Industrialisasi BBM

9 12 2010

Di negri yang katanya melimpah minyak bumi ini, rakyat harus membeli minyak dengan harga cukup mahal. Karena harga minyak atau BBM memang sesuai dengan harga internasional. Padahal keadaan nilai rupiah kan tidak seperti dahulu sebelum reformasi; paling tidak. Alhasil, harga BBM bagi rakyat dari tahun ke tahun melambung naik dengan dalih dari pemerintah karena begitulah harga minyak internasional dan keadaan ekonomi Indonesia. Masa sih? Entahlah, lalu untuk menutupi itu semua, dikeluarkanlah jurus pamungkas yakni “subsidi”. Hemm, bagi rakyat yang hanya mengerti bahwa negri ini kaya akan sumber daya alam akan terdenger lucu pertama kali. Maksudnya, rakyat di negri yang melimpah minyak bumi ini harus “membeli” BBM dengan mahal. Sudah berapa lama kata “subsidi” itu membohongi rakyat, pun juga tak tahu. Barangkali sebelum era 98 pun sudah. Entahlah, siapa yang bodoh dalam hitung-hitungan juga tak tahu. Pihak penguasa yang sengaja mempermainkan atau memang tidak tahu, atau rakyat nya yang bodoh tidak memahami apa itu subsidi.

Yang jelas, jikalau benar januari 2011 nanti BBM subsidi sejenis premium dan kawan-kawan dibatasi, maka yang akan kebanjiran order ya jelas SPBU dari asing. Barangkali seperti milik shell, petronas, chevron, dan lain-lain. Kalau kemudian Pertamina (pemerintah) berdalih bahwa rakyat akan tetap loyal pada SPBU pemerintah, tunggu dulu. Mbok ya dipikir ulang pernyataan itu. Sejak kapan kinerja pelayanan publik pemerintah secara umum dipandang “lebih baik” oleh masyarakat secara umum? Bikin NPWP di kantor pajak di daerah; mbak-mbak atau mas-mas yang melayani pasti lebih tidak murah senyum, ketimbang menabung uang hanya puluhan atau ratusan ribu rupiah dengan dilayani oleh Cs atau teller sebuah bank swasta. Jadi siapkan semenjak sekarang, strategi bagaimana memperoleh BBM murah. Beli premium pake bus mini lah, atau beli mobil bernomor mesin lama, dan seterusnya. Atau siap-siap untuk membeli pertamaxx di SPBU milik Shell. Yang jelas, minyak bumi di negri ini memang sudah menjelang semakin didikte oleh asing. Mau diliberalisasi, begitu kata orang-orang penting sana bahasa kerennya. Jadi siapa yang punya modal banyak, dialah yang untung lebih banyak dengan “melindas” yang punya modal kecil dan dengan “melobi dan menjilat” para penguasa pun jangan lupa dengan sawerannya.