Dwilogi Padang Bulan

25 08 2010

Jawaban dari ketidakpuasan penggemar karya Andrea Hirata ketika selesai membaca Maryamah Karpov adalah dengan dwilogi novel ini. Dwilogi dalam satu buku, bolak-balik setebal 500-an halamanterbitan Bentang Pustaka Yogyakarta Juni 2010. Tertulis dengan khas bahasa melayu untuk melanjutkan cerita picisan mengenai perjalanan Ikal yang bertepuk sebelah tangan demi cinta seorang bernama A Ling. Agar tidak membosankan, maka ditambahlah mengenai perjalanan hidup seorang bernama Enong, yang tak lain adalah Maryamah Karpov. Tambahan nama Karpov karena dia adalah pecatur wanita pertama di Belitong yang menggunakan strategi Anatoly Karpov dan berhasil mengalahkan pecatur laki-laki (seperti Rezim Matarom, mantan suaminya) dengan bantuan guru online seorang Grandmaster perempuan teman Ikal sewaktu kuliah di Prancis yang bernama Ninochka Stronovsky. Enong juga adalah penambang timah wanita pertama, begitu katanya. Dengan segala keterbatasannya, dia tanpa henti berusaha sekuat tenaga menggapai mimpinya untuk mahir bahasa inggris. Dan akhirnya tercapai. Enong juga punya kisah cinta tak tersampaikan dengan seoarang teman kecil semenjak SD ketika ia harus putus sekolah yang bernama Ilham; mirip kisah cinta Ikal kepada A Ling yang akhirnya berdamai dengan Sang Ayah. Simbolis itu diutarakan Ikal dengan sebuah puisi untuk A Ling yang diberikan ketika hari di pesta pernikahannya dengan pemuda tampan bernama Zinar. Sebuah puisi berjudul “ada komidi putar di padang bulan”. Maka mungkin itulah alasan buku pertama dwilogi ini berjudul Padang Bulan. Dan mengapa buku kedua diberi tajuk Cinta di Dalam Gelas? Sepertinya mengambil falsafah inti cerita, yakni tentang kegemaran penduduk Belitong dalam hal menikmati kopi. Kopi itu adalah cinta di dalam gelas. Segenap cerita tentang cara minum kopi dan pertandingan catur begitu kental. Kumpulan orang-orang lucu dan aneh selalu bisa menjadi penyegar cerita, seperti detektif M. Nur dan burung bernama Joze Rizal, hingga penyakit gila nomer sekian.

Baca Lagi Ah!