Uang Tips Hotel

5 02 2011

Terjadi di sebuah negara maju di Eropa. Tepatnya di sebuah hotel mewah berbintang. Sudah lazim jika seorang pelayan makanan atau semacam office boy akan mendapatkan uang tips dari pelanggan hotel. Misalnya setelah mengantarkan makanan ke kamar hotel atau selepas membawakan koper dan barang bawaan lainnya. Lalu bagaimana perlakuan terhadap uang tips tersebut? Padahal uang tips yang diberikan tentu cukup banyak dan dalam jumlah besar. Mengingat ini terjadi pada masa kini di sebuah negara maju. Tentu akan menggiurkan para karyawan hotel supaya seolah berlomba agar bisa berada di posisi sebagai penerima uang tips itu.

Tapi ternyata dugaan itu salah. Pihak manajemen hotel telah profesional untuk menyikapi hal itu. Bagaimana caranya? Uang tips yang diterima oleh semua karyawan dikumpulkan jadi satu setelah jam kerja berakhir. Jadi bukan semata hak pribadi si penerima uang tips tersebut. Lalu pada suatu periode waktu tertentu, uang tips tersebut akan dibagikan secara merata dan adil kepada semua karyawan. Apa pertimbangannya? Karena untuk keadilan semua karyawan. Semua karyawan telah bekerja profesional pada bidangnya sehingga punya andil yang sama untuk kemajuan hotel. Baik mulai dari bagian dapur, cleaning service hingga office boy. Semuanya. Jadi alangkah kasihannya jikalau karyawan bagian dapur yang juga punya andil menyediakan makanan dengan baik, tapi tidak mempunyai hak yang sama dalam menerima penghargaan dan kompensasi. Begitu juga dengan karyawan di bagian yang lainnya.

***

Sekian kisah trilogi bertemakan “uang tips” ini. Semoga berkenan membaca semuanya; part 1, part 2, dan part 3. Agar bisa menangkap maksud yang tersirat dan tidak timpang memahaminya. Semua kisah tentang uang tips yang diterima seseorang ini berkaitan dengan urusan pekerjaan profesional di bidangnya masing-masing. Lain urusan dengan penerimaan hadiah ketika seseorang punya hajat atau ketika penerimaan parcel hari raya. Kalau untuk urusan itu, barangkali baru beberapa pejabat atau pemimpin yang melaporkannya ke pihak berwajib seperti KPK dan ada pembatasan. Untuk meminimalisir konflik kepentingan.

Nah, yang lebih memprihatinkan lagi jikalau ada seorang abdi negara atau pemerintahan yang memang bertugas dan digaji demi melayani masyarakat untuk urusan tertentu, tapi masih menganggap bahwa masyarakat atau pihak yang telah dilayani dalam urusan tertentu itu berhutang budi padanya. Oh sungguh terlalu!


Aksi

Information

6 responses

5 02 2011
udienroy

Uang Tips selama ini setahu saya milik pribadi, tapi ternyata tidak ya, tetapi sepertinya baik juga, entahlah kurang bisa mengetahuinya, masalahnya…?

6 02 2011
nurrahman

klo logikanya seeh begini; seandainya kita tak bekerja pd pekerjaan ybs, masihkah kita mendapatkan uang tips tersebut ???

8 02 2011
a212

dalam bentuk apapun, kalo korupsi sih ndak bener. kalo tips…ya terserah yang mau ngasih….asal ndak maksa he he he

8 02 2011
nurrahman18

bukan masalah paksanaan pak, barangkali bisa lebih direnungkan.

8 02 2011
aryu

bagus juga idenya..🙂 jadinya ga ada .. kompetisi di antara karyawan.. btw, dapat bocoran dari mana nih?

8 02 2011
nurrahman18

dari pak ustadz😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: