Tiga Polisi

29 07 2011

tiga polisiBerdasarkan salah satu guyonan alm. Gus Dur, hanya ada tiga polisi di Indonesia. Mungkin hal ini sudah sering dijadikan joke sindiran dan sudah banyak yang tau. Oleh karena itu ini hanya sekadar memuat ulang kembali agar menjadi catatan. Jadi, siapa tiga polisi tersebut? Polisi tidur, patung polisi, dan (alm) Jendral Hoegeng. Tidak perlu dijelaskan analisanya sepertinya sudah jamak diketahui maksud dibalik guyonan tersebut. Semoga harapan masyarakat akan tegaknya hukum di Indonesia tidak semakin pupus dan bertepuk sebelah tangan karena pihak aparat yang berwenang belum bisa memberikan hasil optimal khususnya untuk kasus tertentu. Dan kasus-kasus yang dimaksud tentu berkaitan dengan korupsi. Karena pemberitaan masih banyak mafia dan koruptor di negri ini masih banyak baik di media cetak, elektronik dan online.

Baca Lagi!





Guyonan Pemilu

8 04 2009

pemiluDialog antara seorang mahasiswa yang baru punya hak pilih tahun ini dengan tetangganya yang seorang pengusaha mebel.

Mahasiswa : “Bos, besok nyontreng partai apa? Apa jangan-jangan sampeyan nggak ikutan. Banyak order ekspor ya?”

Pengusaha : “Enggak kok Dik. Walaupun akhir minggu ini saya mau liburan bersama anak semata wayang dan istri, tapi saya sempatkan dulu kamis pagi mampir TPS. Lha sampeyan gimana?”

Mahasiswa : “Ikut nyontreng juga. Tapi enggak mau nyontreng caleg yang sudah uzur dan simbah-simbah. Nanti mo jadi apa negri ini kalau pembuat undang-undang nya sudah tidak full energik, hehehe.”

* * * * * * * * * * * * *

Di sebuah koran nasional yang terbit di hari sabtu, terpampang jelas sebuah iklan besar full color satu halaman. Budi, seorang tukang becak sedang membacanya “TERBUKA LOWONGAN KERJA BARU. DI TENGAH KRISIS APAPUN, PEMERINTAH INDONESIA TETAP PEDULI PADA RAKYATNYA UNTUK MEMBUKA LOWONGAN KERJA. SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA UNTUK MENJADI CALEG DI POSKO PARTAI-PARTAI TERDEKAT. KARENA SYARATNYA GAMPANG. TAK PERLU LULUSAN KULIAHAN PUN BISA”. Kontan Budi segera berminat. Karena di halaman berikutnya, terpampang pula berita info terbaru. Pendaftar sudah berjumlah 11.000-an (11.225 orang calon lebih tepatnya). Wow!

* * * * * * * * * * * * *

Kang Asep adalah salah seorang petani asal Sukabumi. Ketika hari H-1, di tengah jalan ketika hendak pulang menuju rumahnya di sore hari, seusai mencangkul di sawah. Ia bertemu tetangganya yang sehari-hari berdagang sayuran keliling kampong. “Besok nyontreng apa Kang?”, Kang Asep ditegur oleh pedagang sayuran. “Rakyat kecil seperti saya mah mudah bingung sekarang. Karena calonnya banyak sekali. Padahal harus bertani setiap hari, tidak sempat mengenali mereka satu-satu. Belum pernah ada yang datang langsung dan salaman sama saya, apalagi caleg pusat…wah”.

* * * * * * * * * * * * *

Di sebuah ruangan kelas sekolah dasar, seorang guru bertanya kepada muridnya.

Guru : “Apa cita-cita kalian anak-anakku?

Murid : “Jadi caleg Bu guru” (dijawab dengan lugas tanpa rasa takut)

Guru : “Lho, kenapa Nak?” (dengan terheran-heran Ibu guru bertanya kembali)

Murid : “Anggota dewan duitnya banyak. Bisa jalan-jalan ke luar negri dan fasilitas cukup.” (sambil tersenyum mengembang)

Apakah terjadi pergeseran bahwa wakil rakyat adalah sebuah profesi yang dijalankan dengan menjunjung profesionalitas dengan atas nama ladang bisnis? Entah.

* * * * * * * * * * * * *

Mungkin yang dilakukan oleh salah satu partai politik besar bisa dibenarkan. Kontrak politik. Caleg bikin janji. Tetapi apakah ada mekanisme yang dinaungi undang-undang mengenai hal itu. Kenapa tidak terpikirkan oleh elite partai, anggota dewan yang terhormat dan pemerintah untuk sekalian membuat undang-undangnya. Begitulah gumam Andi, mahasiswa Ilmu komunikasi ketika hendak membuat makalah politik sebagai tugas salah satu mata kuliah.

* * * * * * * * * * * * *

Indra baru saja selesai kuliah. Mahasiswa fakultas teknik ini akan segera meluncur menuju rumah rekannya di Nogotirto Yogyakarta, rumah Edi. ”Kamu nyontreng ga besok?”, Edi bertanya seketika Indra datang. ”Ga tertarik, lagian ga bisa. Kan KTP ku di Lampung”. Edi menimpali, ”Yah, kamu masih bisa ikutan, dengan mutasi KTP”.

”Kenapa ga ngasih tau dari dulu? Heem… (sambil tersenyum kecut). Ribuan mahasiswa terancam tak nyoblos karena pendatang, alasan administratif. Kenapa Dinas Kependudukan ga proaktif sosialisasi ya? Mungkin mereka ditanya jumlah penduduk Indonesia pastinya saat ini bisa-bisa ga tau? Bisa jadi dari perkiraan 200 juta penduduk, yang setengahnya KTP dobel. He he he”, Indra menyeloroh dengan lugas kepada Edi.

* * * * * * * * * * * * *

Kampanye dan dangdut adalah kesatuan utuh yang hampir bisa ditemui di semua partai. Hanya segelintir partai yang tidak menyamaratakan kampanye partai dengan konser musik dangdut. ”Kenapa bos?”, Iwan si preman pasar bertanya pada juragan preman. ”Bersenang-senanglah kita, saatnya kampanye, saatnya panen hiburan goyangan penyanyi dangdut seksi. Ha ha ha”, bos preman menjawab dengan wajah ceria seperti dapat undian satu milyar. ”Bos, aku ambil minum dulu. Rugi bergoyang dangdut di pasar impres tanpa mabuk. He he he”, Iwan tak kalah sumringah.

* * * * * * * * * * * * *

rambugejayan1

Stop obral janji. Begitulah bunyi salah satu tanda lalu lintas di jalan gejayan yogyakarta. Seolah pertanda bahwa rakyat sudah muak dibohongi oleh :

“The wrong man in the wrong system..”