Uang Pendaftaran

2 12 2011

Uang PendaftaranAda seorang anak muda yang bekerja sebagai seorang aparat keamanan resmi; menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Katakanlah disebut sebagai seorang “prajurit”. Nha, suatu ketika setelah beberapa tahun bekerja, dia punya keinginan untuk keluar dari pekerjaan tersebut. Padahal sebetulnya pada dasarnya dia menyukai pekerjaan tersebut, dan punya kinerja yang cukup bagus pula. Dia pun kemudian mengutarakan niat itu kepada kedua orang tuanya itu. Orang tuanya pun kaget bukan kepalang. Karena semenjak awal untuk masuk ke pendaftaran saja bukan perkara mudah. Membutuhkan biaya yang tak murah pula. Jadi apa sebetulnya alasan dari anak muda tersebut?

Si anak muda itupun rupanya setelah bekerja beberapa tahun dan tentu mendapatkan banyak ilmu, mempunyai pandangan tersendiri perihal pekerjaan yang dimilikinya. Ia telah sadar kini, karena tau bahwa dulu pada saat masuk untuk menjadi “prajurit” itu sebetulnya membutuhkan “uang sogokan” sebagai uang pendaftaran tambahan yang resmi. Sehingga merasa bahwa pekerjaan yang dimilikinya sekarang pun sebetulnya tidak halal karena diperoleh dengan cara yang tidak bersih. Akan tetapi, orang tuanya masih tidak rela dengan keputusan anaknya itu. Sehingga diputuskanlah sebuah solusi awal terlebih dahulu yakni untuk menanyakan tentang keputusan tersebut kepada seorang ustadz. Sebuah konsultasi. Datanglah mereka ke rumah seorang ustadz.

Bagaimana jawaban sang ustadz? Ia berkata bahwa keputusan si anak sudah benar, meskipun harus merelakan pekerjaan yang telah diperolehnya. Karena menurut sang ustadz, ia sependapat dengan si anak muda tadi. Jika pekerjaan diperoleh dengan cara yang kotor atau tidak sah, maka seluruh penghasilannya pun akan bernilai sama. Haram. Dan seterusnya, jika digunakan untuk membeli makan maka akan bernilai sama, untuk mencicil rumah, bahkan beramal dan lain sebagainya. Kata sang ustadz, bersyukurlah masih diberi kesadaran. Walaupun memang harus dibayar mahal di dunia, tapi kelak di akhirat akan mendapat balasan yang baik. Uang halal berasal dari cara halal untuk memperoleh pekerjaan yang halal.

***

Cerita di atas berdasarkan kisah nyata dari seorang ustadz. Cerita lain yang berkaitan adalah “melunasi utang“. Utang yang belum dibayar juga bisa berakibat pada rejeki yang diperoleh menjadi bernilai sama, ada “utang” yang belum dilunasi sehingga kalau si pemberi utang tidak memberikan kerelaan atau keikhlasannya maka akan tetap dimintai pertanggungjawabannya kelak.


Aksi

Information

4 responses

3 12 2011
vegas

bagus

3 12 2011
vegas

sangat bagus

6 12 2011
Catur Ariadi

wah saya masih memiliki hutang kepada temen2 lama saya tidak begitu memperhatikan hal ini, terima kasih mas rahman😀

6 12 2011
nurrahman

cerita di atas juga memang sebagai pengingat utk diri sendiri paling tidak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: