Politisasi Susu Formula

1 03 2011

Menyampaikan berita kepada masyarakat umum tentang penelitian yang berbau bilogi, kimia atau kedokteran dan semacamnya juga membutuhkan pengetahuan dan wawasan (perlu juga pelatihan, seminar, workshop, lokakarya dan lain-lain) yang cukup mengenai hal itu. Ya, tentang apa itu tujuan penelitian science, waktu penelitian, sampel, metode penelitian, jenis penelitian, bahkan sampai variabelnya. Dan itu bukan perkara mudah dan bukan perkara yang instan. Butuh pengalaman pula seharusnya. Bagaimana kalau kemudian sedikit berani dan berapi-api (serta hanya cukup berdalih jurnalisme atau kebebasan pers) untuk menggali dan menyampaikan berita penelitian mengenai hal itu (karena memang konten penelitiannya cukup seksi/sensitif), tapi juga cukup mengabaikan tentang pengetahuan penelitian/riset? Barangkali itulah yang sudah terlanjur terjadi dan menjadi isu nasional. Atau gambaran dari tingkah salah satu pelaku pers yang bertanya dengan cukup berapi-api dan cukup meminta dengan sangat agar merk susu formula yang berbakteri segera dan harus diumumkan dalam sebuah konferensi pers pemerintah beberapa waktu lalu. Bahkan, yang katanya cukup paham ilmu hukum pun ada yang sampai menuntut secara hukum dan salah satu institusi hukum Indonesia pun juga ikut-ikutan. Sebentar, sebentar, kenapa kemudian isu itu bergulir terlalu cepat? Kenapa kemudian tidak pernah ada sebelumnya yang berani memberitakan dengan baik dan jelas mengenai esensi, substansi, dan konten penelitian yang bersangkutan dengan baik? Ya, tentang tujuannya, waktu, metode penelitian, metode sampling, jenis penelitian, variabel dan semuanya yang layak dikabarkan kepada khalayak umum sepanjang tidak melanggar etika penelitian.

Kalau ada yang masih bertanya dan mempertanyakan, hal-hal itu pentingkah? tentang memahami penelitian/riset ilmiah itu? Ya, jelas penting. Bagaimana mungkin seseorang akan membuat berita tentang kesimpulan sebuah berita penelitian yang terkadang dibuat opini umumnya atau generalisasinya itu tanpa tau sebab musabab kenapa sebuah penelitian itu dilakukan, tujuannya apa, bagaimana penelitian sebelumnya, dimana penelitian itu dilakukandan seterusnya (atau analogi lain adalah; bagaimana mungkin seorang pencari dan penyampai berita dapat memberitakan berita tentang dunia IHSG sedangkan yang bersangkutan tak pernah dan tak suka mengenyam ilmu tentang dunia saham dengan baik, dan bila pernah jadi pelaku adalah jauh lebih baik) . Bisa jadi, dan memang sudah terjadi, beberapa akademisi kampus hanya bisa mengelus dada karena sedih ketika isu susu formula berbakteri itu sudah kadung populer di masyarakat. Mereka, akademisi kampus atau para peneliti sejati itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Padahal kan pencari dan pemberi warta itu kan juga lulusan kampus. Jadi, barangkali mereka sudah terlanjur sedih kini, karena tindakan yang sudah terlanjur terjadi itu. Sekaligus merasa bersalah karena mungkin lalu teringat bahwa dahulu sesekali pernah mengajarkan mata kuliah metode penelitian dengan kurang lengkap. Ya, ironi berita penelitian lagi-lagi sudah terlanjur terjadi. Berulang. Entah tidak disengaja karena khilaf masal, atau sengaja biar rame. Atau, kalau mau diklasifikasikan lebih detail tentang para pelaku (yang diduga) khilaf masal itu, setidaknya ada beberapa kemungkinan.

Pertama, mereka sesungguhnya punya pengetahuan/wawasan yang cukup mengenai topik penelitian tersebut dan pula dengan sumber valid serta lengkap sesuai kaidah jurnalistik tetapi kemudian mungkin “sengaja sedikit menggesernya”. Kedua, mereka sesungguhnya punya pengetahuan/wawasan yang cukup mengenai topik penelitian tersebut tapi tergesa-gesa sehingga tidak memperoleh sumber valid serta lengkap. Ketiga (terakhir), mereka sesungguhnya belum punya pengetahuan/wawasan yang cukup mengenai topik penelitian tersebut dan pula tergesa-gesa sehingga tidak memperoleh sumber yang valid, lengkap serta berimbang. Alhasil, isu berita penelitian itu memang sudah terlanjur terjadi. Hanya sedikit pihak yang masih mau mengkoreksi dan kroscek lebih lengkap agar masyarakat tidak melulu dirugikan. Seperti salah satunya di sini : “Harus dilihat tujuan penelitiannya. Yang dilakukan IPB tahun 2003-2006 adalah penelitian isolasi dan identifikasi bakteri patogen, atau kiasannya adalah ‘berburu bakteri’. Bukan surveilance yang tujuannya memang mengungkap susu apa saja yang terkontaminasi”. Jadi gampangannya kalau masih kurang memahami, begini: jelas tidak bisa diumumkan merk susu formula apa saja yang berbakteri karena penelitian yang memang bertujuan untuk spesifik hal itu belum ada. Jadi, mana ada peneliti dan para ahli yang berani melakukannya!

***

Tantowi Yahya, mantan artis yang menjadi politisi dari partai Beringin itu beberapa waktu lalu ketika paripurna angket pajak sempat interupsi. Meminta supaya dewan wakil rakyat juga turut serta mendorong agar susu formula berbakteri diumumkan segera. Kurang lebih begitulah keinginannya. Kalau sudah merasa mengerti esensi penelitian susu formula yang dimaksudkan, atau sedikit memahami dari penjelasan pak Rektor kampus yang bersangkutan (paling tidak, atau dari link berita di atas), maka ada pula beberapa kemungkinan alasan mengapa bisa terjadi sikap itu (atau juga mewakili sikap serupa dari sebagian wakil rakyat lainnya). Pertama, barangkali mereka itu sesungguhnya sudah mencari dan punya pengetahuan yang cukup mengenai penelitian plus topik penelitian terkait tetapi berkeinginan untuk tetap menunjukkan taringnya khususnya kepada pihak penguasa (karena bukan dari kubu penguasa walaupun satu koalisi). Kedua, barangkali mereka itu memang belum ada pengetahuan yang cukup mengenai penelitian plus topik penelitian terkait dan juga tetap berkeinginan untuk menunjukkan taringnya (karena bukan dari kubu penguasa walaupun satu koalisi). Ya, hanya dua itu saja. Karena kemungkinan lain, baik mengerti maupun tak mengerti asal tetap ingin melakukan politisasi penelitian maka tak akan interupsi seperti itu (atau tindakan lain seperti komentar serupa dari politisi yang tetap bersikukuh bernafsu ingin segera diumumkan susu formula apa saja yang berbakteri).


Aksi

Information

10 responses

1 03 2011
ysalma

yang pasti dari semua itu Nur, saya, sebagai bagian dari emak-emak yang anaknya mengkonsumsi susu formula, sempat ketar-ketir juga, sama ini berita,,😦
tapi minum susunya lanjut terus🙂

2 03 2011
a212

mana ada yang tidak terpolitisasi kang…???

2 03 2011
nurrahman18

belum nemu jawabannya😀

2 03 2011
wibisono

kayaknya semua penuh dengan kepentingan politik. bahkan susu pun ada politiknya juga.. :Doh:

4 03 2011
nurrahman18

politik susu, hahaha

4 03 2011
muhammadrinaldimadani

susu di jadikan politik, nanti sapinya juga di jadikan politik juga😀

4 03 2011
nurrahman18

karena barangkali politisi juga gemar sapi😀

5 03 2011
catatanpelangi

terlalu lelah saya di negeri ini ,,,,
tak sadarkah para penghuni singgasana itu
bahwa setiap kata,tutur, ucap, langkah,perbuatan, kelak dipertanggungjawabkan

1 05 2011
Solusi Kegagalan Inovasi « nurrahman's blog

[…] lokasi, sampel hingga kesimpulan. Salah satunya yang sudah terlanjur terjadi adalah dalam kasus politisasi penelitian susu formula baru-baru […]

9 07 2011
Pengumuman Susu Formula Berbakteri « nurrahman's blog

[…] bagi seluruh masyarakat Indonesia berkaitan dengan penelitian susu formula yang berujung pada politisasi beberapa bulan lalu. Pertama, mengenai pentingnya ASI eksklusif. Kedua, mengenai ironi berita […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: