ternama di bandung sedikit menjadi buah bibir lagi. Bukan karena namanya yang melegenda menjadi mantan kampus Bung Karno atau segudang prestasi membanggakan lainnya. Melainkan karena sebuah kasus plagiat yang membawa beberapa nama para pengajarnya. Dan menurut beberapa pakar serta aktivis akademis, sebetulnya fenomena plagiat di kalangan kampus bukan hal baru. Artinya kejadian di kampus bandung tersebut hanyalah sebuah sentilan kecil. Kasus lain yang tidak tercium media dan hanya menjadi rumor yang penyelesaiannya hanya di tingkat internal kampus masih banyak.

Mengapa bisa terjadi demikian? Alasan klise pandangan umum masyarakat bisa jadi mengarah ke sebuah ironi di mana perhatian seluruh komponen bangsa, baik pemerintah, swasta dan lainnya terhadap aspek pendidikan masihlah minim. Bukti sederhananya adalah anggaran dana dan gaji para pendidik. Lalu ada yang mengembangkan alasan lain yang lebih ilmiah dan tentu lebih berdasarkan pengalaman. Yakni mengenai masih minim dan kurangnya perhatian terhadap pemahaman dan definisi ”plagiat” di tingkat kampus atau perguruan tinggi. Misalnya ketika mata kuliah metodologi penelitian, yang notabene seharusnya diajarkan di setiap jurusan apapun dan diusahakan sedini mungkin diperkenalkan kepada mahasiswa, maka hal itu tidak banyak dilakukan oleh kalangan kampus.

Definisi plagiat dan seberapa jauh sebuah penelitian dikatakan plagiat juga jarang diajarkan. Bahkan pada buku panduan tugas akhir atau penelitian, masih jarang disebut dan disinggung tentang larangan plagiat. Mungkin karena pihak penentu kebijakan kampus bersikap prasangka baik bahwa akademisi kampus tak mungkin berperilaku curang. Tapi nyatanya, hal itu terjadi. Kekhawatiran jangka panjang, jangan sampai seperti kasus-kasus korupsi. Yang berulang dengan jangka waktu bulanan, bahkan mingguan dan rutin secara harian muncul kasus baru di media. Sehingga orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan getol. Pendidikan ”anti-korupsi” diajarkan sedini mungkin. Bahkan semenjak sekolah dasar, dengan contoh membuat kantin kejujuran. Jangan sampai analogi ini membawa sebuah usulan untuk membuat mata kuliah berjudul ”anti-plagiat”. Terlalu naif.

Ketika berlangsung sebuah penelitian di kampus, yang mana melibatkan kedua belah pihak. Yakni pengajar dan mahasiswa. Selalu ditekankan yang namanya ”state of the art”. Atau bagaimana sebuah penelitian itu dilakukan dengan melakukan penelusuran penelitian-penelitian dengan tema serupa agar tidak terjadi duplikasi ide, sehingga output penelitian adalah sesuatu yang terbaharukan. Minimal bagi tempat studi kasus dimana penelitian tersebut berlangsung. Ada dua kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan proses pencarian atau eksplorasi studi literatur atau studi pustakanya. Sehingga terjadi celah atau kecerobohan baik disengaja ataupun tidak disengaja sehingga terjadi plagiat.

Pertama, ada pihak mahasiswa yang memang sangat kompeten sehingga terkadang pihak pengajar lengah dan terlalu mengabaikan untuk mengecek studi literatur. Kedua, pihak pengajar atau pembimbing yang selalu aktif karena mempunyai kepentingan terhadap penelitian yang dilakukan sehingga pihak mahasiswa cenderung kurang aktif dan mengiyakan apa saja yang dikatakan dan diperintah oleh pihak pengajar. Ketiga, kemungkinan yang paling buruk terjadi. Pihak pengajar atau pembimbing kurang kompeten terhadap materi penelitian. Sehingga entah mahasiswanya rajin atau tidak, kemungkinan kurang teliti dan kurang hati-hati akan menjerumuskan kepada keterulangan dan bahkan penjiplakan sebuah penelitian. Jadi, memang kedua belah pihak seharusnya bekerjasama. Hanya aktif salah satu pihak saja bukan menjamin keteledoran yang menjerumuskan ke plagiat

Tapi memang sekadar hipotesis kemungkinan di atas masih hanya pandangan subjektif saja. Sebab seperti telah disinggung pula, bahwa secara definitif, istilah plagiat di dunia kampus belum terpatrikan betul secara pemahaman di telinga setiap mahasiswa dan para civitas akademia pada umumnya. Karena tingkat kesulitan dan ketentuan sebuah penelitian di jenjang pendidikan kampus berbeda. Mulai dari D3, S1, S2, S3 ataupun penelitian ilmiah lainnya.

Dan sebetulnya pihak penguasa, dalam hal ini pemerintah melalui dikti tidak tinggal diam. Sebuah web mesin pencari judul penelitian dan isinya telah diluncurkan. Bernama Garuda, garda rujukan digital. Tapi belum banyak insan kampus yang tau hal itu, apalagi koleksi database dan tampilannya yang masih perlu diperbaiki. Dalam hal pemasaran, mungkin tim pemegang kuasa web tersebut perlu belajar manajemen atau strategi pemasaran. Integrasi perpustakaan antar kampus untuk mengakomodasi kepentingan pencarian literatur juga telah digembor-gemborkan beberapa tahun lalu. Langganan jurnal baik dalam dan luar negri telah banyak ditempuh oleh kampus-kampus. Tapi apa mau dinyana, nasi telah menjadi bubur. Lebih baik dimakan saja. Habis. Dan nasi yang belum dan sedang mengalami proses pemasakan harus dikawal dan diawasi semua pihak. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Iklan

Aksi

Information

29 responses

22 04 2010
aditkus

skripsi saya replikasi dengan sedikit tambahan variabel, seharunya di penelitian tersebut dicantumkan bila memang ada penelitian terdahulu agar tidak menimbulkan kontroversi

22 04 2010
risal's blog

blognya bagus dan artikelnya berbobot…..salam sukses selalu…. risal’s blog

22 04 2010
ladyulia

hm,,,
semoga itu untuk yang terakhir kalinya,,,,
btw
link nya udah yulia pasang di blog
di tungggu ya link baliknya’
thx^^

xoxo
YULIA RAHMAWATI
Get Up,Survive, Go Back To The Bed

24 04 2010
nurrahman18

saya juga sudah pasang 😀

23 04 2010
ok

saya denger berita itu, miris rasanya apalagi yg melakukannya adalah seorang pendidik yg terpelajar hmmmpppphhh…smoga ga terulang lagi

24 04 2010
vikhi

rumor ini emang sedang ramai dikalangan pendidik, khususnya di sebuah kampus ternama yg beberapa doktornya diduga melakukan plagiatisme..

23 04 2010
samto

siiip…mumpung saya lg proses skripsi.he2..
berguna nih bagi saya..

23 04 2010
Kang Romly

nah tuh…mo tnya ni klo kita ambil sumber nya dengan cara edit dg cara tulisan kita apa juga plagiat tuh mas….
tukeran Link ya Mas…
di tunggu infonya di http://www.go-nrc.co.cc/
ato di sini juga bisa
http://kang-romly.blogspot.com/
maksih

23 04 2010
nurrahman18

selagi substansinya masih sama seharusnya tidak masalah jika hanya menjadi studi literatur dgn tetap mencantumkan sumbernya 🙂

23 04 2010
deekkyy

salam kenal..
kunjungan pertama

23 04 2010
Goda-Gado

terkadang susah membedakan antara plagiat dengan memodifikasi..
bagiku: plagiat adalah mengambil karya org lain dengan mengatasnamakan dirinya…

dunia akademisi memang rentan terhadap plagiarisme. Apakah plagiarisme jg bagian dr kreativitas?

24 04 2010
nurrahman18

bukan, justru sebaliknya

23 04 2010
adhit

pantesan gk maju2 😀

23 04 2010
Tweets that mention Mencegah Plagiat « nurrahman -- Topsy.com

[…] This post was mentioned on Twitter by Nurrahman . Nurrahman said: mencegah plagiat; http://bit.ly/8YJmwz […]

23 04 2010
Asop

Yap. Saya ikut malu juga atas kejadian plagiarisme ini. 😦
Mana yang melakukannya di program doktoral lagi…. 😐

23 04 2010
Kang Romly

mas link dah d ipasang …d tunggu Link Baliknya ya…
Belajar Komputer dan Internet
Url : http://www.go-nrc.co.cc
maksih ya…

23 04 2010
nurrahman18

yoi,sama2 😀

24 04 2010
hakim

no comment,mampir aja

24 04 2010
suzannita

duh negeri ini emang identik dengan budaya satu ini

24 04 2010
Afif logicprobe10

setuju, semuanya karena ingin prktis, tapi bukan berarti harus plugiat.. 🙂

26 04 2010
greengrinn

wah ini artikel nya menarik banget ini. sebagai akademisi aktif, walaupun bukan dari perguruan tinggi yang itu, saya juga malu itu (doh)ah, saya baru tau itu ada “state of the art”. thanx ya infonya. berguna.

27 04 2010
chugy

Mw bilang apa Sudah jadi kbiasaan jadi ketagihan…. !!!
Good Post and good Blog Bozz thanks.
Kyanya dah banyak makan asam garam ni yang bikin postingan top lah artiklenya.hahaaaaa.
lams knal ni dari chugy. Tukeran link boz y. Link si boz dah di pasang ni di blog chugygogog.blogspot.com silahkan di cek.

28 04 2010
Elsatria Music

inget dulu waktu di bangku sekolah. 2 anak mengerjakan tugas, yang lain copas. mungkin disitu awalnya, secara perlahan hal itu membunuh kreatifitas

30 04 2010
BaNi MusTajaB

jangan sampai plagiat mewabah di kampus-kampus. Apalagi jika dilakukan para pengajarnya. sungguh hal yang memalukan.

24 05 2010
cara mengatur keuangan

Memang susah atuh mas membasmi plagiat,.. udah membudaya kale y,..

1 05 2011
Solusi Kegagalan Inovasi « nurrahman's blog

[…] lokal supaya bisa dipahami dengan mudah oleh khalayak umum. Hal ini juga bisa bermanfaat untuk mencegah plagiat dan mengurangi ironi berita penelitian. Dimana sebuah berita penelitian tidak sedemikian dipahami […]

9 09 2012
jack

maaf mau tanya,,,apakah meneliti hal yg sama namun beda objek dan lokasi juga termasuk plagiat?

9 09 2012
nurrahman

tidak

22 11 2012
gozali rahman

mau nanya juga mas, mohon bantuannya saya masih belum jelas, kalau penelitian yang sama obyeknya namun lokasinya berbeda apakah juga disebut plagiat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: