Pengelola Sampah Elektronik

30 03 2011

Dicari dan sangat dibutuhkan, pengelola sampah elektronik! Bingung juga, mau dibuang kemana ini barang-barang bekas elektronik. Semacam telepon genggam, komputer, kipas angin, printer, dan monitor bekas. Katakanlah misalnya di kota besar macam Jogja, sepertinya belum ada yang mengelolanya secara baik. Di tempat pembuangan akhir sampah di Banyakan Bantul Jogja pun; sampah masih menggunung disatukan tanpa pemisahan. Padahal kata UU no 18 tahun 2008 (tentang pengelolaan sampah), produsen dan pemerintah seharusnya punya andil. Artinya seharusnya produsen ikut aktif dalam pengelolaan sampah elektronik. Mungkin seperti menampung barang-barang bekas lalu didaur ulang dengan baik. Dilakukan pemisahan logam berat macam Pb, Hg, Cd, Cr, PBB, dan PBDE; karena itu bisa memicu kanker dan semacamnya.

Sudah terlalu banyak wacana dan penelitian dampak sampah elektronik. Tentang bakal meningkatnya jumlah sampah itu, dampak pencemaran lingkungan dan penurunan IQ dan seterusnya. Termasuk tulisan ini juga hanya bisa menggugah perhatian. Karena yang lebih dibutuhkan adalah usaha riil untuk mengatasi sampah elektronik itu. Jika dibilang pasokannya atau supply-nya besar, memang iya. Bahkan beberapa negara sudah terkenal sebagai penampung sampah elektronik macam Ghana dan India. Teknologi informasi meningkat secara umum di semua belahan dunia. Dan artinya sebetulnya pasokan yang besar itu juga bisa dijadikan ladang usaha daur ulang; tapi dengan konsekuensi teknologi tinggi dan tentu biaya tinggi.

Baca Lagi Ah!