Numpang Hidup

26 12 2010

Ada yang tidak sepakat kalau sebetulnya manusia hanya numpang hidup di bumi kepada hewan dan tumbuhan? Bayangkan saja seperti ini; jikalau seorang manusia dilepas di lahan luas tanpa ada satupun hewan dan tumbuhan, apakah manusia tersebut bisa bertahan hidup? Sepertinya tidak. Lain dengan jikalau lahan luas tersebut tumbuh-tumbuhan dan hewan dibiarkan hidup bebas dan alami tanpa satu pun manusia. Alhasil lahan itu akan tumbuh subur dan menjadi hutan belantara paru-paru dunia. Apa yang menempel dan menjadi sumber kehidupan manusia pun sebetulnya bahan dasarnya adalah tumbuhan dan hewan. Baju, makanan, hingga hal lainnya yang tak terhitung.

Tapi sayangnya, masih banyak yang sudah terlanjur dan terlalu antroposentris. Paham bahwa manusia adalah makhluk superior di muka bumi. Kadang berlindung di balik sebuah fitrah bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Lalu bisa lalai atau sengaja sewenang-senang. Membuat gedung bertingkat tanpa menanam pohon dan menebang pepohonan seenaknya, hingga memasang mesin pendingin massal penghasil gas efek rumah kaca. Oh tidak. Manusia banyak mengolah plastik dan bahan lainnya tanpa membuat industri daur ulang yang sepadan. Para pemegang kebijakan dan kuasa terkadang mudah terbuai oleh harta dan tahta untuk begitu mudah meruntuhkan pohon-pohon di hutan. Lalu sampah bertebaran begitu mudahnya yang merusak tanah, lalu tidak subur lagi dan pohon enggan tumbuh. Pada dasarnya manusia sejak lahir tidak punya apa-apa, pun kelak jikalau sudah saatnya umur usai. Jadi numpanglah hidup dengan bijak kepada hewan dan tumbuhan di muka bumi ini. Sayangilah mereka. Karena mereka juga sumber hidup manusia.