Pesta Pernikahan

7 04 2011

Seorang (lelaki muda) engineer (atau dulu lebih sering disebut tukang insiyur) yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional perakitan kendaraan bermotor untuk urusan bagian simulasi (barangkali menguasai semacam pemrograman bahasa C, promodel, powersim atau semacamnya) sedang berlibur ke kampung halaman teman sekantornya. Sebetulnya bukan kampung sekali, tapi di sebuah daerah pinggiran kota. Lalu, mereka berdua (karena sama-sama masih bujang) menghadiri sebuah undangan salah satu kerabat. Undangan pernikahan. Sebuah pesta di sebuah gedung. Bertemulah mereka dengan saudara dan teman lain yang mereka kenal di daerah itu. Terjadilah sebuah obrolan dan komentar sebelum mereka memasuki areal gedung dan setelah di dalamnya. Sebetulnya si engineer tadi yang lebih banyak omong dan komentar. Kira-kira begini beberapa komentarnya.

“Wah ini kan gedungnya sebetulnya cukup sempit, cuma kayak pendopo kabupaten gini. Tapi tamunya banyak kali, jadi kapasitasnya overload“, katanya saat di halaman gedung pesta pernikahan itu, ketika antrian cukup panjang untuk hanya bersalaman dengan panitia penyambut tamu.

Lalu ada yang bertanya, “Kalau menurutmu, antrian kayak gini berdistribusi apa? Normal, weilbull apa binomial?”. Lalu si engineer menjawab, “Ya jelas berdistribusi poisson dunk. Waktu kedatangan di sistem antrian”. Setelah memasuki gedung lalu mereka bersalaman dengan pengantin baru dan segenap keluarga. Kemudian menikmati hidangan makan, itupun penuh sesak.

Si engineer tadi tetap saja asyik berkomentar, “Udah makan antri, makan berdiri, tempat untuk sampah dan piring kotor pun tak memadai. Taruh sembarangan di bawah kolong meja aja deh”. Temannya menanggapi, “Ya terang aja tempat makan tak cukup. Tuh liat aja banyak yang makan di luar gedung. Di parkiran sambil duduk di atas sepeda motor, kursinya kurang ya. Apa emang standing party? Tapi kok masih dikasih kursi, apa ‘semi’ ya!”.

Si engineer menimpali, “Standing party? Bukannya yang punya gawe kan pak Ustadz ya. Kan etika makan sambil duduk lebih dikedepankan seharusnya. Makan standing party; ketularan bule putih barat amerika-eropa aja, hehehe!”. Sambil asyik ngobrol dan makan, mereka juga tentu menikmati alunan musik. Musik semacam organ tunggal, ada penyanyinya, atau para tamu bisa menyumbang lagu dan request sebuah lagu kesukaan.

“Hampir jarang ditemukan pesta pernikahan yang benar-benar menyajikan dan memanjakan musik pesta pernikahan untuk dinikmati di telinga para tamu”. Perkataan si engineer tersebut lalu mengundang tanya temannya, “Maksudnya?”. “Lebih bagus kalau musik di pesta pernikahan itu memang bertujuan menghibur telinga para tamu. Bukan mengaduk-aduk perut seperti ini dengan suara bass yang juga cukup tak nyaman di telinga. Kayaknya seeh cuma buat bikin rame dan formalitas aja, meskipun sebenernya suara penyanyi yang itu lumayan lho”(sambil tersenyum agak kecut). Setelah mereka semua kenyang (makan gratis di siang hari) ngobrol cukup dan ingin segera meninggalkan areal gedung karena cukup berdesakan, segeralah beranjak pulang.

Sambil keluar gedung, si engineer tadi masih saja berseloroh, “Satu lagi tebakannya yah, ntar pesta usai pasti kondisinya kayak stadion sepakbola habis pertandingan akbar. Kerja keras ngumpulin sampah”. Teman si engineer tadi sebetulnya tau betul watak kawannya itu. Jadi ia lalu hanya menimpali beberapa kalimat sambil berjalan bersama keluar areal gedung.

“Ah kamu kebanyakan teori. Kan tau sendiri masalah klise orang mau ngadain pesta ya anggaran alias uang. Apalagi di daerah seperti ini kan pasti banyak keterbatasan bung! Yang ideal tuh jarang, yang penting di pesta pernikahan itu menikmati ajalah. Tuh tadi buktinya masih banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang enjoy makan hidangan berbagai menu dengan nikmat, sambil bawa anak-anak mereka. Meski kamu bilang ruangnya cukup berdesakan. Kamu seeh terbiasa urusan manajemen yang serba keteraturan. Mengaku lebih berwawasan dan barangkali juga ada pengaruh dari hasil sekolahmu di eropa sono, hehehe!”.

Si engineer hanya senyam-senyum, “Kamu benar sob. Tapi cuma mau bilang; kalau kebanyakan dari kita kan tentu yakin kebersihan adalah sebagian dari iman, beretika  menjamu tamu dengan baik agar senyaman mungkin memperoleh pelayanan yang paling baik, beretika makan sambil berdiri sepertinya kurang baik kalau terlalu kebiasaan budaya, berbudaya buanglah sampah pada tempatnya, serta makan tidak berlebihan. Jadi, mungkin itu semua yang terucapkan tadi hanya sebatas sudut pandang terhadap nilai-nilai itu? Atau memang penafsirannya itulah yg menentukan apakah manusia sudah memahaminya nilai-nilai itu atau belum? (sambil tersenyum)”.

“Ah ribet deh kalau ngomong sama yang idealis. Ntar kamu buktikan sendiri kelak. Kelak kalau kamu yang punya hajat bikin pesta pernikahan”, si teman tentu takmau kalah.

***

Kalau menurut Anda bagaimana? Apakah sering menemui pesta pernikahan seperti itu?Atau Bagaimana seharusnya dan selayaknya?


Aksi

Information

10 responses

8 04 2011
ysalma

Ini dalam rangka persiapan ya Nur😉
Pesta pernikahan itu, pemberitahuan yang punya hajat kepada handai taulannya kalo si fulan sudah menikah, dan menyediakan minum semampunya..
Buat yang datang,, ngeliahat yang bertamu ramai,, berarti, yang punya hajat, hidup bermasyarakatnya baik,, dan tujuan ke pesta, kan mengucapkan selamat kepada yang mempunyai hajat,, dan ini bukan pesta artis ato pejabat lho yaa.
kalo mau makan nyaman dan enak sesuai selera, ya, ke restoran, tinggal pilih🙂

8 04 2011
nurrahman18

bukan pula persiapan; hanya pula intrepretasi tentang beberapa nilai yang bisa sepatutnya🙂

8 04 2011
Indi

semoga sukses acara pernikahannya. amien…

8 04 2011
Astri Hapsari

Semoga Arif bisa mewujudkan pernikahan yang idealis ya
Dolan-dolan neng blogku yo, Rif

8 04 2011
nurrahman18

amin…wah kunjungan perdana teman lama, mbak astri😀

9 04 2011
citromduro

terkadang sulit sih, menurut yang punya hajat sudah dipersiapkan dengan baik. tapi yang datang banyak orang dengan beragam pola pemikiran
pasti beragam juga penilaian

semampunya dan sederhana saja say apikir lebih baik, mengutamakan keakraban bukan sekedar pesta belaka

salam dari pamekasan madura

9 04 2011
nurrahman18

sederhana, semoga, lbh baik sepertinya drpd “umpel-umpelan” he3

12 04 2011
daisugi

waktu aku nikah dulu, di kampung istri di Ponorogo, semua undangan dapet tempat duduk (cuma sekampung sih undangannya :-)), setelah undangan dateng semua, baru penagntin lelaki (aku) datang ke tempat acara, jadi mereka menikmati hidangan sambil duduk dan sambil melihat acara prosesi pernikahan, setelah prosesi pernikahan selesai, mereka semua satu-satu bangun dan menyalami pengantin dan terus pulang…selesai deh acaranya ga sampe jam2an…

12 04 2011
nurrahman18

salut, mantap….terkdg yg spt itu mash ada kok, benar2 bukan semata utk formalitas prosesi🙂

18 07 2013
laycaolay

MobilWOW merupakan komunitas penggemar dan pasar mobil terdahsyat Indonesia saat ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: