Negara Berkembang

17 04 2011

Sejak dahulu julukannya adalah negara berkembang. Puluhan tahun, atau kira-kira sampai berapa puluh atau ratus tahun lagi label itu akan tetap menempel? Akankah para guru di sekolah segera mengajarkan kepada para murid bahwa telah meningkat menjadi sebuah negara maju? Setiap hari, berbagai iklan perumahan mewah di kota besar laris manis, tapi di sisi lain memang perumahan rakyat yang kumuh masih ada. Sekolah bertaraf internasional telah mulai dirintis, namun kisah seperti di novel laskar pelangi masih bisa ditemukan. Bahkan membutuhkan bantuan semacam Indonesia Mengajar dan Komunitas Menara untuk pemerataan pendidikan supaya lebih baik bagi seluruh rakyat.

Rumah sakit bergelar internasional pun juga ada, namun di sisi lain terkadang kasus busung lapar masih sesekali muncul lagi dan muncul lagi menjadi berita di tv. Kasus korupsi memang juga makin gencar muncul di media serta yang bergelar koruptor mulai divonis bersalah, tapi sayangnya terkadang yang mencuri pulsa atau coklat di lahan tetangga mendapatkan hukuman yang lebih besar daripada mereka. Perdagangan berkaitan dengan ekspor impor juga tentu digenjot supaya makin meningkat, tetapi terkadang miris juga kalau kekayaan alam sebanyak ini belum bisa membuat garam, gula, daging dan lainnya tidak impor.  Perusahaan tambang melimpah, tetapi masih ada sahaja lokasi di sekitar tempat tambang yang mengalami beragam masalah semacam polusi dan kerusakan alam.

Eh, ada juga lho yang ngebet membangun gedung mewah walaupun di sisi lain rakyat yang kesusahan memperoleh tempat tinggal layak tentulah masih ada. Banyak katanya. Nah kan, sebetulnya sudah banyak kok bukti kemajuan itu. Label negara maju tentu sah-sah saja atas beberapa kemajuan itu. Supaya meningkatkan kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa. Tetapi, tetapi barangkali yang mengalami kemajuan-kemajuan itu baru hanya sedikit. Sedikit. Atau bisa juga dalam perkataan lain; disparitasnya masih terlalu tinggi Kawan; antara yang maju dan yang tidak maju. Kesenjangan itu terkadang begitu kontras. Karena mungkin sering terlupakan di tengah kompleksitas dan keragaman yang ada. Sehingga kemajuan-kemajuan yang sedikit itu masih sedang berkembang untuk merata, dan oleh karena itu masih bergelar : negara berkembang!


Aksi

Information

6 responses

18 04 2011
ysalma

ikut nyadar juga, ternyata negeri ini memang negara berkembang terus😦
kalo yang ngebet bangun gedung baru, takut dibilang ga konsisten aja alasannya, terus sebagai simbol:mrgreen:

18 04 2011
nurrahman18

konsisten kok mereka, konsisten dalam ketidakkonsisten-an

18 04 2011
Asop

Eits, negara kita memang masih teruuuuuus berkembang, jangan kuatir, nanti tiba-tiba di masa depan negera ini bakal langsung jadi negara maju.😀 *karena udah lama berkembang terus, kemajuannya pun tiba2*

18 04 2011
nurrahman18

lalu juga mundur lagi secara tiba2😆

5 11 2011
Piramida Sosial « nurrahman's blog

[…] kaya. Sedangkan yang miskin makin miskin, dan barangkali jumlahnya juga makin banyak. Rupanya disparitas bisa jadi makin lebar. Yang miskin seolah makin termarjinalkan. Benarkah demikian? Kalau mau […]

27 01 2012
Sekolah Entrepreneur « nurrahman's blog

[…] dengan kondisi Indonesia yang masih saja semenjak puluhan tahun lalu mempunyai gelar “negara berkembang“, maka kebutuhan untuk semakin memperbanyak jumlah pengusaha adalah pilihan yang baik demi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: