Sistem Teknologi Informasi

20 08 2009

Apa bedanya Sistem Informasi Manajemen (SIM) dengan Sistem Teknologi Informasi (STI)? Buku ini akan menjawabnya. Buku karangan professor Jogiyanto Dosen Tetap UGM yang satu ini banyak mengupas perbedaaanya. Buku yang ditulis beliau telah terbit pertama tahun 2003 oleh Andi Jogja tetapi telah mencapai edisi ketiga saat ini.

stiDimulai dari daftar pustaka, beliau mencoba menuturkan secara runtut konsep teknologi informasi. Dimulai dari terminologi kata STI sampai hal teknis menyangkut software dan hardware. Ditinjau dari ilmu peristilahan kata atau terminologi kata, sebenarnya SIM dan STI tidak berbeda jauh dari segi konsep, bahkan takaran operasional. Lebih banyak bisa diartikan bahwa penulis ingin menambah wacana keilmuan mengenai SIM. Jika menilik pada bagian atau bab 1 terlihat perbedaan antara SIM dan STI; STI merupakan sebuah konsepsi yang lebih besar daripada SIM. Artinya di dalam STI terdapat unsur SIM. Padahal jika membaca buku lebih lanjut, tidak banyak perbedaan dengan buku SIM pada umumnya. Hanya saja seperti tadi telah dipaparkan, penulis mencoba membuat atau menambah khasanah keilmuan baru dengan teminologi yang sedikit diperluas. Beberapa tambahan atau perbedaan dengan buku mengenai SIM pada umumnya adalah pada penjelasan mengenai konsep teknologi lebih banyak dan istilah-istilah yang berhubungan dengan teknologi juga dipaparkan penulis, setelah pembahsan setiap bab. Dilengkapi pula dengan pertanyaan latihan. Karena memang konsep buku ini dikembangkan oleh penulis lebih untuk persiapan materi perkuliahan. Terlihat di bagian depan buku (kata pengantar) mengenai susunan pertemuan kuliah.

Tetap saja siklus pengolahan data berikut ini nampak pada semua buku yang berhubungan dengan sistem informasi. Ya, karena konsep dasar ini selalu terpakai. Pembuatan sisten informasi selalu terdapat pemodelan dan melibatkan basis data di dalamnya. Kumpulan data. Data yang diolah sehingga memberikan kemanfaatan akan menjadi informasi.

sim

Setelah terminologi istilah STI dibahas, penulis memaparkan terlebih dahulu mengenai teknologi sistem computer (perangkat keras), software sampai pada bahasa pemrograman seperti FORTRAN, BASIC, dan COBOL. Tak lupa mengenai jaringan dan protokol. Kemudian menuju ke bab selanjutnya, penulis membeberkan mengenai aplikasi system informasi di berbagai aspek atau bidang. Seperti system informasi akuntansi, pemasaran, produksi, sumber daya manusia, keuangan dan konsep besar ERP (Enterprise Resource Planning). Aplikasi sistem informasi lain yang cukup terkini juga tak luput dibahas. Jika pada buku mengenai SIM yang ditulis oleh penulis yang sama lebih banyak memaparkan jenis sistem informasi yang termasuk jenis SIM, maka pada buku ini tidak hanya itu. Selain DSS, sistem pakar, neural artificial, sistem informasi geografis, sistem informasi eksekutif dan aplikasi kantor (Office Automation System) juga tak lupa dipaparkan.

Bias dibilang karena saking cukup lengkapnya buku ini, penulis juga mencoba sedikit mengungkapkan metode ilmiah pengembangan SIM. Yang pertama diutarakan adalah jenis SDLC (System Life Development Life Cysle). Kemudian metode-metode lain sebagai wacana tambahan; prototyping, outsourcing dan masih banyak lagi. Dan di akhir bab, ada mengenai etika dan politik dalam sistem informasi. Suatu hal yang kadang dianggap sepele tetapi justru terkadang berfungsi sebagi kunci pengembangan sebuah sistem informasi di perusahaan atau organisasi pada umumnya. Maksud dari penjelasan etika misalnya penjelasan permasalahan seperti privasi, kepemilikan intelektual, kemanan (security) dan lain-lain.

Secara umum, buku ini sangat bagus sebagai referensi bagi pelajar, mahasiswa (ekonomi, teknik, sosial, hukum) atau kalangan praktisi yang berminat mengenai sistem informasi.





Managing Information Technology

22 05 2009

mIT2

Mempelajari text book dari luar (terbitan asing, bukan dalam negri) serasa menyenangkan sebenarnya. Bukan karena tidak suka produk dalam negri. Tetapi para pakar itu terkadang bisa menjelaskan (baca : benar-benar menjadi guru) dengan bagus. Mulai dari filosofis maksud konten meteri dari buku yang ditulis, maupun penejlasan teknis dengan contoh. Yang jelas menjadi kekurangan adalah karena basic penelitian mereka dilakukan di sana. Jadi terkadang ada beberapa contoh yang kurang pas diterapkan di Indonesia. Memang text book asli khas Indonesia yang berbobot mengenai materi-materi perkuliahan belum begitu banyak secara umum.

Buku ini membahas mengenai pengelolaan teknologi informasi. Apa itu definisi teknologi informasi dan apakah sama dengan sistem informasi. Ditulis oleh E. Wainright Martin et all (Prentice Hall, cetakan pertama tahun 1999). Dalam sebuah pengantar di Bab I penulis menceritakan asal mula komputer pertama. Dikatakan bahwa komputer pertama tahun 1946 bernama ENIAC (Electric Numerical International Computer), yang diprakarsai oleh Dr. John W. Manlchy & J. Presper (dari Moore School Electrical Engineering; Univ. Pennsylvania). Buku ini memang terbitan lama, tetapi cukup bagus dalam runtutan ceritanya. Karena setelah penulis bercerita mengenai sejarah dan jenis-jenis gambaran apa saja teknologi informasi, maka selanjutnya dipaparkan mengenai sistem informasi manajemen. Bermula dari pendefinisian apa itu sistem. “System is a set of interrelated components that must work together to achieve some common purpose (page 272).” Berikut adalah gambar betapa jeleknya sebuah sistem yang diciptakan oleh seorang designer rumah. Gambar yang lucu dan menarik.

mIT

enulis menuntun pula bagaimana menggambarkan membuat wide concept sebuah sistem informasi manajemen. Basic model sebuah information system secara umum adalah :

mTi3

Ada beberapa notasi dasar untuk pembuatan model (model jenis visual). Dicontoh dibawah ini sistem persediaan sederhana untuk barang jadi. Ada notasi untuk penyimpanan (storage), aliran data, proses/aktivitas dan entitas.mIT3Model atau teknologi baru untuk jenis teknologi informasi diramalkan oleh penulis akan terus berkembang. Lihat saja dengan perkembangan dari jenis seperti Electronic Data Interchange (EDI), internet, sampai Enterprise Resources Planning (ERP).





Sistem Informasi Strategik

21 03 2009

sisPenulis adalah Prof.Dr. Jogiyanto HM, MBA, Akt. Dosen tetap FE UGM. Telah menulis banyak buku mengenai sistem informasi, teknologi informasi, sampai ekonomi mikro. Buku edisi kedua telah dicetak tahun 2006. dengan sebelumnya cetakan pertama tahun 2005, dan penerbitnya sama; Andi Yogyakarta. Tebal buku sekitar 400-an halaman.

Sistem teknologi informasi sudah menjadi bagian tak terpisahkan di era globalisasi saat ini. Jika dikaitkan dengan manajemen perusahaan, sudah mutlak bahwa perencanaan pembuatan strategi yang melibatkan unsur teknologi informasi menjadi sesuatu hal yang sangat penting. Terutama perusahaan yang mempunyai core business berkaitan dengan teknologi. Strategi yang dimaksud di sini adalah “rencana permainan” (game plan) yang dilakukan oleh manajemen untuk memposisikan perusahaan di dalam arena pasar yang dipilih supaya dapat memenangkan kompetisi, memuaskan pelanggan-pelanggan dan mencapai kinerja bisnis yang baik (halaman 31).

Konten yang termuat dalam buku ini adalah mengenai konsep dasar sistem informasi strategic, manajemen strategic, strategi perusahaan, model penerapan strategi, rekayasa bisnis, EDI / Electronic Data Interchange (halaman 253), model bisnis, perencanaan strategik sistem teknologi informasi, dan penyelerasan antara perencanaan bisnis dengan perencanaan teknologi informasi.

Penulis memang memang mencoba menghadirkan istilah Sistem Infromasi Strategik / Strategic Information System (SIS) sebagai sebuah istilah keilmuan baru yang spesifik. Tapi sayangnya sampai tahun 1990-an belum ada kesepakatan bersama dan konsensus mengenai SIS. Para ahli masih mendefinisikan secara bebas. Sedangkan menurut penulis SIS adakah suatu sistem informasi atau sistem-sistem informasi apapun di level manapun (level manajemen perusahan; bawah, menengah dan atas) yang mendukung atau mengimplementasikan strategi kompetisi yang memberi keuntungan kompetitif bagi perusahaan melalui efisiensi internal danefisiensi komparatif sehingga membantu perusahaan memberikan keuntungan kinerja secara signifikan dan meningkatkan kinerja jangka panjangnya.

Disinggung pula berbagai metode manajemen strategi perusahaan. Misalnya rekayasa bisnis. Menurut Hammer dan Champy (1993) ada dua sisi, yakni perubahan bisnis secara internal (Business Process Reengineering / BPR), dan secara eksternal dengan Business RelationshipReengineering / BRR). BPR sangat mengacu pada perubahan radikal perusahaan. Misalnya proses bisnis di dalam perusahaan dilakukan oleh tim, pekerjaan multidimensi, kompetensi berdasarkan hasil sampai kustomisasi missal. Tahapan dalam BPR (Turban et al., 1996) dihubungkan dengan 3R, yakni redesign, retool, dan reorchestrate. Metode manajemen strategi internal lain yang dicoba diungkapkan adalah TQM (Total Quality Management). TQM berfokus pada proses bukan produknya dan pencegahan inspeksi. Teknik yang biasanya dipakai dalam TQM adalah benchmarking, fishbone diagram, pengendalian proses statistik, team building, diagram pareto dan work analysis.

Penulis juga mengetengahkan EDI sebagai salah satu solusi yang mungkin dapat diaplikasikan di perusahaan sebagai jenis SIS. EDI didefinisikan sebagai suatu penggunaan sistem komputer di beberapa organisasi secara terpisah untuk dapat mengirimkan data secara elektronik lewat dokumen-dokumen bisnis yang standar.

Di dua bab terakhir, penulis berfokus pada bagaimana membuat dan menyelaraskan manajemen strategik sistem teknologi informasi. Secara umum proses dari perencanaan strategik bisnis yang disebut dengan manajemen strategik terdiri dari lima tahapan utama, yaitu analisis strategi (strategy analysis), formulasi strategi (strategy formulation), mengukir strategi (crafting strategy), implementasi strategi (strategy implementation), dan mengevaluasi strategi (strategy evaluation). Bagaimana menyelaraskan antara Perencanaan Strategik Bisnis (PSB) dengan Perencanaan Strategik Sistem Teknologi Informasi (PSSTI)? Penyelarasan (alignment) mengacu pada model yang dikembangkan oleh Henderson dan Venkatraman (1999). Yang pertama dimulai adalah sebuah pilihan bergantung organisasi yang berasangkutan.

sisselaras





Pendidikan di Abad Informasi

23 09 2008

Pendidikan merupakan pilar penting berkembangnya suatu bangsa. Kualitas suatu bangsa atau negara banyak bergantung pada sistem pendidikan yang tumbuh pada negara tersebut. Pendidikan yang tidak hanya mencakup formal (sekolah), tapi juga pendidikan di luar sekolah, sangat menentukan karakter masyarakat suatu bangsa.

Pengertian pendidikan

Pendidikan sering dikaitkan dengan pembelajaran dan pengajaran. Sebenarnya ditinjau dari makna aslinya, kata – kata tersebut mempunyai hakekat pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengejaran dan pelatihan; proses, pembuatan, cara mendidik. Nah, dari situ kita sudah dapat menyimpulkan bahwa makna pendidikan mempunyai cakupan yang lebih luas dari kata pembelajaran dan pengajaran. Makna kata pembelajaran dan pengajaran termasuk dalam kata pendidikan.

Salah satu “guru pendidikan” kita, yakni Nurcholis Madjid (yang juga seorang cendekiawan muslim), pernah menulis mengenai pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan berasal dari bahasa Inggris, educe, yang berarti mengeluarkan. Kata educe berubah menjadi educate, yang berarti mendidik. Beliau (Cak Nur) juga menjelaskan bahwa pendidikan atau tarbiyah, mempunyai makna meningkatkan. Seorang filsafat terkenal, Galileo, pernah mengatakan “Kau tidak akan pernah mengajari seseorang sesuatu, tapi kau hanya mengeluarkan kemampuan itu dari orang tersebut”. Hal ini sebenarnya senada dengan yang diungkapkan Cak Nur mengenai makna pendidikan. Satu lagi seorang penulis buku tentang pendidikan dan kewirausahaan, yakni Andrias Harefa, dalam salah satu bukunya menyampaikan bahwa pendidikan pada hakekatnya merupakan proses perubahan seseorang menuju dewasa dengan karakter yang berbeda-beda.

Jadi, pendidikan bermakna suatu proses pengajaran, pembelajaran seseorang sehingga berkembang menuju kedewasaan sesuai dengan karakternya. Hasil dari pendidikan seharusnya tidak homogen pada setiap orang karena setiap orang mempunyai watak / ciri khas masing-masing. Maksud dari kedewasaan adalah mempunyai kemampuan atau kecerdasan yang sesuai dengan karakter. Hal inilah sesungguhnya substansi dari pendidikan. Jadi bukan hanya semata-mata memberikan materi atau pelajaran saja, akan tetapi mencakup proses perkembangan seseorang menuju pribadi yang mempunyai kelebihan dan siap mengarungi kehidupan.

Pendidikan meliputi pendidikan formal, informal dan nonformal. Pendidikan formal berlangsung di lembaga-lembaga formal (resmi) yang meliputi sekolah, madrasah, perguruan tinggi, dsb. Pendidikan nonformal mencakup pembelajaran di kursus-kursus, les, atau lembaga sejenisnya. Pendidikan yang berlangsung di luar kedua macam pendidikan (formal dan nonformal) di atas, adalah termasuk pendidikan informal. Ini terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat, teman sebaya, dan media lainnya yang sama. Ketiganya merupakan pendidikan yang sama pentingnya dalam menciptakan manusia-manusia yang dewasa, berkarakter mantap, dan mempunyai kecerdasan. Pendidikan formal sering lebih diutamakan. Padahal seharusnya ketiganya sama pentingnya. Dan hal pertama atau fase pertama yang harus diperhatikan adalah ketika masa kanak-kanak.

Pendidikan pada anak merupakan hal fundamen yang tidak boleh meleset dalam pelaksanaanya. Salah satu kesalahan yang terjadi hingga mengakibatkan terciptanya probadi yang kurang baik adalah ketika penanaman dasar pendidikan pada anak tidak berjalan dengan baik. Mengutip pernyataan Robert T. Kiyosaki, bahwa sebenarnya setiap anak dilahirkan jenius dan kaya. Ini menggambarkan jika anak mempunyai dasar kemampuan yang sama untuk berkembang, walaupun hal atau jenis kemampuan yang dikembangkan jelas berbeda. Pernyataan tersebut relevan dengan pengertian pendidikan yang menyatakan jika orang mempunyai karakter berbeda. Ketika anak-anak diajari pelajaran matematika, maka jelas nantinya akan ada anak yang pandai dan anak yang bodoh. Yang perlu diperhatikan sesungguhnya jangan sampai kita memaksakan dengan cara yang sama untuk setiap anak, sehingga anak tersebut dapat menguasai materi pelajaran tertentu. Begitu juga bila masa remaja, dan dewasa. Setiap orang akan tertarik pada materi atau pelajaran yang berbeda, tidak selalu homogen, dan hasilnya pun berbeda.

Hal yang harus diperhatikan ketika memberikan pendidikan kepada anak adalah bagaimana memotivasi si anak untuk dapat menumbuhkan keinginannya belajar pada sesuatu hal yang ia senangi (dalam arti positif). Keluarga merupakan lingkungan pertama yang ditemui si anak. Orang tua dan keluarga adalah orang-orang yang pertama menanamkan dasar pendidikan kepada anak. Setelah itu mereka (anak-anak) akan belajar atau bergaul dengan teman-teman sebaya dan masyarakat sekitar. Ketertarikan anak akan sesuatu berbeda-beda. Kadang kala, orang tua sering memaksakan si anak untuk menuruti kecerdasan atau keahlian tertentu yang harus dilakoninya. Walaupun pengawasan dan pembatasan oleh orang tua juga perlu. Secara umum menurut Howard Gardner ada 7 kecerdasan/kejeniusan, yakni

  1. Linguistik-verbal: kecerdasan dalam bahasa.dan pemahaman.
  2. Numerik: kecerdasan mengenai hitungan.
  3. Spasial: kecerdasan berkenaan dengan ruang dan tempat (imajinasi).
  4. Fisik: kecerdasan dalam menggunakan fisik tubuhnya.
  5. Intrapersonal: kecerdasan mengelola emosi
  6. Interpersonal: kecerdasan berhubungan dengan orang lain.
  7. Lingkungan: kecerdasan mendayagunakan lingkungan alam sekitar.

Kecerdasan seseorang itu natural dan tidak dipaksakan. Seseorang bisa saja mempunyai keahlian atau kecerdasan lebih dari satu. Oleh karena itu formula yang digunakan seseorang untuk sukses mengarungi hidup akan berbeda-beda. Perkembangan kecerdasan seseorang selalu kontinu dan tidak mungkin langsung begitu saja ditemukan. Hal ini karena terpengaruh oleh berbagai lingkungan dimana seseorang berkecimpung, dan input pendidikan lain yang masuk ke diri seseorang.

Kenyataan pendidikan di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mempunyai kurikulum kurang berkembang. Sudah sejak lama kita mempunya kurikulum yang “itu-itu” saja. Hanya baru-baru ini kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan. Karena baru dimulai dan dengan segala keterbatasan resource, tentu saja KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) itu belumlah optimal seperti yang diharapkan. Kebanyakan kurikulum di beberapa negara adalah kurikulum yang bersifat stagnan. Bahkan Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Kid Smart Kid pernah menyinggung bahwa sistem pendidikan hanya menciptakan karyawan dan tentara. Ini relevan dengan system pendidikan di negara kita. Sesungguhnya sistem pendidikan kita lebih pantas disebut dengan sistem pembelajaran atau pengajaran. Masih sedikit proses pendidikan (sesuai dengan pengertian yang dijelaskan di atas) yang termaktub. Orang-orang yang mengaku pendidik, lebih banyak memberikan pembelajaran ketimbang bagaimana anak didiknya berkembang dan mempunyai bakat tertentu. Anak didik seolah dipaksa untuk mempunyai harus mempunya “output” yang sama semua. Keahlian di luar akademis seolah dikesampingkan, walaupun saat ini mulai dikembangkan.

Kesuksesan seseorang tidak hanya dinilai dengan kemampuan akademis di bangku sekolah. Untuk menjadi sukses masih banyak kecerdasan-kecerdasan di luar akademis yang dibutuhkan. Walaupun keahlian akademis juga tetap mempunyai arti. Kita lihat bahwa kenyataan di masyarakat banyak lulusan PT (perguruan tinggi) yang hanya berpangku tangan menunggu pekerjaan.

Di Indonesia, anak didik lebih mengarah diajari belajar “bagaimana”, atau learn how. Itu artinya kita lebih diarahkan untuk “bercerita” dan “berteori”. Ini sebenarnya tidak buruk, tapi yang membuat kurang berarti adalah pelaksanaan/praktiknya tidak diajarkan. Sehingga secara mudahnya kita lebih banyak hanya diajari konsep atau teori mengenai sesuatu tanpa pernah mencoba atau mengalaminya sendiri. Konsep sistem pendidikan yang lebih maju adalah dengan learn about dan learn with.

Salah satu konsep yang bisa dicontoh dari beberapa negara maju adalah menggunakan kurikulum berbasiskan masalah. Jadi anak didik awalnya diberikan masalah, lalu mencoba menyelesaikannya sendiri. Setelah itu, baru diberikan bagaimana sebenarnya permasalahan/persoalaan itu terpecahkan. Keunggulan kurikulum itu ialah anak didik bisa berkecimpung langsung dengan permasalahan, mempelajari masalah itu, dan mencoba memecahkannya. Beberapa Universitas di negara kita mulai mengembangkan kurikulum semacam ini.

Menyikapi abad informasi

Dahulu, ketika orang lulus sarjana dan mengantongi gelar, begitu mudahnya mendapat pekerjaan. Bahkan dengan gaji tidak sedikit dan ketidakkhawatiran di masa tua. Tetapi itu dahulu saat abad atau era perindustrian berlangsung. Bukan hanya di negara-negara pelopor reformasi industri, akan tetapi negara kita juga mengalami kondisi yang sama. Di abad industri, pada saat belum banyak orang “berpendidikan”, sistem pendidikan yang ada pada waktu itu sangat mendukung kesuksesan seseorang. Namun seiring berkembangnya zaman, telah banyak tercipta para lulusan sistem pendidikan yang lebih banyak menciptakan “pekerja”. Ini membuat mereka yang sedang mencari pekerjaan terhambat. Artinya persaingan lebih ketat. Dan seiring itu pula, teknologi telah berkembang sedemikian rupa hingga teknologi merambah ke seluruh aspek kehidupan manusia.

Yang perlu dibenahi adalah sistem pendidikan kita. Dari analisis di atas, negara kita harusnya mengubah sistem pendidikan yang benar-benar mengusung pendidikan dalam arti yang semestinya(paparan pertama). Pendidikan merupakan proses pengembangan anak menuju kedewasaannya dengan kecerdasan yang berbeda-beda satu sama lain, dan formula keberhasilan yang juga berbeda. Kalau pengertian ini diimplementasikan dengan semestinya, sistem pendidikan kita akan mencetak generasi yang benar-benar terdidik, tidak terombang-ambing perkembangan zaman.

Tidak mudah memang melakukan hal itu. Ada banyak aspek yang akan termuati. Mulai dari membangun kurikulum yang solid dan pengaktualisasinya, tenaga pendidik yang tau benar konsep pendidikan dalam arti yang hakiki, serta anak didik yang mau dan mampu bekerja keras. Pengkonsepan kurikulum yang dapat menciptakan generasi tangguh di abad informasi membutuhkan pemikiran-pemikiran kritis. Tenaga pendidik juga harus meniadakan pemikiran lama yang cenderung hanya “mengajari”, tetapi tidak memberikan “pendidikan”. Konsep dasar pendidikan yang benar harus diimplementasikan dari lingkungan keluarga semenjak dini. Seterusnya, penciptaan lingkungan masyarakat, bangsa dan negara yang berkompetensi wajib ditumbuhkembangkan untuk mendukung proses pendidikan. Namun hal ini perlu dukungan optimal seluruh komponen bangsa.