Arumdalu

16 08 2010

Arumdalu adalah nama tambahan bagi Raden Ayu Danti. Arumdalu, nama jawa untuk bunga sedap malam, menjadi nama yang melekatinya lantaran kesukaannya menyuntingkan bunga itu di rambutnya. Siapakah sebenarnya Arumdalu? Bagi yang sudah pernah membaca Pangeran Glonggong hendaknya sudah pernah mendengar nama tersebut. Tak lain dia adalah kakak perempuan dari Pangeran Glonggong, yang sudah lama dicarinya. Ini memang kisah kelanjutannya, tetapi tetap bisa dibaca sebagai cerita tersendiri. Kisah Arumdalu, mungkin tergolong fiksi sejarah. Berlatar tempat di Salatiga ketika perang Diponegoro meletus, dituturkan oleh pengawal Danti Arumdalu yang bernama Ki brontok. Ki Brontok sebenarnya bernama asli Den Brata. Tetapi karena cintanya bertepuk sebelah tangan terhadap Danti Arumdalu, maka dia terjebak pada kehidupan malima yang sangat runyam. Sehingga boleh dibilang secara tersirat penulis juga hendak menyampaikan pesan bahwa bercerminlah wahai anak muda jika sedang jatuh cinta terhadap wanita, karena jangan sampai tergila-gila yang akan berakibat tindakan di luar nalar yang sungguh merugikan. Oleh karena itu ikatlah tali cinta dengan lawan jenis dalam sebuah ikatan resmi pernikahan, jangan mendahuluinya. Raden Ayu Danti, semula adalah wanita cantik dengan kedudukan terhormat, tapi akhirnya justru terkenal dengan sosok pelacur kelas tinggi simpanan para bangsawan.

Kisah Arumdalu memang senafas dengan kisah Pangeran Glonggong, yakni kisah sisi lain perang Diponegoro. Adapun mengenai bagaimana perang Diponegoro meletus, lebih banyak diceriterakan penulis di bagian akhir. Tentang sedikit perbedaan pendapat mengenai arti perang melawan penjajah Belanda antara Pangeran Diponegoro (Sultan Ngabdulkamid) dengan Kyai Maja, hingga berujung tertangkapnya kedua tokoh tersebut dan diasingkan di penjara yang terletak di Selebes. Penulis seolah membuka pengetahuan sejarah mengenai kehidupan sosial dan agama pada saat jaman itu. Tentang bagaimana sebuah agama dipahami sebagai ageming aji, semua kembali ke tubuhnya bukan busananya. Juga tentang ketimpangan sosial dan dunia pesundalan. Atau itu mungkin juga bisa diartikan sebagai sebuah ironi yang masih saja terjadi hingga kini di negri yang katanya sudah merdeka ini. Penulis tidak banyak membuat teka-teki atau penceritaan adegan persilatan seperti kisah-kisah jaman kerajaan karangan SH. Mintardja atau Langit Kresna H. Ceritanya mengalir saja membuat mudah dibaca dengan santai. Penulis adalah Juanedi Setiyono; Tebal 378 halaman; Penerbit Serambi Jakarta cetakan 1 Mei 2010; harga diskon Togamas Jogja Rp.31.200.