Raden Ayu Kartini

21 04 2011

Salah seorang murid Kiai Sholeh Darat yang bukan berasal dari kalangan santri adalah Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Suatu hari, Kartini yang sedang berkunjung ke rumah pamannya, mengikuti pengajian Kiai Sholeh Darat yang sedang mengupas makna Surah Al Fatihah. Kartini yang tertarik pada cara pengajian Kiai meminta agar Al Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa jawa karena menurut Kartini “tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya”. Ide itu disambut gembira Kiai Sholeh Darat, meskipun dia tahu bahwa hal itu bisa membahayakannya dipenjara karena pemerintah Hindia-Belanda melarang segala bentuk penerjemahan Al Qur’an. Kiai Sholeh menerjemahkannya dengan menggunakan huruf pegon atau Arab gundul sehingga tak dicurigai penjajah. Kitab tafsir dan terjemahan itu diberi nama kitab Farid Ar-Rahman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa jawa dengan aksara Arab.

Oleh Kiai Sholeh Darat kitab itu dijadikan sebagai hadiah untuk perkawinan R.A. Kartini dengan bupati Rembang, R.M. Joyodiningrat. Saat menerima kitab itu Kartini berucap, “Selama ini surah Al Fatihah gelap artinya bagi saya. Saya tak mengerti sedikit pun maknanya. Tetapi sejak hari ini, dia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkan ke dalam bahasa jawa yang saya pahami.” Berkat terjemahan Faid Ar-Rahman itu pula Kartini terpikat pada satu ayat yang menjadi favoritnya, yakni “orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” yang terdapat dalam Surah Al Baqarah ayat 257. Oleh sastrawan Sanusi Pane, buku kumpulan surat Kartini dalam bahasa Belanda Door Suisternis Tot Licht diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, mengacu pada ayat favoritnya itu.

***

#Dikutip dari Buku Sang Pencerah. Raden Ajeng Kartini, beberapa orang mengatakan lebih tepat menyebutnya dengan Raden Ayu; gelar bangsawan wanita yang telah menikah. RA Kartini adalah istri ketiga. Meninggal pada usia muda 25 tahun karena sejarah menyebutkan bahwa itu akibat dari komplikasi saat proses persalinan anak pertama. Dan anak tersebut lahir dengan selamat; tapi entah apakah selanjutnya keturunan langsungnya masih ada hingga sekarang.

Beberapa pakar sejarah dan ahli mengatakan kalau jauh sebelum era RA. Kartini, telah ada “pejuang-pejuang” wanita. Yang berjuang mendirikan pesantren bahkan angkat senjata macam Cut Nyak Dien. Tidak ada hari Dewi Sartika, atau hari Cut Nyak Dien. Dengan “karya lebih minim”, Raden Ayu Kartini lebih “populer” untuk emansipasi. Sekolah Kartini juga bukan Raden Ayu Kartini yang membuatnya sendiri, tapi semacam “fans” setelah beliau wafat. Tapi mungkin, mungkin karena momen dan pemikiran Beliau yang banyak tertuang dalam bentuk surat lebih banyak dikenal masyarakat Hindia bahkan dunia pada saat itu; maka kemudian RA. Kartini lebih terkenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan Indonesia hingga saat ini.


Aksi

Information

12 responses

21 04 2011
Goda-Gado

kartini sengaja dipopulerkan oleh orang2 belanda meskipun belum pernah berbuat apa2 kecuali korespondensi….
dan org dibalik itu semua adalah Snouck Hurgronye, seorang orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia-Belanda dalam Perang Aceh. koncone J.H. Abendanon (Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan) yg mjd temen diskusi Kartini selama ‘memberontak’. []

21 04 2011
nurrahman18

isu feminisme dan orientalis memang sudah “bertahan” ratusan dan ribuan tahun utk urusan konspirasi dan semacamnya…apalagi sekarang semacam label “hak asasi manusia” jg sering “digunakan” utk kepentingan ttt. entahlah, semoga mari pd berwawasan lbh luas, dan belajar sejarah. sejarah indonesia aja tdk banyak dipelajari oleh generasi muda….sedang belajar…

21 04 2011
nurrahman18

kadang2 juga terbersit barangkali ada kaitannya dgn politik etis pd waktu itu..CMIIW

21 04 2011
Asop

Iya Mas Ahmed, itu juga yang saya takutkan…😦
Mengerikan, kalau orang2 Indonesia mulai berlindung di balik nama “R.A. Kartini” untuk hal “emansipasi yang berlebihan”. Semoga nggak…

21 04 2011
nurrahman18

itu kata lain dr “pemanfaatan”😦

21 04 2011
Adi Nugroho

semoga wanita indonesia bisa terus berkarya…

21 04 2011
Otak Kanan

jadikanlah sesuatu apapun itu untuk hidup maju, motivasi diri sehingga tidak salah dalam menempatkan kata “pemanfaatan”. misalnya yang banyak kita jumpai sekarang, generasi mudah sekarang beda dengan masa R A Kartini.

apakah itu manusiawi? modern? Bukan, tetapi itu sikap keterbelakangan mental sehingga mudah terpengaruh nafsu, cowo jadi cewe, cewe jadi cowe eh cowo…he…dll.

Emansipasi yang benar-benar emansipasi adalah dimana ketika terang meniadakan gelap.he

21 04 2011
nurrahman18

hidup emansipasi lah,he3😀

21 04 2011
danyfarid5

Terus berkarya untuk semua wanita di Indonesia. Dan jangan pernah berkata tidak, sebelum mengerjakan suatu hal!!!

6 05 2011
labirinnews

tapi menurut saya..
kalu saja kartini tahu “emansipasi” telah diselewengkan.. atau dengan kata lain telah dikambing hitamkan…
dia tidak akan mau menjadi pahlawan..

6 05 2011
nurrahman18

mungkin saja, kita semua ttp menghargai beliau,tp jaman semakin berubah dgn berbagai “kepentingan”. dan memang sejak awalnya banyak simpati pun jg ada unsur itu sesuai kondisi sosial politik saat itu..CMIIW

14 04 2012
Lomba Paduan Suara dan Merangkai Daun | Arif's Blog | Kumpulan Hobi

[…] cara warga sekitar kampung halaman saya Pangenrejo Purworejo untuk berpartisipasi dalam peringatan Hari Kartini. Meniru semangat Ibu Kartini dalam turut serta membangun kualitas perempuan Indonesia. Bagaimana […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: