Melunasi Utang

17 11 2011

Melunasi UtangCerita berikut ini adalah berdasarkan sebuah kisah nyata. Ada seorang mantan menteri, lahir dan menghabiskan masa kecil di sebuah daerah di Pulau Sumatera. Ia dahulu pernah kuliah di Jogja. Lalu suatu ketika, ia memutuskan untuk kembali ke Jogja untuk sebuah keperluan. Ia hendak menemui seorang Ibu tua pemilik warung makan di sekitar kompleks kos-kosan yang dahulu merupakan tempat langganan makan saat masih menjadi mahasiswa. Karena sudah cukup “berada” dan pernah menjadi seorang mentri, maka wajar saja kalau ia menuju lokasi dengan mengendarai sebuah mobil yang cukup bagus, tidak seperti dahulu ketika masih menjadi mahasiswa yang mana tentu lebih banyak prihatinnya. Dan Ibu itu ternyata masih hidup serta masih ingat dengannya. Masih jualan makanan untuk anak-anak kos, seperti dahulu, telah berpuluh tahun. Diungkapkanlah apa maksud dan tujuannya menemui Ibu itu tadi. Tapi sebelumnya, ia memesan makanan dan menyantapnya sampai habis. Simak perbincangan yang terjadi seperti berikut ini :

A : Mbok, masih ingat dengan saya kan! Kedatangan saya kemari selain ingin mengenang masa lalu juga ada maksud lain. *lalu ia mengeluarkan amplop tebal berisikan uang*. Dulu, saya sering makan disini. Tapi pas bayar,  saya bilang kalau makan tempe cuma dua, tapi sebetulnya saya makan empat. Dan itu berkali-kali entah berapa jumlahnya tak terhitung sampai lupa. Oleh karena itu, ini ada sedikit yang bisa saya berikan, mohon di-ikhlaskan semuanya itu.

B : *dengan senyum tulus seorang Ibu yang telah berumur tua renta*Iya pak, tidak apa-apa, saya sudah ikhlas.

A : Alhamdulillah. Saya lega sekali. Tapi kalau boleh tau, Simbok sebetulnya dulu itu tau atau tidak?

B : Ya tau

A : Lho!!! *dengan tersenyum simpul agak malu* Tapi kok diam saja?

B : Ya tidak apa-apa, kasian, jauh-jauh dari luar pulau jawa kuliah disini.

***

Utang dalam bentuk apapun itu, meskipun seolah dalam bentuk “terselebung dan curang” seperti cerita di atas akan tetap dipertanggungjawaban nanti di kehidupan selanjutnya. Bersyukur, pihak yang “memberikan” utang memberikan sikap ikhlas dan rela. Dan bersyukur pula masih ingat. Karena seolah harus menunggu sampai menjadi menteri atau pejabat atau orang yang cukup berada. Sudah bagus masih ingat dan koreksi diri karena akan ingat hal-hal semacam itu akan dipertanggungjawabkan kelak. Tapi kan ya tidak semua harus menjadi “kaya” dulu untuk mengingat utang dan “curang” seperti itu, betul kan!

Sebab, hal itu berkaitan dengan kehalalan makanan. “Kecurangan” yang membuat menjadi “utang” itu bisa menjadikan makanan yang dimakan tidaklah halal. Lalu kemudian seolah juga kelulusan kuliah dan rejeki pun ikut tak halal, pekerjaan dan seterusnya. Karena semua itu berkaitan.


Aksi

Information

10 responses

17 11 2011
toni

wah jadi inget jaman kos, tapi ane ga suka utang piutang gan hahaha

17 11 2011
wibisono

hehehe.. aku dulu sering utang makan di warung. tapi sering langsung saya lunasi kok..

17 11 2011
ysalma

Kalau curang ini, zamannya SD klas 4-an ke bawah nih Nur,
gimana nih, simbok yang jualannya udah ga ada, mudahan beliau ikhlas sebelumnya🙂

18 11 2011
asti

Dasar anak kos,, menghalalkan segala cara hanya untuk memenuhi perutnya, supaya tidak kelaparan. Hehehehe…

19 11 2011
rusgiyanato

so good untuk anak kost yg satu ini ya udah sukses gak lupa sama utang warung

22 11 2011
rephok naga narmada

paling sering nitip uang di warung, setiap makan dikurangi jumlahnya. sering juga sih jumlahnya malah minus, hehehehe.
#ingetmasamasakuliah#

22 11 2011
asmin666

22 11 2011
asmin666

good job

2 12 2011
Uang Pendaftaran « nurrahman's blog

[…] di atas berdasarkan kisah nyata dari seorang ustadz. Cerita lain yang berkaitan adalah “melunasi utang“. Utang yang belum dibayar juga bisa berakibat pada rejeki yang diperoleh menjadi bernilai […]

7 12 2011
yudie28

artikel bagus.. sangat membantu.. salam kenal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: