Hampir Percuma

5 04 2011

Bisa dikatakan hampir percuma; memisahkan sampah organik dan non-organik. Atau juga plus pemisahan sampah dari kaca (gelas, piring, dan lain sebagainya) dan plastik. Kalau bernada sisnisme memang iya, maksudnya karena adalah masih jarangnya tindak lanjut dari pemisahan sampah itu. Pada akhirnya, lebih banyak sampah disatukan di tempat pembuangan akhir. Instansi atau sekolah yang kemudian mengolah dan mendaur ulang pemisahan sampah itu juga jika dihitung hanya sedikit; minimalis. Jadi kampanye yang banyak tentang pemisahan sampah organik dan anorganik tanpa pembuatan dan penggalakan sistem daur ulang yang baik juga adalah usaha hampir sia-sia; karena cuma usaha sepihak. Bisa dikategorikan cuma usaha bertepuk sebelah tangan. Jadi usaha mendorong dan menggalakkan orang rumahan untuk membuat kompos dari sampah organik perlu ditingkatkan. Penelitian pembuatan alat daur ulang murah dan efektif juga perlu didukung dengan dana.

Kalau sebagai masyarakat awam, rasanya jangan terlalu rajin membakar sampah. Sampah organiknya jangan ikut-ikutan dibakar, lebih baik dikumpulkan jadi satu lalu diolah jadi kompos. Kalau semacam plastik dan barang gerabah lainnya sebaiknya lebih irit. Rupanya tafsir tindakan nyata dari ajaran yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang tau akan QS. Ar Rum 41-42 (tentang kerusakan alam) memang juga perlu ditingkatkan. Lebih detail, lebih riil dan sesuai dengan kondisi sekarang. Plastik yang baru bisa terurai sempurna di tanah puluhan bahkan ratusan/ribuan tahun juga adalah bagian dari pemahaman tafsir QS. tersebut; tidak hanya di kota dan di desa, semua ambil bagian dalam “kerusakan alam” tersebut jika mengabaikan fakta semacam sekecil itu. Jadi kalau memang mencari cara daur ulang masih jarang dan rumit serta mahal, go green yang inovatif memang tetap perlu dilakukan supaya tidak terkesan membosankan.


Aksi

Information

16 responses

5 04 2011
holichaxor

Izin Mengamankan dari semarang yang pertamaX
Kalau semua barang bekas bisa di daur ulang pasti bagus banget buat masa depan lingkungan hidup mas

6 04 2011
nurrahman18

pertanyaannya, sejauh manakah kemauan dan kemampuan org2 utk mendaur ulang?

6 04 2011
Blog Keluarga - Syarat Sertifikat Tanah

saya juga suka heran mas,,, ketika minggu pagi berolahraga selalu saja banyak sampah padahal sudah banyak tong sampah seperti gambar mas maksudnya ya untuk kering dan basah.. tetep aja berserakan.. terutama botol minuman…

7 04 2011
nurrahman18

lupa, lupa klo manusia cuma numpang hidup di bumi sama hewan dan tumbuhan

8 04 2011
ysalma

betul sekali,, inovasi untuk daur ulang,, kalo ga bisa jadi gunungan sampah dimana-mana.

8 04 2011
greenyazzahra

hmm..kayanya yg pertama mesi diubah yaa kebiasaan dari orang Indonesia sendiri,,kesadaran akan pentingnya kebersihan masih sangat minim..
jauhhh dari kebiasaan orang2 di negara maju..
*apakah kita termasuk bagian dari orang2 itu😦
mdh2an tidak,.,,

8 04 2011
nurrahman18

padahal slogan “kebersihan adalah sebagian dr iman” begitu mengena di sebagian besar masy,tp apa itu hanya pemanis bibis? Atau penafsirannya memang baru bergantung kepada bagaimana “memahaminya”, bukan yg bisa “semestinya”?

9 04 2011
citromduro

terima kasih trackback pak nur

9 04 2011
citromduro

apa memang kesadaran masyarakat kita seperti itu ya?? atau mungkin kurang paham dengan organik dan anorganik
kadang saya juga begitu sih, asal meletakkan di tempat sampah, apakah organik atau bukan kurang diperhatikan😀😀

9 04 2011
nurrahman18

klo efeknya domino berantai besar; pemisahan dan pendaur ulangan itu sungguh hebat efeknya barangkali…tp belum ada “penggerak” yg sehebat itu…

11 04 2011
sollcup

saya lebih setuju pemilahan sampah lho…
kalau sudah dipilah secara serempak oleh masy, tentunya akan lebih mudah mendaur ulang sampah yang dihasilkan (pemulung dan atau pengusaha kompos pun pun nantinya akan lebih mudah mengambil sampah yg dibutuhkan yg telah dipilah)…permasalahannya, belum serempak!
efek dominonya yg terbaik nantinya lapangan kerja akan timbul…

kalau setiap warga diwajibkan untuk mengolah sampah secara sendiri2, tentu hal tersebut kurang efektif dan EFISIEN…
mungkin solusi sesuai keadaan adalah meningkatkan retribusi sampah dgn tarif progresif (kalau bisa ada subsidi silang malahan) dan pengolahan skala komunitas (mengharapkan pengetahuan dan kesadaran aparat RT/Rw *agak muskiL sih*, hehehe)…
mau yg muda coba berbicara di skala kampung!, hehehe, jargon “yg muda tak pantas bersuara” masih kental di masyarakat lho mas…

Tapi sebenernya akar masalahnya yakni pemerintah sebagai pemegang peran sentral malahan cuek-bebek-bodoh…

kalau bicara masalah kesadaran, bangsa ini sebagian besar adalah muslim, saya yakin cinta kebersihan kok…kesalahan selama ini hanyalah paradigma bahwa “ketika sampahnya telah diangkut oleh tukang sampah, kewajiban mereka telah selesai”, padahal, sebagai sesama muslim, mereka harus tahu, bahwa sampah yg diangkut tersebut masih memiliki potensi negatif bagi orang lain (kewajibannya belum selesai)…

hahaha, sori kepanjangan mas…hihihi

11 04 2011
nurrahman18

tul, definisi “kebersihan” memang semestinya ttp mengikuti jaman yg bukan berarti mengubah esensi awalnya

13 10 2011
nurrahman

mungkin pilot project kawasan bersih harus diperbanyak dan disosialisasikan, seperti mengurangi sampah RT, memilahnya hingga menjadikan daur ulang memungkinkan swadaya🙂

15 04 2011
Batavusqu

Salam Takzim
Track back mengundang panggilan, terima kasih atas undangannya untuk mengomentari hal yang hampir dikatakan percuma, karena di kantor saya juga tersedia 2 warna tempat sampah namun penggunannya sama
Salam Takzim Batavusqu

15 04 2011
nurrahman18

nah kan,klo gt kang zipoer cocok jd pelopor dr perintis supaya tidak “percuma”🙂

4 08 2011
Sampah Dedaunan VS Sampah Plastik « nurrahman's blog

[…] begitu baik dikembangkan. Sosialisasi pemisahan sampah juga patut diapresiasi tetapi terkadang hampir percuma dilakukan karena seperti sia-sia sampahnya akhirnya toh […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: