Filosofi Pendidikan

19 08 2010

Sore, di kampus diadakan majlis taklim guna mengisi waktu menjelang berbuka puasa ramadhan 1431 H. Seorang ustadz yang juga guru besar di kampus itu menjadi pembicara. Dia adalah salah satu pakar atau ahli pendidikan yang cukup tersohor di kota itu, begitu katanya. Seorang mahasiswi bertanya, “Suara sumbang terhadap ketidakpuasan kualitas pendidikan di negri ini masih saja ada Pak, terkadang begitu mendera. Menurut Bapak, apakah yang kurang dari pendidikan di negara kita ini? Khususnya pendidikan dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas?” Lalu guru besar tersebut menjawab.

“Sesungguhnya ada empat unsur atau komponen dari makna atau filosofi sebuah pendidikan. Logika yang didominasi otak kiri, seni budaya yang terletak di otak kanan, olahraga fisik, dan spiritual agar tau untuk apa hidup ini. Sayangnya hal-hal tersebut tidak dipahami oleh banyak penyelenggara pendidikan. Cenderung titik beratnya adalah logika otak kiri. Maka salah satu indikasi ketimpangan tersebut yakni pemahaman yang salah. Misalnya dikatakan jika jurusan yang unggul di sma adalah ipa, itu keliru. Tidak tepat pandangan membandingkan satu sama lain lali menilainya lebih baik atau buruk, karena itu berdasarkan bakat dan selera. Lalu para orang tua juga kurang suka untuk mengikutkan anaknya agar mengikuti ekstrakurikuler semacam teater, olahraga, berorganisasi, melukis dan bidang seni yang lain. Malahan terkadang terlalu di-push untuk giat les atau kursus mata pelajaran. Pendidikan olahraga dan kesehatan fisik itu penting untuk membuat seseorang kuat ditempa dalam kondisi apapun. Salah satu bukti bahwa pendidikan kita masih menngabaikan hal tersebut adalah tak jarang jika kini penyakit-penyakit orang tua menghinggapi orang-orang yang masih cukup muda. Hal itu lantaran salah satunya pendidikan belum cukup menghasilkan pemahaman agar olahraga rutin dan sehat makan. Olahraga rutin hanya sebatas rutinitas siswa didik di sekolah, di luar itu atau jika sudah lulus, maka lebih banyak dikesampingkan. Dan sesungguhnya, pusat dari keempat komponen itu adalah kecerdasan spiritual. Jadi jangan sampai ketika seseorang sudah berada pada kondisi di masa tua atau uzur, baru mengenal arti ibadah kepada Tuhan. Itu memang lebih baik daripada tidak mengimani Tuhan hingga akhir hayat. Tapi itu bukan tujuan hakikinya. Keempat komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dan memang perlu strategi yang matang agar keempatnya dipahami dengan seksama dan selaras. Bukan meniadakan satu sama lain”.

Iklan

Aksi

Information

14 responses

19 08 2010
Goda-Gado

hmm,, semoga kelak jika jd orangtua,
aq bisa lebih bs mengimplementsikan jawaban Guru Beasar itu
it sounds right

19 08 2010
Adi

bacaan yang perlu buat saya…
Apalagi aku terlibat di dunia pendidikan…

19 08 2010
blogger gurem

mampir bang ngabuburit di bulan puasa ini

19 08 2010
bangauputih

tulisannya bagus sekali mas, penting dibaca oleh para tenaga pendidik. utamanya orangtua yang merupakan pendidik pertama bagi seorang anak…
makasih 🙂

19 08 2010
ladyulia

saya setuju banget sama pendapat guru besar itu
terutama mengenai hubungan antara ilmu dan agama
ilmu tanpa agama atau sebaliknya sama dengan nol 😀

20 08 2010
Budi Mulyono on Blog Keluarga

Keempat filosofi harus seimbang ya mas??? Supaya gak timpang…

20 08 2010
iLLa

hihi.. terus terang orang tua saya juga dulu agak menekankan untuk masuk IPA waktu SMA, seolah2 itu adalah standar kelas untuk anak2 pintar.
untuk seni dan lain2nya, sepertinya memang saya lebih banyak belajar sendiri. orang tua kurang menyalurkan pendidikan di bidang itu. tapi sy tetap bersyukur, apa yg tidak sy dapatkan dari orang tua, dan ternyata dirasa perlu, insya Alloh ini menjadi bahan pelajaran ketika sy menjadi orang tua juga, kelak
Amiinn 😀

20 08 2010
komiocy

Ternyata titik berat pendidikan itu membutuhkan keseimbangan.Kalau titik berat itu tidak dijaga, akibatnya terjadilah ketidak seimbangan yang bisa menyebabkan keruntuhan.
Nyambung nggak ya dengan materi di atas? 😀

20 08 2010
nurrahman18

klo ga nyambung, ntar saya carikan tali rafia dulu Om 😀

20 08 2010
ysalma

benar kata sang guru besar tuh Nur,, saya termasuk hasil salah jurusan kayaknya 😉

20 08 2010
nurrahman18

ya ya ya,terkadang di sma dulu entah mengapa satu jurusan dan yg lain (ipa,ips,bahasa,dll) terdikotomi dan dianggap ada yg paling baik secara mentah2,bahkan oleh para guru. selepas kuliah mata saya baru terbuka lebar bahwa ada yg kurang tepat selama ini

22 08 2010
nurrahman18

bakat dan minat itu penting juga,otak kanan 🙂

20 08 2010
ulan

saya setuju untuk di selaraskan

14 10 2010
Quantum Ikhlas « nurrahman's blog

[…] 4; “sesungguhnya telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yg sebaik-baiknya”. Sempurna dengan 4 kecerdasannya; kecerdasan fisikal, intelektual, emosional dan spiritual (PQ, IQ, EQ, SQ). Buku ini ringan gaya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: