Tiga Kemerdekaan

18 08 2011

tiga kemerdekaanNegara yang telah berdiri mempunyai 3 kemerdekaan, setidaknya menurut pendapat pribadi. Pertama adalah kedaulatan. Baik secara politik dalam negri maupun diakui negara lain. Indonesia telah mempunyai itu, meskipun gonjang-ganjing kasus korupsi masih membuat resah dan gelisah. Kedua adalah kemerdekaan berbudaya. Kaitannya dengan karakter bangsa yang mempunyai kepribadian. Kekayaan ragam budaya Indonesia yang terdiri dari berbagai keyakinan, suku, ras, golongan dan sebagainya sebetulnya telah menunjukkan kemerdekaan berbudaya. Tapi acapkali konflik horisontal sering muncul. Hilang lalu muncul lagi dan seterusnya seperti sebuah siklus berulang. Salah satunya adalah kondisi saudara-saudara kita di tanah Papua yang saat ini sedang bergejolak. Semoga permasalahan segera usai dengan baik. Dan Papua tetap Indonesia

Kemerdekaan ketiga adalah masalah ekonomi. Apakah Indonesia sudah merdeka secara ekonomi? Bangsa yang penuh dengan kekayaan alam (SDA) ini belum sepenuhnya bisa mengelolanya dengan baik, secara mandiri. Satu contohnya adalah dalam hal kekayaan alam berupa air yang seharusnya dikelola oleh pihak berwenang (dalam hal ini pemerintah mempunyai kebijakan) untuk sepenuhnya bagi kepentingan hajat hidup orang banyak. Tapi nyatanya, banyak sumber mata air Indonesia dikuasai oleh pihak asing yang kemudian dijadikan air mineral dalam kemasan (AMDK). Perusahaan yang mempunyai pangsa pasar terbesar di Indonesia untuk urusan AMDK memang sudah menjadi milik asing alias “privatisasi” semenjak beberapa tahun lalu. Jadi bisa dikatakan 80 persen lebih keuntungannya lari ke negara lain. Hanya sisanya yang berupa pajak menjadi pemasukan negara dan menjadi sumber untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Itu juga dengan asumsi pemasukan pajak berjalan baik-baik saja tanpa mafia.

Baca Lagi!





Mumpung Puasa

18 08 2011

Pada sebuah tayangan di televisi swasta mengenai sindiran politik yang berupa kartun animasi, diceritakan jika saat ini kondisi hukum Indonesia cukup buruk. Kaitannya dengan kasus korupsi dan politisi muda. Diceritakan jika kepulangan salah satu politisi muda tersangka kasus korupsi ke Indonesia beberapa saat lalu, akan mendapat sambutan yang berbeda dari beragam partai politik yang berbeda warna. Tapi dibalik sambutan yang kebanyakan bermuka manis di luar itu, para pemimpin partai politik itu digambarkan sedang membawa senjata masing-masing yang “disembunyikan di belakang punggung”. Lalu si tokoh sentral kartun animasi tersebut cuma geleng-geleng kepala. Mungkin miris. Lalu berucap kurang lebih begini, “Wah ini kan lagi bulan puasa, jangan bohong dong!”. Kata-kata “lagi bulan puasa” atau bisa diartikan sedang bulan puasa itu mungkin sekilas lalu biasa saja. Hanya masalah diksi bahasa saja. Tapi bisa jadi mengambarkan sesuatu, sebuah imbas dari pemahaman.

Bahwa seolah-olah di bulan puasa saja tidak boleh bohong. Di bulan lain biarkan apa adanya. Bahwa bulan puasa tidak sepenuhnya dipahami untuk latihan yang bermanfaat di 11 bulan berikutnya. Bukan berarti menafikkan jika di bulan puasa yang katanya penuh obral pahala ini banyak orang berebut berbuat kebaikan secara mendadak. Itu baik-baik saja dan harus. Tapi kebaikan-kebaikan itu semestinya kan dijadikan kebiasaan seterusnya.

Jadi mungkin alangkah lebih baik jika kata-kata si tokoh sentral kartun animasi itu adalah, “Wah ini kan mumpung sedang bulan puasa, ayo berlatih supaya terbiasa untuk tidak berbohong dong!”