Sekolah Magister

26 02 2011

Barangkali secara umum memang benar bahwa pada kenyataan dan sistemiknya, sekolah pascasarjana atau magister di tanah air sedikit berbeda dengan pendidikan yang setingkat di negera maju macam eropa, amerika, jepang, atau singapura dan yang lainnya. Maksudnya begini, dari segi istilah saja di sana bergelar Master secara umum, yakni menjurus pada ilmu tertentu yangspesifik, ya benar-benar spesifik. Lain hal dengan sekolah magister di Indonesia secara umum yang belum seperti itu semua. Memang sudah ada yang spesifik, misalnya enginer khusus sistem informasi rumah sakit, pengelolaan sampah daur ulang dan seterusnya. Tapi yang seperti itu masih sedikit. Dan ada juga yang melakukan “penjurusan” di bagian akhir kuliah, macam seperti program sarjana saja.

Baca Lagi Ah!





Judul Berita Tanda Tanya

23 02 2011

Jadi maksudnya bukan untuk berita yang bersifat kabar burung atau masih simpang siur bahkan gosip. Ini maksudnya tentang judul berita di web online (dan bahkan media cetak atau elektronik) yang menggunakan tanda baca berupa tanda tanya (?). Tentu pernah bukan? Bahkan barangkali sering. Misalnya di web berita, forum, atau bahkan di web infotaintment. Pernah merasa kecewa setelah membaca isinya ternyata tidak sesuai yang diharapkan? Atau bahkan merasa penasaran berlebih sebelum membaca isinya, tapi lalu malahan jadi illfeel. Hmm, sepertinya banyak yang mengalami hal itu. Jadi, apa kesimpulannya dari pembelajaran itu? Ya, bisa dikatakan 99 persen (sekadar persepsi subjektif)  judul berita tanda tanya isinya belum terjadi. Jadi, semisal beritanya tentang apakah si A telah melakukan bla bla bla? Atau, Siapakah yang telah bla bla bla?, maka jawabannya adalah tidak dan belum. Tidaklah perlu lagi dibaca isi beritanya, cukup lihat judulnya pasti sudah tau apa maksudnya. Betul kan? Paling banter, hanya tanda-tanda saja yang ditampilkan di isi berita itu. Tidak ada jawaban pasti apakah iya, atau tidak. Bisa juga hanya mirip gosip, katanya dan katanya. Mungkin, mungkin itu salah satu cara bagi pencari warta dan penyaji warta untuk menarik perhatian pemirsa agar tertarik membaca suatu berita tertentu. Atau bisa dikategorikan sedikit “mengelabui”? Entahlah.





Jam Tangan Hilang

20 02 2011

Seseorang di sebuah kampung yang cukup sepi tengah kehilangann jam tangannya. Terjatuh saat naik sepeda di sepanjang jalan dekat persawahaan ketika malam hari, saat ia baru saja pulang dari menengok saudaranya di kampung sebelah. Sialnya, jam tangan itu terjatuh di sekitar rerumputan dan semak-semak. Hanya ada satu-dua rumah pula di sekitarjalan itu. Tiga orang yang tengah meronda kemudian membantunya. Seorang peronda mencoba menyorot semak-semak itu dengan lampu senter. Tapi setelah beberapa menit, bahkan jam tangan itu tak kunjung ditemukan. Malahan suasana menjadi cukup gaduh karena kemudian terjadi obrolan ringan sana sini dan suara kaki dari orang-orang yang mencari jam tangan itu, serta beberapa lalu lalang orang lewat naik sepeda. Jam tangan itu cukup berharga karena merupakan pemberiaan seseorang. Sehingga bagaimanapun diusahakan ketemu. Akhirnya si pemilik jam tangan itu lama-lama kecapekan dan ngantuk. Lega karena banyak dibantu beberapa orang untuk mencari jam tangan yang hilang di semak-semak dan rerumputan di pinggir sawah saat malam hari ternyata tak cukup membuahkan hasil.

Baca Lagi Ah!





Pengadilan Internasional

17 02 2011

Memang dilema. Maju kena, mundur kena. Dilegalkan cukup susah prosesnya dan kemudian bisa menjadi aneh secara umum bagi mata dunia. Dan juga mengapa ahmadiyah tidak segera dibubarkan? Karena kalau opsi itu yang dipilih, maka Bapak Presiden yang kita hormati dan pemerintah akan berhadapan dengan pengadilan internasional, para aktivis HAM dunia, dan semacamnya; lalu menjadi segan, tidak berani, atau pakewuh?. Karena kasus ini adalah kasus internasional. Bukan lokal. Seperti (maaf bukan bermaksud SARA) kasus lokal macam Lia Eden atau Nabi palsu Ahmad Musadek yang dijerat dengan penodaaan agama, yang segera cukup cepat disidangkan. Padahal kan sudah jelas kasus penodaan agama juga. Dialog berupa wacana yang sering ditayangkan di televisi perihal masalah itu seperti dejavu bertahun-tahun lalu. Karena sudah bertahun-tahun, atau bahkan sudah berpuluh-puluh tahun lalu terus terulang. Lagi, dan lagi. Sekarang, sudah tidak bisa menyelesaikan persoalan itu dengan tujuan semua senang (seperti gaya pencitraan Bapak Presiden kita kini). Yang mayoritas senang, maka minoritas akan tidak senang. Atau pilih minoritas senang, tapi mayoritas tidak senang. Atau opsi gila lainnya, yakni ditunda penyelesaian tegasnya dengan harapan masyarakat lupa dengan sendirinya, atau untuk “mainan” pihak ketiga sebagai isu pengalihan atau semacamnya.





Siapa Lebih Berani?

15 02 2011

Belum lama ini Husni Mubarak terlihat sedang mondar-mandir di depan istananya, dengan kedua tangannya diletakkan di atas pinggang. Tak lama kemudian, lewat di depannya seorang Panglima tentara Mesir. Mubarak : (menarik nafas) “Wahai Jendral, apa pendapatmu, siapa yang lebih berani, aku atau Nasser ?” Jendral (terkejut) “Anda lebih berani tuanku, karena Nasser takut terhadap Rusia, tapi anda tidak”. Mubarak : (wajahnya tersenyum) “Lalu siapa yang lebih berani? Sadat atau Aku?” Jendral : “Sungguh Anda lebih berani tuanku, karena Sadat takut sama Israel tapi Anda tidak pernah takut”.

Baca Lagi Ah!





Ranah 3 Warna

11 02 2011

Adalah novel kedua kelanjutan dari novel Negeri 5 Menara karya lulusan pondok Gontor Ponorogo yang bernama A. Fuadi. Rilis 23 Januari 2011, pernebit Gramedia Pustaka Utama. Jika pada Negeri 5 Menara tokoh shohibul menara menjadi tokoh utama, maka pada novel kedua ini lebih berfokus pada kisah si Alif. Mulai dari semenjak lulus dari Pondok Madani, ujian kesetaraan SMA, mengikuti UMPTN untuk masuk ke jurusan Hubungan Internasional UNPAD Bandung, dinamika kehidupan perkuliahan pada era awal 90-an, hingga kehidupan si Alif yang akhirnya bisa menginjakkan kaki di luar negri yakni di Kanada. Kehidupan Alif di Kanada selama satu semester bersama 14 teman-temannya itulah yang menjadi inti utama cerita. Sehingga barangkali itulah alasan penulis memberikan judul Ranah 3 Warna. Bisa diartikan perjalanan si Alif menginjakkan 3 tanah; yakni Indonesia, jazirah timur tengah, dan benua Amerika. Alasan lain mungkin berkaitan dengan daun maple. Daun khas Kanada yang juga menjadi simbol bendera negara, dan bisa mempunyai wujud 3 warna. Upaya Alif untuk bisa ke Kanada tak lepas dari mantra Man Shabara Zhafira. Siapa yang bersabar akan mendapatkan hasil. Bersabar itu aktif mencari solusi, bukan pasif.

Baca Lagi Ah!





Sayangilah Tumbuhan

9 02 2011

Manusia modern lebih suka menebang tumbuhan untuk dijadikan gedung bertingkat. Atas nama ilmu pengetahuan, arogansi itu terkadang lebih suka dilakukan. Padahal ilmu pengetahuan juga berkata bahwa tumbuhan juga makhluk ciptaanNya yang bernyawa. Begitu mudah menebang, mencabut, atau membunuh nyawa tumbuhan. Tanpa ada rasa bersalah untuk menggantinya. Sudah banyak program penanaman pohon 1 milyar, one man on tree, one passenger one tree, bahkan juga kalau perlu one building one tree. Tapi upaya itu belum berarti karena para pemimpin dan pengusaha besar negri barangkali terlalu larut mengurusi sinetron politik dan meremehkan arti satu nyawa tumbuhan.

Baca Lagi Ah!





Uang Tips Hotel

5 02 2011

Terjadi di sebuah negara maju di Eropa. Tepatnya di sebuah hotel mewah berbintang. Sudah lazim jika seorang pelayan makanan atau semacam office boy akan mendapatkan uang tips dari pelanggan hotel. Misalnya setelah mengantarkan makanan ke kamar hotel atau selepas membawakan koper dan barang bawaan lainnya. Lalu bagaimana perlakuan terhadap uang tips tersebut? Padahal uang tips yang diberikan tentu cukup banyak dan dalam jumlah besar. Mengingat ini terjadi pada masa kini di sebuah negara maju. Tentu akan menggiurkan para karyawan hotel supaya seolah berlomba agar bisa berada di posisi sebagai penerima uang tips itu.

Baca Lagi Ah!





Uang Tips Bendahara

2 02 2011

Ini cerita jaman terkini. Di salah satu kota di Indonesia. Di sebuah kantor perusahaan swasta. Seorang bendahara tengah bertugas menghitung dan membagi uang insentif kepada para karyawan. Salah seorang karyawan merasa berterimakasih karena telah dibantu cukup banyak untuk mengurus insentifnya yang memang agak bermasalah, cukup ribet, dan bernominal cukup tinggi. Setelah selesai, si bendahara tadi diberi sejumlah uang tips oleh si karyawan yang merasa telah begitu banyak terbantu. Awalnya si bendahara benar-benar menolak. Karena merasa tidak seharusnya. Dan sudah menjadi kewajibannya seperti itu untuk menghitung uang insentif. Bendahara memang telah digaji perusahaan swasta untuk hal tersebut.

Dengan kata lain seandainya ia tidak menjadi bendahara, mana mungkin si karyawan tadi memberikan uang tips. Namun ternyata si karyawan tadi tetap ngotot memberikan uang tips sebagai wujud terimakasih. Akhirnya, si bendahara menerima juga uang itu dengan berat hati. Ya, dengan berat hati karena ia merasa tidak berhak menerima uang itu. Ia menerimanya dengan maksud supaya menghormati si pemberi agar tidak tersinggung. Lalu apa yang dilakukan oleh si bendahara tadi dengan uang itu? Ia memutuskan untuk menyedekahkan uang itu ke sebuah yayasan amal.