Kebutuhan Pokok

28 01 2011

Sedari bersekolah; bisa dikatakan semenjak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, setiap murid selalu diajari tentang apa itu kebutuhan pokok. Atau apa itu kebutuhan utama alias primer. Setelah itu baru dijelaskan tentang kebutuhan sekunder dan tersier. Lalu, seiring waktu berjalan, terkadang kebutuhan itu bergeser. Maksudnya, yang dulu bergenre kebutuhan sekunder bergeser menjadi kebutuhan primer. Misalnya, kini yang namanya handphone atau telepon genggam bisa jadi secara umum sudah hendak menginjak menjadi kebutuhan primer. Lalu contoh lainnya seperti internet; bisa telah naik kelas dari kebutuhan tersier atau mewah, menjadi kebutuhan sekunder. Tetapi, jarang yang berperilaku sebaliknya atau turun kelas. Barangkali itu adalah efek semakin majunya peradaban manusia? Mungkin saja.

Berbicara tentang kebutuhan primer; disepakati dan ditanamkan pada para murid di sekolah bahwa mereka adalah pangan, sandang dan papan. Makan, pakaian dan tempat tinggal. Jadi pada kenyataannya lalu tertanamlah bahwa tanpa ketiga itu, manusia tak lengkap atau tak dapat hidup; ekstrimnya. Benarkah? Barangkali logika sesaat dan akal akan mengiyakannya. Tapi terpikirkankah bagaimana cara memenuhi 3 kebutuhan primer itu? Itu sisi yang terlupakan atau sisi kritisi dari sudut pandang lain. Bagaimana cara memenuhi ketiga kebutuhan primer itu? Ketika seorang murid sudah dewasa, barangkali seumuran lulus sekolah menengah atas lalu mereka akan mencoba mulai menyadari hal itu. Atau jikalau karena kondisi yang memaksa, lalu mereka akan menemukan jawabannya itu dengan sendirinya.

Karena bisa jadi kedewasaan seseorang akan menggiring pada sebuah opini atau kesimpulan nyata. Bahwa ada yang lebih penting dari ketiga kebutuhan primer itu; pangan, sandang, papan. Bahwa cara untuk memenuhi ketiga kebutuhan itu adalah pendidikan dan pekerjaan. Jadi ketika kedewasaan dan kemandirian hidup telah ada maka akan tumbuh kesadaran bahwa dengan pendidikan yang baik maka akan memperoleh pekerjaan yang cukup. Lalu bisa memenuhi pangan sandang papan. Begitulah lalu seperti siklus. Karena sebelum kemandirian hidup belum ada, ketiga kebutuhan primer itu dicukupi oleh orang tua atau wali. Benar kan?

Pendidikan dan pekerjaan. Semoga pemahaman tentang keduanya bisa diperluas. Substansinya semoga lebih bisa ditanamkan semenjak di bangku sekolah. Pendidikan yang terlalu dipahami sempit dalam artian sekolah formal, terlalu dalam ditanamkan di benak para murid. Kan yang namanya sekolah tidak melulu di bangku sekolahan, sekolah itu pendidikan untuk menuntut ilmu. Bisa dimana saja, pun di pergaulan masyarakat dan keluarga. Tentang bagaimana mencari pekerjaan, pun sepertinya masih kurang diberikan pemahaman dengan baik di bangku sekolah. Barangkali baru menginjak kuliah, beberapa mahasiswa akan terbuka tentang bagaimana dan memang sebaiknya menciptakan pekerjaan. Lapangan kerja. Bukan melulu mencari pekerjaan adalah menjadi pekerja yang bekerja kepada pihak lain. Menciptakan pekerjaan atau jadi wiraswasta itu pekerjaan “kelas dua”. Alias gengsinya kurang. Begitu kan yang secara umum tertanam di mayoritas benak paramurid sekolah Indonesia? Barangkali itulah resiko bisnis atau wiraswasta karena jikalau ujungnya kesuksesan besar maka akan dielu-elukan, tapi ketika terpuruk terlalu diremehkan.

Iklan

Aksi

Information

5 responses

1 02 2011
Ave Taulany

yayaya.. terima kasih infonya..

1 02 2011
nurrahman18

sama-sama 🙂

2 02 2011
ysalma

begitulah Nur,, mau jualan pisang goreng aja jadi maju mundur nih,,
kapan mau jadi owner yaa..

2 02 2011
nurrahman18

wew,ternyata pengusaha pisang goreng 😀

5 11 2011
Piramida Sosial « nurrahman's blog

[…] berupa social entrepreneurship dan kepedulian terhadap pendidikan. Karena pendidikan adalah kebutuhan pokok. Kebutuhan pokok seanjutnya adalah pekerjaan. Sehingga bisa dipergunakan untuk mendapatkan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: