Pengumuman Susu Formula Berbakteri

9 07 2011

Pengumuman susu formula berbakteri telah dilakukan oleh pemerintah kemarin. Setidaknya ada beberapa hikmah dan pelajaran berarti bagi seluruh masyarakat Indonesia berkaitan dengan penelitian susu formula yang berujung pada politisasi beberapa bulan lalu. Pertama, mengenai pentingnya ASI eksklusif. Kedua, mengenai ironi berita penelitian. Ketiga, mengenai kepercayaan (kritik dan saran) masyarakat terhadap pemerintah atau penguasa. Mengenai yang pertama, sepertinya sudah cukup jelas seperti yang Ibu Menkes sampaikan pada konferensi pers hari kemarin. Sedangkan perihal berita penelitian, itu berkaitan dengan bagaimana kondisi pemasaran penelitian/riset saat ini dan kebebasan berekspresi / berpendapat melalui dunia maya. Pengumuman susu formula berbakteri mengatakan bahwa tidak ditemukan bakteri Sarkazaki di susu formula yang bererdar resmi di Indonesia. Tapi tidak semua media mengabarkan hal serupa dengan senada.

Kasus susu formula ini memang muncul sebagian besar karena distorsi media. Jika mau menyimak penjelasan Rektor IPB dengan baik (salah satunya di sini), maka tidak akan menimbulkan pemberitaan heboh di waktu lalu (Sayang sekali dulu jarang sekali media yang mengabarkan mengenai paparan Rektor IPB tersebut dengan baik). Tujuan penelitiannya saja sudah berbeda dengan apa yang kemudian diberitakan oleh banyak media. Jikalau tujuan penelitian berbeda tapi di tengah proses penelitian ada hal yang sama maka tidak serta merta kemudian akan menghasilkan kesimpulan yang sama. Karena kesimpulan penelitian adalah jawaban dari tujuan penelitian. Sedangkan mengenai mengapa sampel tidak dipublikasikan, itu sudah jelas dipaparkan jika penelitian pada tahun 2006 tersebut memang bukan bertujuan seperti itu, akan berdampak pada independensi jikalau dipublikasikan. Penelitian yang dimaksud pada sebelumnya bertujuan untuk isolasi bakteri (berburu), sedangkan yang diharapkan oleh media dan masyarakat pada umumnya adalah bertujuan untuk survey pencemaran.

Tapi hal-hal itu semua rupanya tidak cukup membuat distorsi media terjadi. Bisa dimaklumi jika bidang penelitian tersebut cukup “seksi”. Melibatkan kapital atau korporasi besar dan reputasi pemerintah. Padahal yang membuat distorsi media dan berkasus hukum semestinya pada umumnya memperoleh mata kuliah metodologi penelitian. Tapi ya tetap saja apa mau dikata karena barangkali memang ada unsur atau kesempatan untuk meluapkan kekecewaan terhadap kinerja pemerintah. Di samping kondisi penelitian di Indonesia memang belum cukup dihargai dengan baik.

Detik.com dan metroTV mengabarkan dengan kondisi yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Liputan6.com dan GlobalTV. Setidaknya itu menurut opini pribadi. Begini maksudnya; detik.com dan metroTV memberitakan bahwa secara umum pemerintah sudah menjawab pernyataan susu formula mana yang berbakteri. 47 merk susu yang diteliti tidak ditemukan adanya bakteri yang dimaksud. Sedangkan liputan6.com dan GlobalTV masih mempertanyakan bagaimana dengan hasil penelitian sebelumnya yang berkasus itu (2006). Seolah pemerintah bersikukuh tidak mau membuka penelitian itu. Ya memang tujuan penelitian berbeda dengan yang ditanyakan pada umumnya, lalu mau dibuka buat apa?

Ini bukan untuk membela pihak manapun. Baik pihak kampus terkait, pihak pemerintah, media, swasta atau masyarakat golongan apapun. Tapi hanya unek-unek pendapat mengenai polemik susu formula berbakteri. Semoga semua pihak bisa lebih menghargai mengenai penelitian di samping juga mempelajari mengenai bagaimana etika penelitian, metodologi penelitian dan seterusnya.


Aksi

Information

9 responses

9 07 2011
amirul

ssemoga masyakat akan lebih sadar tentang susu yg baik buat buah hatinya…

9 07 2011
nurrahman18

padahal opini di atas tidak membahas ato membicarakan scr intensif mengenai susu yang baik buat buat buah hatinya itu apa, AFAIK

9 07 2011
bangauputih

menutupi kebenaran demi???
apapun itu, sebagus apapun merknya, semahal apapun harganya, tiada yang bisa menyamai sempurnanya ASI.
maka wahai para ibu, berilah air surga itu, yang tak akan ada habisnya jika kamu benar-benar ikhlas memberikannya pada anak2mu. tak peduli asupan apapun yang dimakan oleh seorang ibu,mahal atau sederhana, tak peduli ibu itu kalangan atas atau bawah, kandungan ASI tidak pernah berbeda, selalu sama dan itu sudah diteliti oleh para ahli. sayangnya banyak yang tak peduli dan lebih mementingkan kepentingan dunia seperti mengejar karier hingga hanya memberikan anaknya susu formula. #prihatin

maaf yah mas, saya kok ngamuk2 disini hehe
salam

9 07 2011
maseko cahyo

setuju dg bangau putih.. kandungan asi tidak pernah berbeda .. mungkin beda kemasan aja.. hehe *ngawur*

padahal ASI kan gratis ya? kenapa lebih suka yang bayar??

9 07 2011
nurrahman18

tidak ada kebenaran yg ditutupi pada prinsipnya.

9 07 2011
Asop

Jadi, susu merek apa sih yang tercemar?

9 07 2011
nurrahman18

tidak ada berdasarkan penelitian survei pencemaran thdp 47 sampel merk. dilakukan oleh 3 lembaga, BPPOM, IPB dan dari menkes

10 07 2011
Adi Nugroho

serem :s susu formula emang ada efek ndak baiknya..

18 02 2012
nuria hafazhah

betul tuh….
aq aja ngk minum susu bubuk lg
aq minum susu siap saji aj deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: