Startup Lokal

21 05 2011

Salah satu usaha atau bisnis di bidang Information Technology (IT) Indonesia yang saat ini mungkin bisa dikategorikan sedang rame dan cukup menggeliat adalah startup lokal. Istilah startup company sebetulnya mengalami “penyempitan” makna seiring industri IT makin berkembang di abad 21.  Segala jenis bidang usaha apapun yang baru berdiri pada dasarnya acapkali disebut dengan startup. “Penyempitan makna” yang terjadi kemudian yakni pendefinisian istilah startup sebagai sebuah usaha di industri berbasis IT. Jadi, apa itu startup lokal? Kalau dalam terjemahan bebas berarti sebuah usaha atau bisnis berbasis “dunia maya” atau IT (bukan sekadar official web komunitas & organisasi, forum non-profit atau semacamnya), dengan memanfaatkan kemajuan dan perkembangan komputer + internet.  Lalu apa bedanya dengan bisnis online? Barangkali bisa dikatakan beda-beda tipis. Kini pelaku usaha berbasis web lebih suka menyebut diri mereka sendiri sebagai pelaku usaha startup lokal; yang mana variansi jenisnya yang lebih beragam dan lebih luas dari definisi bisnis online, serta dengan memanfaatkan inovasi yang cukup terkini seiring dengan teknologi web 2.0 atau science 2.0 (mungkin mulai semarak sekitar tahun 2007 ke atas). Perkembangan bisnis startup lokal tak lepas dari hanya sekadar perkembangan teknologi komputer, internet dan pengguna dunia maya. Tapi kemudahan dalam memulai usaha, tidak selalu membutuhkan banyak orang serta fleksibilitas dalam hal ruang dan waktu juga merupakan beberapa alasan lainnya. Selain itu, lomba dan kompetisi (misalnya SparxUp) juga turut mendukung terciptanya iklim perkembangan bisnis startup lokal. Telah ada pula komunitas bagi penyedia atau pelaku bisnis startup lokal di beberapa kota. Seperti Bancakan (Jogja) dan Stasion (Malang). Tentu sangat bagus dan upaya yang patut diapresiasi serta didukung untuk perkembangan dunia IT yang lebih baik dan sehat di Indonesia. Tidak hanya komunitas, tapi semacam ajang pertemuan silaturahmi – semacam konferensi – atau dalam bahasa yang lebih ringan dipahami adalah kopdar; belum lama ini telah diselenggarakan di Jakarta.

Baca Lagi Ah!





Es Teh

20 05 2011

Kenapa es teh? Karena Teh adalah minuman sejuta umat rakyat Indonesia :). Hampir semua warung makan dan sejenisnya selalu menyediakan minuman teh. Walaupun mungkin di beberapa restoran atau kedai makan mewah khusus orang berduit tidak ada menu minuman teh yang disajikan untuk konsumen; mungkin minuman-minuman yang lebih “berkelas”. Walaupun sepertinya teh tetap akan ada di dapur mereka, tapi tidak untuk dijual. Mungkin :). Teh hangat dan es teh, adalah minuman pilihan pertama. Yang kedua adalah jeruk hangat dan es jeruk. Bagi yang sedang ingin diet gula atau penderita diabetes pun tetap bisa mengkonsimsi teh; teh tanpa gula. Jadi, jika melihat begitu besarnya pangsa pasar teh maka tak heran begitu banyak pula kebun teh dan perusahaan teh di Indonesia. Jangan sampailah impor teh; seperti komoditi yang sudah-sudah macam beras, daging, dan garam. Malu-maluin karena katanya negri ini punya banyak kekayaan alam :(.

Baca Lagi Ah!





Nilai Blog

11 05 2011

Sedikit selingan, maaf mungkin juga sedikit ketinggalan memberikan informasi. Karena ini bukan something new :D. Tapi juga tak sia-sia untuk sekadar disimak sambil lalu. Yaitu tentang nilai atau harga sebuah blog. Khususnya blog yang nebeng di wordpress.com. Dimana memang sebetulnya secara umum dilarang oleh pihak wordpress.com untuk ikut monetize blog semacam PTC (paid to click), PTA (paid to action), PTR (paid to review), affiliate banner, dan semacamnya. Tapi tetap saja sesekali memang ada yang melakukan hal itu. Belum ketahuan atau memang terkadang pengawasaanya kurang ketat? Entahlah. Nha jadi kembali lagi ke masalah nilai atau harga sebuah blog , jikalau tidak bisa dijadikan monetize blog, lalu bagaimana jika ingin menjualnya (misalnya dengan daya jual macam Page Rank dan trafik kunjungan yang memuaskan)? Mungkin arti menjual disini juga tidak melulu bersifat ekonomis, tapi paling tidak bisa menaikkan gengsi dan percaya diri. Ya, atau mungkin sekadar iseng ingin mengetahui berapa nilai blog he3!. Kan juga bisa ditaruh sebagai banner tambahan.

Baca Lagi Ah!





40 Days in Europe

3 11 2010

Selain kisah inspiratif tentang perjuangan anak bangsa yang belajar di negri orang dalam Laskar Pelangi dan Negri Van Oranje, satu lagi kisah lain yang patut disimak yakni 40 Days in Europe. Penulis adalah alumnus Teknik Industri ITB 2001, yang kemudian bersekolah lagi master dan doktoral di daratan Eropa. Ini bukan kisah baru, tapi buku terbitan tahun 2007 Bentang Pustaka ini menceritakan perjalanan ESA (Expand Sound of Angklung) di tahun 2003. Ya, dalam buku ini ada cerita tentang sisi lain bagaimana mengharumkan nama bangsa di Eropa dengan jalan bermusik. Musik tradisional. Kisah bermula dari pengalaman penulis ketika cedera sewaktu bermain sepakbola. Dan tertulislah kisah suka-duka dalam buku ini. Kisah ini tidak hanya menceritakan satu orang sentral. Tetapi beragam, dan itulah uniknya. Selengkapnya disini. Untuk melihat salah satu video pertunjukannya disini.





Indonesia Mengajar

22 07 2010

“Setahun Mengabdi, Seumur Hidup Memberi Inspirasi – Anies Baswedan on Indonesia Mengajar”

Indonesia Mengajar adalah gerakan yang digagas oleh Anies Baswedan untuk mempersatukan pemimpin-pemimpin muda Indonesia yang ingin membantu generasi berikut melalui jalur pendidikan. Indonesia Mengajar memberi kesempatan kepada lulusan terbaik perguruan tinggi di Indonesia untuk bergabung bersama dan bekerja sebagai Pengajar Muda di SD yang kekurangan guru di berbagai daerah di Indonesia selama 1 tahun. Indonesia Mengajar (IM) memberikan para Pengajar Muda pelatihan profesional dan kepemimpinan, dan akses ke berbagai perusahaan lokal dan multinasional ternama sesudah menyelesaikan program IM.

Fasilitas :
– Pelatihan bersertifikat (corporate trainings, leadership trainings, teacher’s trainings dll.
– Kompensasi gaji yang kompetitif.
– Asuransi kesehatan dan fasilitas lain yg memadai untuk menunjang tugas sebagai Pengajar Muda di daerah.
Baca Lagi Ah!





Jurnal Penelitian Indonesia

3 06 2010

Jurnal yang dimaksud di sini bukan berarti catatan harian, atau salah satu jenis metode dalam akuntansi. Tetapi merupakan resume gambaran sebuah penelitian ilmiah (baik science maupun sosial) yang telah berlangsung, atau ide penelitian yang sedang akan dilaksanakan. Bisa bersumber dari skripsi, tugas akhir, thesis, disertasi, PKM (Penelitian Kreativitas Mahasiswa) dan penelitian ilmiah lainnya baik dari lingkungan kampus maupun non-kampus. Jurnal seringkali dijadikan sebuah referensi dalam melakukan penelitian. Menjadi salah satu acuan state of the art. Landasan teori.

Baca Lagi Ah!





Negara Kesepakatan

22 08 2009

“Besok ngumpul di rumah Tari ya”, begitulah bunyi sms yang dikirim oleh Santoso. Komandan urusan stand pameran pada acara registrasi dan penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Di kampus terkemuka di wilayah Jogja. Sms tersebut untuk teman-temanya. Teman baik satu kampus maupun bukan. Yang bersedia diajak usaha dan jualan bareng dengan pangsa pasar tentunya adalah mahasiswa baru. Mahasiswa yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Acara jualan kali ini akan diisi beraneka ragam. Mulai dari yang biasa, yakni peralatan dan perkakas untuk ospek, sampai makanan dan minuman. Jadi lain dari kebiasaan Santoso pada tahun-tahun sebelumnya yang hanya berjualan peralatan dan perkakas ospek seperti co-card, buku, dan lain sebagainya. Lebih berpikiran ke depan, benar-benar ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jualan makanan dan minuman. Rencana yang akan dijual mulai dari makanan ringan atau snack sampai makanan berat, dan aneka minuman sampai softdrink.

Jumat itu, acara kumpul dimulai lagi. Setelah acara kumpul rapat terbatas di rumah Tari, jalan Kantil 9. Kini, rapat mencoba mengumpulkan semua teman. Bertempat di ruangan rapat laboratorium kampus. Mumpung Santoso masih jadi asisten. Sehingga akses ruangan mudah. Semua teman dikumpulkan. Sudah lumrah jika para mahasiswa yang terkumpul di jogja berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Ya, itulah juga yang terjadi di ruangan laboratorium pada jumat siang itu. Santoso yang asli anak Tangerang berperan sebagai komandan atau koordinator. Tari membuka pertanyaan, “Besok mau jualan apa aja sih?”. Tari yang punya rumah di jalan Kantil 9 sebenarnya adalah gadis cantik asal Bontang, Kalimantan. “Kita nyari supplier roti aja, aku bisa usahain itu”, anak Lampung bernama Azwan menimpalinya.  “Terus target kita berapa mahasiswa yang akan membeli perkakas ospek? Kaitannya sama modal nih”, Rahma kembali memberedel pertanyaan, agas diskusi kembali semarak. Rupanya gadis tomboy penyuka basket asal Pekalongan ini memang sangat berminat dengan usaha bisnis kecil-kecilan ini. “Kita nyari supplier nya jangan hanya makanan dong, minuman juga. Kan pasar masih terbuka lebar”, Zahra ikut memberikan saran. Gadis manis bernama Zahra itu sudah berpengalaman dalam hal jualan. Karena orang tuanya di Semarang punya sebuah warung makan yang lumayan laris. “Kira-kira urunannya per orang ga sampe jutaan kan?he he he”, si Fadli warga pribumi Jogja langsung to the point bertanya ke hal yang inti. Diskusi terus berlanjut. Tak luput semua yang datang memberikan urun rembug. Teman Santoso satu kos yang beda kampus juga tak luput. Yakni Adam yang asli Palopo, Titus warga Klaten, Fredy yang asli Manado dan Hens Leo yang berasal dari Surabaya.

Akhirnya semua sepakat membahas rencana membuat stand pameran untuk registrasi mahasiswa baru. Urusan administrasi dan biaya pendaftaran ke panitia universitas akan diurus sendiri oleh Santoso. Kesepakatan mulai dari kapan mulai jualan, apa saja, nama stand, jumlah nominal urunan dan semuanya. Karena hari esok akan segera tiba hari H. dan kesepuluh mahasiswa tersebut adalah bukan mahasiswa baru tingkat satu, tetapi telah menginjakkan kakinya di Jogja selama beberapa tahun untuk menuntut ilmu.

Akhirnya hari H pun tiba. Semuanya berkumpul di boulevard kampus. Sudah dengan perlatannya masing-masing. Dan sudah dengan barang dagangan. Siap jual. Mirip toko kelontong kecil. Banyak. Bagi-bagi tugas sudah dilakukan. Yang bertugas mengurusi supplier, mencari pasar, operasional, semuanya berpencar. Setiap anggota dari kesepuluh orang tersebut mempunyai potensi yang berbeda-beda. Ada yang punya peralatan lengkap dan moda transportasi mobil, cakap dalam berbicara, smart dalam bertindak dan masih banyak lagi. Semua potensi tersebut disatukan untuk satu tujuan kesepakatan bersama yakni mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Secara mandiri.

Dan akhirnya hasilnya pun tak mengecewakan. Setelah hari H usai, pesanan untuk peralatan ospek terus berdatangan. Dan masih akan berlanjut selama kurang lebih satu minggu. Terkadang ada beberapa anggota tim yang tidak bisa ikut gotong royong pada waktu-waktu tertentu. Misalnya ketika minggu pagi sedang ramai-ramainya pesananan, Titus dan Fredy harus pergi ke gereja untuk menempuh ibadah mereka masing-masing. Walaupun berbeda lokasi peribadatan. Atau ketika suatu hari Hens Loe harus ijin sejenak untuk mengikuti ritual peribadatan di sebuah Pura. Tetapi itu semua tidak menjadikan permasalahan bagi yang lain, yang punya keyakinan muslim. Dan punya idealisme bekerja atau falsafah masing-masing. Beragam. Hingga akhirnya semua bisa tersenyum senang. Keuntungan membludak. Makan-makan bebakaran ayam segera dilaksanakan pada malam hari. “Wah, tak sia-sia kita capek-capek minggu kemaren. Untung bukan pas waktunya aktif perkuliahan. Tahun depan lagi yuk. Syukur-syukur bisa bikin usaha sendiri bersama kelak”, begitu seloroh Santoso ketika acara makan-makan bersama. Suasana meriah.

Dan seiring waktu berganti. Hari berganti dan seterusnya. Rupanya mereka ketagihan untuk selalu membuka usaha kecil-kecilan seperti itu. Bukan menunggu event tahunan, tetapi jika setiap ada kesempatan apalagi di kampus-kampus lain selalu diikuti. Tidak melulu sepuluh orang yang selalu tergabung dalam tim. Bisa kurang, tapi lebih sering lebih.

Berawal dari rintisan wirausaha kecil-kecilan semasa di kampus itu, Santoso dan rekan-rekan sudah memutuskan untuk terjun ke dunia pencipta lapangan kerja. Ketika semasa kuliah, mereka sudah bisa membeli kebutuhan sehari-hari sendiri. Dan kini, sesudah semua selesai menempuh perkuliahan, bersepakat meneruskan rintisan usaha yang dahulu. Membuat sebuah usaha bersama dalam bidang ritel. Supermarket.

Tidak mudah memang memulai sebuah usaha besar. Butuh perjuangan ekstra. Tetapi dengan semangat kerja keras dan doa, hal itu tetap akan tercapai. Dan setelah beberapa tahun akhirnya usaha Supermarket tersebut tidak sia-sia. Tahun demi tahun telah berganti, ratusan bahkan ribuan karyawan telah dimiliki.

***

Baca Selengkapnya