Merasa Cukup

23 05 2011

Suatu ketika, ada seorang musafir yang terjebak di area gurun pasir yang sangat luas. Dia sebetulnya sedang berusaha mencari pekerjaan demi sesuap nasi. Lalu karena siang itu sangat panas, dia berdoa memohon kepada-Nya agar diberi kemudahan mendapatkan air sebab sudah berhari-hari terjebak di gurun pasir tanpa minum dan makan. Berdoa dengan sangat khusyuk hingga akhirnya doa itu terkabul. Ada oase kecil. Lepaslah dahaga itu. Karena ia pikir karena baru saja berdoa lalu terkabul dan menyimpulkan cukup manjur, maka ia pun segera berdoa untuk memohon permintaan lain tanpa mengucap syukur atas oase kecil itu. Meminta kepadaNya agar diberikan rejeki berupa hujan emas karena ia kini sedang hidup sulit tidak punya pekerjaan apapun dan harta benda. Ia berdoa dengan khusyuk lagi hingga akhirnya permintaan itupun terbakul lagi. Koin emas kecil-kecil perlahan turun dari langit mirip air hujan.

Musafir tadi sangat gembira dan sumringah. Ia lupa lagi berterimakasih karena terlalu sibuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan kantong sebagai tempat menyimpan koin-koin emas itu. Satu per satu kantong pun terpenuhi oleh koin-koin emas kecil. Lagi, lagi dan terus menerus sampai ia pun tak sadar bahwa hujan emas itu semakin lebat dan lebat. Saking lebatnya, ia sudah tidak lagi memperhatikan bahwa di area gurun telah hampir terpenuhi dengan koin emas. Sampai-sampai kaki si musafir tadi seperti tertimbun oleh tumpukan koin emas dan kantong-kantong yang ia kumpulkan dari bahan apa adanya. Bahkan bajunya pun dirobek-robek untuk dijadikan kantong agar bisa membawa dan menyimpan koin-koin emas itu semua. Waktu terus berlalu detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam hingga akhirnya bukan hanya kaki si musafir tadi yang terkubur oleh koin-koin emas itu tetapi seluruh badannya terkubur. Dan kemudian tumpukan koin emas itu nampak seperti air bah yang menghanyutkan semuanya. Berubah menjadi air. Air banjir yang lalu segera surut mereda karena terserap pasir-pasir gurun dan berubah hanya menjadi oase kecil kembali.

***

Terkadang masih banyak di antara kita yang mungkin seperti musafir tadi. Selalu meminta terus tanpa sesekali melihat sudah betapa banyaknya yang telah kita punyai dibandingkan dengan orang-orang yang dalam konsidi jauh lebih kekurangan. Maksudnya melihat untuk mensyukuri, berkaca. Kalaupun ada dari keinginan-keinginan yang tidak tercapai, ya karena memang tidak semua keinginan akan dikabulkan. Setiap manusia berbeda-beda jatahnya,mungkin keinginan itu ditunda atau diganti. Merasa tidak cukup terus akan membuat mudah untuk mengeluh. Tapi ketika merasa rejeki ada terus bisa juga lupa berterimakasih dan mengecek kembali kenapa rejeki begitu mudah didapat.

Definisi cukup memang berbeda-beda bagi setiap orang. Tapi sikap untuk melihat lagi secara rutin segalanya yang sudah dipunyai dan diperoleh apapun itu untuk berterimakasih kepadaNya (bersyukur) dan kepada sesama; adalah kewajiban. Berterimakasih jangan dibandingkan dengan yang lebih banyak, tapi yang lebih sedikit. Kalau dibandingkan dengan yang lebih banyak itu bukan untuk menilai kecukupan tapi untuk memacu semangat agar giat bekerja keras.


Aksi

Information

5 responses

24 05 2011
Blog Keluarga Keuangan

Ada dua hal untuk dipandang dan disikapi ya mas???

Menurut saya sih,,, kita melihat kebawah untuk bersyukur dan melihat keatas sebagai motivasi aja…

24 05 2011
nurrahman18

betul, dan masih belajar utk itu makanya ditulis biar inget🙂

24 05 2011
amirul

menurut saya sih.. ngikut aja mas.. soalnya saya bukan tipikal orak yg bijaksana,

24 05 2011
nurrahman

Bijaksini dunk spt saia😀

28 05 2011
ysalma

setuju dengan komen pertama,
melihat ke yang sudah dimiliki, ga usah materi dulu, jasmani sehat dan semua lengkap, anugrah yang luar biasa, selanjutnya berusaha🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: