Uang Tips Baitul Mal

31 01 2011

Ini sebuah kisah lama. Di sebuah wilayah yang adil dan makmur. Dipimpin oleh seorang pemimpin bijaksana. Tersebutlah jika urusan keuangan negri tersebut diatur oleh sebuah lembaga bernama Baitul Mal. Ada seorang petugas Baitul Mal yang khusus mengurusi zakat umat. Suatu ketika, datanglah seorang kaya raya. Yang langsung mengantarkan seluruh kewajiban yang harus ia tunaikan. Dihitunglah oleh petugas itu dengan cermat dan teliti. Cukup lama memang. Karena cukup njelimet. Dan si kaya raya tadi harus sejenak menunggu dengan sabar. Akhirnya selesai juga. Karena cukup puas dengan kinerja petugas Baitul Mal tersebut, lalu si kaya raya memberikan sedikit uang tips. Diterimalah uang itu dengan senang hati.

Di kesempatan lain, si petugas Baitul Mal tersebut bertemu dengan pemimpin negri di sebuah rumah ibadah. Lalu dialog ringan terjadi. Si petugas itu bercerita tentang kejadian pemberian uang tips tersebut. Lalu yang terjadi justru sang pemimpin tersebut bermuka kurang senang. Segeralah ia berpidato di depan mimbar rumah ibadah tersebut. Dengan harapan didengar banyak orang. Sang pemimpin pun berujar; bahwasanya menerima uang tips dikarenakan oleh urusan pekerjaan sesungguhnya bukanlah sepenuhnya hak pribadi. Melainkan hak si pemberi tugas atau pekerjaan itu. Cobalah dibayangkan jikalau tidak ada urusan pekerjaan itu, tak mungkinlah orang lain memberikan tips. Moral atau hikmah lain adalah jika uang tips tersebut diterima, maka ada efeknya yakni bisa mempengaruhi tingkat kritisi pekerjaan tersebut. Kalau itu berkaitan dengan hitungan zakat semisal, maka uang tips tersebut bisa mempengaruhi kecermatan petugas untuk melakukan penghitungan kewajiban zakat oleh karena merasa terlalu senang dan nyaman. Jadi pemberian uang tips tersebut selayaknya dan seharusnya segera dikomunikasikan kepada pihak atasan. Karena kalau sudah terlanjur sering diterima dan terlena maka akan berpengaruh pada kinerja.