Kamera Tercanggih

13 06 2010

Ketika matahari dengan malu hendak pergi ke ufuk barat, dua orang sejoli sedang mencoba menikmatinya di sebuah jembatan kota. Keduanya memandang keindahan langit senja, dan berbincang sejenak. “Sungguh indah ya warnaynya”, kata lelaki itu. “Ah biasa aja kok”, perempuan itu menjawab dengan nada datar. Keduanya diam, entah apa yang dipikirkan. “Perasaan sama aja deh, pemandangan hari ini dan kemarin. Kemarin kita juga memandang langit dari sini dengan kedua mata kita”, perempuan itu mencoba memecah suasana diam. Tapi kini dengan wajah yang semakin cemberut. “Iya sama. Tapi yang membuat beda adalah suasana hati kita. Mata kita adalah kamera tercanggih. Lebih canggih dari kamera DLSR sekalipun. Kalau seseorang memandang indahnya senja sore ini dengan hambar, mungkin hatinya sedang tertutupi oleh selimut kegundahan, kecemasan atau sedang sedih”, lelaki itu menimpali. Sambil tersenyum.

Mata manusia mengajarkan untuk selalu mensyukuri segala keindahan. Tapi yang terlebih dahulu harus bersyukur adalah hati. Sehingga mata bisa menangkap sesuatu dengan semestinya, pandangan yang baik dan menghindari yang tidak seharusnya dipandang. Karena yang tidak seharusnya dipandang itu akan mengotori hati. Demikian seterusnya, alur itu menjalankan siklusnya secara alami. Kebersihan hati akan membuat pandangan mata lebih jernih dan lebih mudah mensyukuri. Begitu juga sebaliknya jika lebih sering memandang yang tidak semestinya maka hati lebih banyak diisi dengan kegundahan, kecemasan dan semacamnya. Sebagian orang juga mengatakan kalau mata adalah jendela jiwa. Cerminan apa isi hati dan pengalaman hidup. Karena itu ketika berbicara dengan orang lain, pandanglah matanya. Maka akan terlihat seperti apa pengalaman jiwanya dalam mengarungi hidup ini.