Kriteria Jurnal Ilmiah

7 04 2012

Kriteria Jurnal IlmiahSalah satu tolok ukur kualitas dari Jurnal Ilmiah hasil penelitian adalah masalah akreditasi. Sayangnya hal semacam ini masih kurang mendapat perhatian bagi kalangan akademisi khususnya mahasiswa. Terkadang di mata kuliah Metodologi Penelitian juga amat jarang menyinggung masalah ini. Tentang penjelasan apa itu Akreditasi Jurnal Ilmiah. Sehingga harapan bagi pihak pengelola kampus, untuk bisa mengelola atau membuat Jurnal Ilmiah dan mendorong para dosen serta mahasiswa agar bisa menerbitkan Jurnal Ilmiah dengan rajin. Tak lupa sosialisasi atau pemasarannya disertai edukasi pemahaman yang benar tentang Jurnal Ilmiah.

Baca Lagi!





Beasiswa DataPrint

14 02 2012

Beasiswa DataPrintMasih ada kesempatan untuk memperoleh beasiswa DataPrint. Oleh karena itu informasi beasiswa berikut ini sayang untuk dilewatkan. Seperti dikutip dari web resminya; DataPrint (salah satu merk tinta refill  Indonesia) tahun ini membuka program beasiswa bagi 700 orang pelajar dan mahasiswa. Program beasiswa dibagi dalam dua periode (Periode 1: 1 Januari  – 30 Juni, Periode 2: 1 Juli – 31 Desember). Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta. Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi.

Baca Lagi!





Pekerjaan Sampingan Mahasiswa

21 01 2012

Pekerjaan Sampingan MahasiswaPekerjaan sampingan bagi para mahasiswa bisa menjadi cukup penting, penting, atau tidak sama sekali. Bergantung kondisi dan situasi. Mahasiswa yang dimaksud di sini adalah mereka yang menjadi mahasiswa setelah lulus pendidikan setingkat smu. Tugas mahasiswa yang utama adalah menuntut ilmu dan menyelesaikan pendidikan. Tapi selain itu mereka dituntut untuk berperan lebih agar memberikan kemanfaatan bukan hanya untuk diri sendiri. Salah satu diantaranya bisa melalui organisasi. Baik berupa organisasi eksternal kampus, internal kampus, hingga organisasi yang bersifat komersial misalnya pekerjaan sampingan. Pekerjaan sampingan yang dimaksud bisa berupa melanjutkan bisnis keluarga maupun merintis bisnis semenjak awal di bidang apapun.

Baca Lagi!





Tips Memilih Kos

1 11 2011

Tips Memilih KosTips memilih kos khusus mahasiswa, disesuaikan dengan kondisi dana dan kebutuhan. Kalau bisa jangan semata demi keinginan. Jika dana terbatas tapi kebutuhan kamar kos (bukan jenis kontrakan) cukup luas dikarenakan untuk keperluan menggambar (misal bagi mahasiswa teknik sipil atau desain interior) atau meletakkan barang-barang yang cukup banyak (misal mahasiswa yang juga merintis bisnis sehingga kamar juga digunakan sebagai “gudang mini”), maka barangkali lebih baik memilih lokasi kos yang jauh dari keramaian kota sehingga cenderung lebih murah. Pertimbangan memilih kos pada umumnya adalah lokasi, biaya, lingkungan dan keamanan. Tapi seiring perkembangan abad informasi saat ini, maka ada satu pertimbangan lain yang bisa dikatakan cukup penting. Simak kisahnya berikut ini :

Baca Lagi!





Kantin Bu Siti Cabang Deresan

22 10 2011

Kantin Bu Siti Cabang DeresanNamanya juga masih jadi anak kos, karena tidak masak sendiri maka mencari lokasi makan yang murah meriah demi hemat adalah hal utama. Tapi juga disesuaikan dengan rasa dan lokasi. Murah meriah tapi di lidah kurang sreg juga kurang diminati. Tapi yang rasanya wah berkelas juga bukan pilihan utama. Itu hanya sesekali saja saat momen-momen tertentu. Warung makan yang berlokasi di sekitar kos-kosan (mahasiswa dan atau pekerja) umumnya lebih murah, dengan nasi dan sayur yang boleh diambil sesuka hati, serta lauk-pauk dengan kualitas bersaing. Tapi untuk urusan pembayaran, jaman sekarang sudah jarang bahkan hampir tak ada model kasbon atau ngutang. Kantin Bu Siti Cabang Deresan Depok Sleman Yogyakarta, nasi sayur plus ayam dan 2 krupuk serta teh hangat cukup dengan Rp. 5.500,- (cukup murah untuk daerah Jogja pada umumnya, terutama bagi anak kos jaman sekarang). Jika minuman teh hangat diganti dengan minuman jus (alpokat, apel, mangga, dll), pun harganya masih sama. Selamat makan, dan selamat berakhir pekan!

Baca Lagi!





Jual Beli Atribut Ospek

21 09 2011

Ketika musim Ospek tiba beberapa saat lalu, salah satu pedagang musiman yang ikut bermunculan adalah penjual atribut ospek. Ya, jual beli atribut ospek memang cukup menguntungkan dan sudah cukup lazim, misalnya di kampus-kampus Jogjakarta (UGM, UII, UPN, STIE YKPN, dll). Mereka umumnya membuka lapak dagangan di pinggir-pinggir kampus, seperti di trotoar atau boulevard kampus. Para pedagang adalah masyarakat umum atau para mahasiswa senior. Atribut ospek yang dijual bermacam-macam. Mulai dari baju seragam, kotak bungkus nasi, topi, sampai atribut yang aneh-aneh sesuai pesanan dari mahasiswa baru yang mengikuti ospek atas perintah panitia ospek kampus setempat. Di satu sisi, hal ini memang menjadikan mahasiswa baru lebih mudah dan tak perlu repot-repot bersusah payah mencari atau membuat atribut ospek. Selain itu, hal ini merupakan rejeki tersendiri bagi para penjual atribut ospek.

Baca Lagi!





Tutup Pintu dari Luar

10 09 2011

tutup pintuSeorang mahasiswa datang terlambat masuk kelas. Di sebuah sesi kuliah yang diampu oleh seorang dosen muda yang cukup disiplin. Ia terlambat karena begadang semalaman. Biasa, anak muda masih gairah muda mahasiswa. Walaupun begadangnya sebetulnya bukan untuk urusan kepentingan kuliah. Kuliah di lantai dua. Ia terlambat datang 15 menit. Padahal peraturan yang disepakati bersama jika terlambat lebih dari 10 menit maka tidak diperkenankan masuk kelas atau mengikuti kuliah. Sehingga dianggap absen. Mahasiswa tadi tidak memperhatikan waktu. Dia pikir masih aman, bisa masuk ke kelas. Karena ini mata kuliah yang cukup penting, dan katanya ada quiz. Sehingga masih diperjuangkan, siapa tau masih ada kesempatan.

Baca Lagi!





Satu Lauk Satu Orang

26 01 2011

Barangkali sudah jamak anggapan bahwa mahasiswa perantauan dimana saja secara umum selalu hidup hemat alias ngirit. Pun dalam hal makan. Jadi yang namanya bisnis kuliner atau makanan di sekitar kawasan kampus atau tempat tinggal mahasiswa itu selalu laris manis menjanjikan asal dapat menjualnya secara jeli. Sekarang memang sudah tidak jamannya ngutang, atau dibayar bon, atau bayar belakangan. Itu jamannya era mahasiswa sebelum reformasi sepertinya. Tapi, jikalau mahasiswa perantauan itu makan di warung makan dengan porsi makan yang aduhai alias cukup jumbo khususnya bagi kaum lelaki, itu masih wajar hingga kini :). Nasinya dan sayurnya cukup buanyak. Apalagi makannya di warung makan kelas anak kos-kosan. Satu lagi yang masih khas bagi mahasiswa perantauan, istilah “perbaikan gizi”. Tentu sudah lazim diketahui banyak orang kan? Ya, begitulah demi hemat konon katanya, maka mengurusi makanan bergizi yang agak mahal tiap hari itu tidak mudah. Jadi, jika ada kesempatan makan gratisan di resepsi pernikahan tetangga atau semacamnya, pasti menjadi kabar gembira.

Baca Lagi Ah!





Mencegah Plagiat

22 04 2010

Belum lama ini, sebuah kampus ternama di bandung sedikit menjadi buah bibir lagi. Bukan karena namanya yang melegenda menjadi mantan kampus Bung Karno atau segudang prestasi membanggakan lainnya. Melainkan karena sebuah kasus plagiat yang membawa beberapa nama para pengajarnya. Dan menurut beberapa pakar serta aktivis akademis, sebetulnya fenomena plagiat di kalangan kampus bukan hal baru. Artinya kejadian di kampus bandung tersebut hanyalah sebuah sentilan kecil. Kasus lain yang tidak tercium media dan hanya menjadi rumor yang penyelesaiannya hanya di tingkat internal kampus masih banyak.

Mengapa bisa terjadi demikian? Alasan klise pandangan umum masyarakat bisa jadi mengarah ke sebuah ironi di mana perhatian seluruh komponen bangsa, baik pemerintah, swasta dan lainnya terhadap aspek pendidikan masihlah minim. Bukti sederhananya adalah anggaran dana dan gaji para pendidik. Lalu ada yang mengembangkan alasan lain yang lebih ilmiah dan tentu lebih berdasarkan pengalaman. Yakni mengenai masih minim dan kurangnya perhatian terhadap pemahaman dan definisi ”plagiat” di tingkat kampus atau perguruan tinggi. Misalnya ketika mata kuliah metodologi penelitian, yang notabene seharusnya diajarkan di setiap jurusan apapun dan diusahakan sedini mungkin diperkenalkan kepada mahasiswa, maka hal itu tidak banyak dilakukan oleh kalangan kampus.

Definisi plagiat dan seberapa jauh sebuah penelitian dikatakan plagiat juga jarang diajarkan. Bahkan pada buku panduan tugas akhir atau penelitian, masih jarang disebut dan disinggung tentang larangan plagiat. Mungkin karena pihak penentu kebijakan kampus bersikap prasangka baik bahwa akademisi kampus tak mungkin berperilaku curang. Tapi nyatanya, hal itu terjadi. Kekhawatiran jangka panjang, jangan sampai seperti kasus-kasus korupsi. Yang berulang dengan jangka waktu bulanan, bahkan mingguan dan rutin secara harian muncul kasus baru di media. Sehingga orang-orang yang berkecimpung di dunia pendidikan getol. Pendidikan ”anti-korupsi” diajarkan sedini mungkin. Bahkan semenjak sekolah dasar, dengan contoh membuat kantin kejujuran. Jangan sampai analogi ini membawa sebuah usulan untuk membuat mata kuliah berjudul ”anti-plagiat”. Terlalu naif.

Baca Lagi Ah!





Harga Mahasiswa

26 02 2009

Mengusung sebuah tag, slogan, lambang, nama dan sebuah iklan dengan embel-embel “mahasiswa”, nampaknya masih menjadi sebuah alternatif cara komunikasi (yang cukup efektif) dengan calon konsumen, stakeholder atau relasi / kolega. Tengoklah beberapa iklan produk dan jasa sebagai berikut.

mhsbakso

^^Makanan kantin kampus mahasiswa^^

mhspdg

~~Rumah Makan Padang~~

mhscd

~~Pusat Penjualan CD~~

mhsangk

~~Angkutan Mahasiswa~~

mhskursus

**Kursus English**

mhskompi

%% Supermarket Elektronik dan Komputer %%

mhssalon1**Salon**

mhspaketkursus1##Paket Khusus##

mhskaj@@ Kajian Tafsir Mahasiswa @@

Yang ini agak berbeda. Salah satu bukti akan kecintaan mahasiswa Indonesia terhadap alam semesta, kekayaan alam dan pemndangan alam Indonesia.

mhspalam

Seolah ingin dikatakan oleh sang pemilik produk, bahwa “harga mahasiswa murah”. Terbukti di produk makanan tersebut, kata “mahasiswa” merupakan daya tarik utama agar seorang calon pelanggan akan datang. Salah satu daya tarik untuk mekan di sebuah tempat adalah harga yang murah dan bersaing.

Padahal sebenarnya status sosial mahasiswa masih dianggap cukup mentereng di kalangan masyarakat secara umum. Tapi kalau membicarakan masalah produk-produk seperti makanan, buku, pakaian, elektronik, program-program kursus dan hunian (kos, asrama, dll); status mahasiswa laksana mendapat tempat tersendiri yang “mendapat dispensasi”. Entah apakah karena persepsi bahwa “mahasiswa adalah kaum terpelajar dengan uang pas-pasan, harus hemat, karena perantauan jauh dari orang tua”, masih melekat erat di masayarakat atau entah karena alasan lain. Padahal mahasiswa dari kalangan “punya” tak sedikit jumlahnya. Salah satu bukti status sosial mahasiswa masih cukup mentereng adalah bahwa mahasiswa terkenal suka demo. Dengan berbagai motif, entah menyuarakan suara hati rakyat, atas nama LSM (lembaga Swadaya Masyarakat), atau menentang kebijakan pemerintah seperti UU BHP (Badan Hukum Pendidikan). Status mahasiswa sebagai seorang yang terdidik masih sangat melekat. Puncak demo yang terkenal adalah saat rezim orde baru tergulingkan tahun 1998.

Namun tak jarang status yang dianggap mentereng bagi mahasiswa, tercoreng karena ulah-ulah kurang terpuji seperti tawuran antar mahasiswa, sampai isu “ayam kampus”. Sehingga status sosial itu turun. Status sosial yang berbuah menjadi sial. Dan harga mahasiswa menjadi fluktiatif. 😀