Bersyukur

29 06 2009

Seorang sahabat pernah bercerita, “Gagal masuk perguruan tinggi yang kuminati pernah kualami beberapa tahun lalu. Sebelum itu, gagal masuk sekolah gratis setingkat SMU dan perkuliahan juga pernah kualami. Sebelumnya lagi, nilai akhir ujian sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas mempunyai selisih yang sangat besar jika dibandingkan dengan waktu latihan ujian akhir. Dan ketika kerja praktek di sebuah perusahaaan, aku pernah hampir jatuh dari crane dan terjun bebas ke tengah laut. Sifat fasik masih sangat kental kurasakan. Walaupun aku punya cita-cita idealisme yang cukup mantap, tetapi semoga itu bukan kemunafikan. Sakit patah tulang juga tak luput. Dan dirawat berbulan-bulan di rumah sakit sudah lumrah bagiku beberapa tahun lalu, karena tipes dan penyakit lainnya. Dan aku juga pernah gagal bercinta, bahkan pernah sangat dibenci oleh orang yang sebenarnya sangat ingin kucintai. Menyesali sesuatu karena merasa dikhianati seseorang yang kuanggap sahabat sendiri juga pernah. Sebuah proses panjang seperti ditikam dari belakang, dan aku memilih diam. Sadar akan banyak kekurangan. Lalu, pernah juga terjebak dan dijebak sebuah konspirasi besar dan manaun, sehingga gagal mendapat jalan rezeki sebuah cita-cita”.

bersyukur

Lalu sabahat tersebut diam. Mungkin karena patokannya adalah orang-orang sukses, sehingga seolah lelah sendiri menciptakan standar atau ukuran kesuksesan. Karena sebenarnya terlalu sering melihat orang-orang yang sukses di atas akan membuat lelah dan pegal. Kata seorang ulama, jika terlalu lama menatap ke atas, leher kita jadi pegal. Istirahatlah sejenak dan melihat lebih dalam orang-orang yang mempunyai nasib yang kurang baik daripada diri sendiri.

Cobalah mengingat kesenangan dan kebahagiaan. Lalu sahabat tersebut kembali berceloteh, “Ya, jika mengingat permainan sewaktu aku kecil rasanya menyenangkan. Seperti bermain layang-layang, berenang di parit sawah sewaktu banjir, bermain kelereng, menggambar sesuatu sewaktu sekolah di taman kanak-kanak saat menunggu Ibu selesai mengajar, bahkan sampai kejar-kejaran menangkap dan membunuh anak ayam yang masih kecil sambil mengitari halaman rumah. Di kala menginjak bangku sekolah dasar, prestasi juga kudapat. Hingga aktivitas organisasi yang banyak kulalui di bangku sekolah menengah atas sampai kuliah. Seperti bantara, menjadi pembantu di tempat penelitian, komunitas pelajar dan masih banyak lagi. Bahkan memasuki bangku kuliah pun tak harus mengikuti tes pada umumnya. Singgah di kota lain untuk mencari pengalaman bekerja sungguh menyenangkan. Dan kini harus sering bertemu dan berinteraksi pakar ahli ilmu. Semoga mendapat ilmu yang bermanfaat. Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin kuceritakan, tapi rasanya nikmat itu tak terhitung dan susah diungkapkan semuanya karena memang begitu banyak”. Jujur, kalau saja menghitung seberapa banyak nikmat yang didapat manusia, maka sebenarnya tidak mudah untuk menghitungnya. Bahkan tidak mungkin, karena begitu banyaknya. Memang sebenarnya ungkapan berikut ini tepat dan takkan salah sepanjang mau berpikir dan merenung lebih dalam, “maka nikmat mana yang kau dustakan?”.