Jam Tangan Hilang

20 02 2011

Seseorang di sebuah kampung yang cukup sepi tengah kehilangann jam tangannya. Terjatuh saat naik sepeda di sepanjang jalan dekat persawahaan ketika malam hari, saat ia baru saja pulang dari menengok saudaranya di kampung sebelah. Sialnya, jam tangan itu terjatuh di sekitar rerumputan dan semak-semak. Hanya ada satu-dua rumah pula di sekitarjalan itu. Tiga orang yang tengah meronda kemudian membantunya. Seorang peronda mencoba menyorot semak-semak itu dengan lampu senter. Tapi setelah beberapa menit, bahkan jam tangan itu tak kunjung ditemukan. Malahan suasana menjadi cukup gaduh karena kemudian terjadi obrolan ringan sana sini dan suara kaki dari orang-orang yang mencari jam tangan itu, serta beberapa lalu lalang orang lewat naik sepeda. Jam tangan itu cukup berharga karena merupakan pemberiaan seseorang. Sehingga bagaimanapun diusahakan ketemu. Akhirnya si pemilik jam tangan itu lama-lama kecapekan dan ngantuk. Lega karena banyak dibantu beberapa orang untuk mencari jam tangan yang hilang di semak-semak dan rerumputan di pinggir sawah saat malam hari ternyata tak cukup membuahkan hasil.

Ia lalu menguap, kelelahan ngantuk. Teringat enaknya tidur di kasur rumahnya sendiri. Dan teringat pula ketika hal itu terjadi, suasana sangat hening dan sepi. Tidak ada aktivitas apapun, sehingga suasana detak jam dinding pun terdengar. Berbeda sekali dengan kondisi siang hari dimana sudah banyak aktivitas dan tak mungkinlah suara detak jam terdengar. Nah lalu tercetuslah ide. Ia dan beberapa orang yang mencari jam tangan yang hilang itu lalu memutuskan untuk berhenti sejenak. Duduk diam sebentar agar suasana benar-benar hening dan sepi. Tidak ada obrolan. Lambat laun, sayup-sayup suara detak jam tangan itu terdengar lirih. Lalu dibantu sorot cahaya senter, dicarilah lebih detail tanpa gerakan badan yang menimbulkan suara berisik. Akhirnya ketemu juga.

Barangkali ketika seseorang sedang mencapai suatu titik jenuh tertentu, ia perlu merenung dan berada di tempat yang sepi jauh dari keramaian orang-orang dan padatnya aktivitas untuk bisa berdialog dengan dirinya sendiri. Mengkoreksi kesalahan diri sendiri, merenung. Sepertiyang dilakukan orang ketika sepertiga malam akhir di malam hari, lalu memohon kepadaNya agar dibukakan jalan yang lebih mudah. Atau, terkadang membutuhkan untuk keluar dan pergi dari rutinitas sementara yang cukup padat. Lalu rekreasi sejenak ke tempat yang lebih sepi. Seperti di pinggir pantai yang sunyi atau kawasan pegunungan. Supaya lebih bisa menghirup udara segar, dan lalu pikiran lebih jernih kembali. Menemukan apa sebenarnya masalah hidup yang tengah ia hadapi, lalu perlahan-lahan ditemukanlah akar masalah itu dan opsi solusi agar tidak terlalu menjadi masalah kembali.


Aksi

Information

12 responses

21 02 2011
Adi

Sepertinya saya juga sudah mengalami titik jenuh, huft,,

21 02 2011
anita

bener juga ya mas…
kesendirian yang positif..

MUHASABAH…

Saya sudah merasakannya sekarang mas. Dan benar, rasanya jauh lebih nyaman.
Tapi gak boleh kelamaan juga menyendirinya…🙂

21 02 2011
nurrahman18

nice, klo kelamaan tambah stress, hehehe

21 02 2011
diajeng

dengan banyak mendekatkan diri insya alloh kita bisa melewati titik jenuh dalam hidup🙂

22 02 2011
Blog Keluarga

Mendekatkan diri dan bertafakur kepadaNya juga salah satu cara untuk meninggalkan rutinitas yang ada… Memang nikmat rasanya mas….

22 02 2011
a212

bagus masukannya…

22 02 2011
Melly

saya juga sedang jenuh nih…

22 02 2011
Alwi

Wah tulisan yg inspiratif ….
Bisa untuk belajar, untuk sunyi bersama Allah dalam keramaian dunia
secara fisik kita tidak mengasingkan diri dari keramaian, secara fisik kita selalu hadir dalam aktivitas dunia kita dan akal pikiran kita …tetap bekerja dalam aktivitas kesehariannya sebagaimana biasa, namun hati kita harus tetap sunyi dari itu semua.
Hati kita harus tetap sunyi, yang ada hanya Allah. Jadi uzlah kita dalam keramaian dunia adalah dengan mengosongkan hati dari keramaian dunia itu sendiri sehingga menjadi sunyi dan hanya Allah yang hadir di dalamnya, sehingga sunyinya adalah bersama Allah.

Semestinya, seharusnya dan idealnya uzlah yang seperti itu berjalan terus
menerus tanpa jeda waktu sebagaimana para Raosul dan Ambiya yang telah mencapai kekekalan dalam penyaksian mereka kepada Allah.

Kalau kita2 ini…???? kyaknya masih jauh banget dari
yang seharusnya atau yang semestinya atau yang ideal itu. Kita kadang masih terikat
dengan hukum sebab akibat, pamrih, kepentingan dll sehingga seringkali kita masih berpikir tentang tanggung jawab, pekerjaan atau yang lainnya, yang pada intinya diri kita selalu hadir dalam keramaian dunia namun keramaian itu sangat-sangat sering masuk juga ke dalam hati kita. Karena itu mudah2an kita masih bisa untuk terus berjuang, masih terus belajar dan berlatih uzlah walau hanyaa sesaat semenit sejam 2 jam dst …

23 02 2011
nurrahman18

wah makasih banyak pak alwi wejangannya, ga nyangka ampe panjang banget😀, salam…

26 02 2011
ysalma

saya baru aja ikut seminar emak2, tentang wukuf aka berhenti sejenak untuk berdamai dengan diri sendiri aka bermuhasabah..

27 02 2011
faizal

tulisannya bagus, menginspirasi

7 03 2011
jam tangan

saya juga pernah kehilangan jam tangan di rumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: