Sekolah Bertarif Internasional

15 03 2011

Cukup mahal memang. Muridnya dituntut mahir bahasa Inggris, tapi tak perlu halnya dengan bahasa daerah sebagai warisan budaya luhur. Bahasa Inggris, tapi sebetulnya tidak semua guru sudah siap untuk itu. Lumrah. Namanya juga sekolah khusus untuk segmen pasar mereka yang mampu (secara ekonomi setidaknya). Tapi ya tetap banyak yang minat; padahal tidak ada jaminan bahwa selepas lulus sekolah maka akan kuliah di universitas berkelas internasional, bekerja di perusahaan internasional, atau di pasar internasional, ataupun di rumah sakit internasional. Dan kalaupun jadi pengusaha, juga belum tentu jadi pengusaha internasional. Mungkin, mungkin itulah skenario strategi pihak penguasa untuk mencari pendapatan buat negara dalamsektor selain pajak? Ah yang benar skenario bisa seperti itu! Kenapa tidak melakukan pemerataan pendidikan dahulu ya? Padahal itu nyata, bahkan fenomena film Laskar Pelangi itu masih ada kini. Sekolah pedalaman yang masih minim, infrastrukturnya membuat miris. Kenapa juga tidak membuat dan lebih dulu mengurusi sekolah untuk anak jalanan, sekolah untuk rakyat pedalaman, sekolah untuk anak-anak perbatasan, sekolah karawitan, dan seterusnya! Kalau berdalih internasional, internasional yang mana? Kan hanya negara maju barat eropa amerika kulit putih saja yang dijadikan rujukan!