Happiness Economics

2 10 2010

Negara Indonesia sudah cukup terkenal berpredikat sebagai negara dengan ekonomi sedang berkembang. Terkadang berkembang baik, tapi tak jarang buruk. Juga terpengaruh oleh iklim ekonomi global karena krisis, teroris, dan seterusnya. Predikat itu mungkin juga tidak hanya berlaku bagi Indonesia, beberapa negara lain pun sama. Dan karena itulah sudah sewajarnya jika kemudian negara-negara berpredikat ekonomi maju menjadi acuan. Maksudnya adalah terkadang juga secara berlebihan dianut dalam hampir segala hal. Budaya mereka lebih baik, etos kerja lebih baik, perawatan lingkungan lebih baik dan seterusnya. Padahal di sisi lain juga diakui bahwa bangsa ini sesungguhnya menganut banyak nilai-nilai luhur maupun kekayaan budaya sosial yang juga baik. Tapi tak jarang karena atas nama ekonomi kemudian hal itu pelan-pelan luntur. Atau memang tidak dilaksanakan dengan baik.

Hal yang berbau dengan ekonomi adalah kekayaan, pendidikan, kepercayaan diri dan bahkan bisa menjadi sebuah nilai tertinggi yang dianut oleh seseorang. Pembagian kasta sosial kini juga terkadang masih menggunakan nilai atau aspek ekonomi sebagai acuan dasar. Kalau jaman dahulu ada kasta ulama, bangsawan, pekerja, budak dan seterusnya; maka kini tersirat ada kasta kaya dan miskin. Apapun profesi mereka. Yang miskin ingin menikmati menjadi kaya dengan menggapai kebahagiaan itu karena dasar ekonomi. Bahasa mudahnya uang. Uang yang dibelikan sesuatu benda yang akan menjadi simbol agar disebut kaya. Dan kekayaan pun bisa menjadi dewa kebahagiaan. Membeli sepeda motor agar dibilang orang kaya padahal belum begitu membutuhkan dan kredit pun kadang tak lancar. Handphone baru yang berbentuk tambun dan bertipe qwerty dibeli oleh mereka yang sebenarnya tak mampu dan belum membutuhkan agar mirip orang-orang kaya, dan seterusnya. Padahal kebutuhan pendidikan dan gizi anak bisa menjadi jauh lebih penting daripada hal-hal itu. Kalau ekonomi ukurannya uang untuk kekayaan sebagai hal utama kebahagiaan memang bisa menjungkirbalikkan.


Aksi

Information

6 responses

2 10 2010
Eko Madjid

kenyataan sekarang memang seperti itu.
Orang kaya lebih dihargai daripada orang miskin. Uang dikultuskan guna memperoleh segalanya…

2 10 2010
Asop

Wah, ‘ekonomi kebahagiaan’..😀 Dari judulnya cukup menyenangkan ya…😳

4 10 2010
nurrahman18

yup,ada keterkaitan antara ekonomi dan psikologi,tentu🙂

5 10 2011
nurrahman

klo ingin lbh jelas, ingat2 teori maslow, kebanyakan di piramida bawah memang memperoleh kebahagiaan dgn menunjukkan materi semata karna juga pengaruh pendidikan. setelah itu meningkat, menjadi aktualisasi diri bukan cuma sekadar ingin show-off dan seterusnya🙂

1 05 2011
Solusi Kegagalan Inovasi « nurrahman's blog

[…] berhasil. Karena setiap kasus mempunyai kebutuhan dan kondisi yang berbeda. Latah teknologi dan happines economics lebih sering terjadi ketika tidak terjadi titik temu yang baik antara kebutuhan dan tujuan […]

16 10 2011
Es Krim Magnum « nurrahman's blog

[…] BB beberapa tahun lalu. Karena di Indonesia memang penduduknya banyak, dan masih banyak yang hanya happines economics. Kesehatan juga perlu dijaga lho, dengan pencegahan lebih […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: