Ironi Berita Penelitian

1 05 2010

Terkadang hasil riset atau penelitian baik di sebuah institusi pendidikan maupun lembaga lainnya menjadi sebuah berita di media masa. Baik cetak maupun elektronik. Penelitian tersebut dapat berupa penelitian kuantitatif ataupun kualitatif. Bisa berupa penemuan / inovasi sebuah peralatan baru layaknya robot, pemecahan rumus kalkulus algoritma yang rumit, hingga penelitian kualitatif yang melibatkan survei dan kuisioner. Penelitian kualitatif memang bisa berdampak cukup besar. Dalam artian bisa mempengaruhi persepsi atau paradigma masyarakat secara luas mengenai sebuah hal. Misalnya ketika survei calon pemimpin negara yang disukai oleh masyarakat.

Jika kedua belah pihak, yakni si pembuat berita dan masyarakat penikmat berita tidak memahami betul esensi dari penelitian tersebut, maka tak jarang salah persepsi dan isu ‘mengalihkan perhatian’ terjadi. Jadi, dalam penyampian berita seperti itu sudah selayaknya harus disampaikan secara proporsonal. Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan pembaca ketika menikmati sebuah berita mengenai penelitian kualitatif. Agar nantinya pembaca dapat menilai sendiri dengan bijak apa manfaat berita tersebut tanpa harus ‘menuruti’ uraian seperti apa yang dituliskan dalam berita. Yakni mengenai sampel, metode dan waktu, hasil dan relevansinya terhadap kondisi yang ada saat ini. Sampel juga berkaitan dengan darimana atau lokasi serta jumlahnya. Sedangkan metode tidak harus diartikan sebagai langkah-langkah detail secara ilmiah, tetapi paling tidak menggambarkan alur dan waktunya agar dapat dengan mudah dipahami masyarakat secara umum. Sedangkan relevansi berpengaruh pada isu-isu hangat yang sedang terjadi.

Baca Lagi Ah!