Ditilang

18 05 2010

Gunungpati, Semarang. Siang hari itu suasana jalan lengang. Ketika seorang pengendara sepeda motor melintasi jalan, sejurus kemudian seorang aparat penegak hukum lalu lintas mengejarnya. Lalu keduanya berhenti di pinggir jalan. Pengendara sepeda motor adalah seorang kakek yang sudah cukup berumur, tetapi masih terlihat cukup bugar. Dengan postur tubuhnya yang kurus dan kulit berwarna gelap agak keriput.

Lalu si kakek dibawa ke pos penjaga terdekat. Dan terjadilah dialog dimana aparat penegak hukum tersebut menilai bahwa si kakek itu melanggar marka jalan. Marka jalan garis putih tanpa putus-putus di tengah jalan dilanggar karena akan menyalip kendaraan di depannya. Mungkin si kakek itu tergesa-gesa. Singkat cerita, terjadi percakapan sederhana.

Aparat : ”Panjenengan badhe tindak pundi tho?” (Mau pergi kemana Pak?)

Kakek :  ”Badhe tilik putu.” (Mau menengok cucu)

Aparat : ”Panjenengan niku salah pak. Nglanggar marka. Mesti ditilang”. (Anda bersalah pak. Melanggar marka. Harus ditilang)

Seraya menulis sebuah form dan menyebutkan sejumlah nominal yang harus dibayarkan si kakek agar urusan tidak berkepanjangan.

Baca Lagi Ah!