Sesi Wawancara

16 09 2011

sesi wawancaraSemakin terbukanya kebebasan berpendapat di era reformasi atas nama demokrasi, semakin mudah orang bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Memasukkan ke kepalanya masing-masing dari banyak sumber. Sumber bisa dari berbagai media; cetak, elektronik, dan via dunia maya / internet. Meskipun begitu, sesungguhnya setiap sumber atau media punya kepentingan masing-masing. Karena media sendiri juga adalah pelaku yang bertujuan memperoleh informasi, lalu kemudian menyampaikannya kembali. Kemudian relatif lebih banyak dialog atau sesi wawancara di televisi ketika prime time. Via siaran langsung. Barangkali lowongan bekerja menjadi presenter juga semakin banyak. Intinya banyak pihak diuntungkan atas era kebebasan berpendapat dan mendapatkan informasi. Termasuk pembicara dalam sebuah dialog interaktif, baik di televisi, radio atau media lain.

Sebuah kasus bisa sangat cukup “menguntungkan” banyak narasumber. Cuma modal ngomong di depan media saja sudah bisa untuk penghasilan. Tapi terkadang bosan juga melihat itu hanya menjadi kata-kata. Karena langkah nyatanya bisa tidak kunjung terjadi.

Presenter : “Bagaimana tanggapan bapak atas peristiwa dugaan korupsi gedung A?”

Narasumber : “Saya kira . . .” (tiba-tiba dipotong oleh presenter)

Presenter : “Mmm, jangan dikira-kira pak, mungkin kita butuh kepastian.”

Narasumber : “Saya pikir . . .” (dipotong kembali oleh presenter)

Presenter : “Maaf pak, apakah bapak akan berpikir terlalu lama?, barangkali kita bisa kehabisan waktu jika bapak berpikir dahulu untuk menjawab pertanyaan.”

Narasumber : (sudah dalam posisi agak kesal) “Baiklah, menurut saya begini, jadi   . . . (untuk ketiga kalinya wawancara dipotong)

Presenter : “Bagaimana kalau jawaban yang lebih obyektif pak. Sepertinya itu akan menjadi pendapat subyektif bapak. Mungkin ada data dan fakta lain yang tidak dari pendapat pribadi semata?”.

Narasumber : (sudah tidak bisa berkata-kata)!

*televisi dimatikan karena bosan, talk less do more please!*


Aksi

Information

4 responses

16 09 2011
sibair

Hahaha itu presenternya di keplak aja mas.. wawancara gak niat gitu! haha

16 09 2011
ysalma

pewawancara ga perlu narasumber sebetulnya itu🙂

18 09 2011
Fadjar

Biasa kalo pewawancara model gini, pengen nunjukin diri hebat dan lebih merasa seperti jaksa. Padahal yg nonton pengen denger narasumber bicara. Setuju kalo tvnya langsung di off.

18 09 2011
nurrahman

matikan televisi, irit listrik😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: