Piramida Sosial

5 11 2011

Piramida SosialBelum lama ini, beberapa media baik televisi maupun media cetak menayangkan berita mengenai salah satu kondisi sosial Indonesia. Yaitu orang kaya makin banyak dan makin kaya. Sedangkan yang miskin makin miskin, dan barangkali jumlahnya juga makin banyak. Rupanya disparitas bisa jadi makin lebar. Yang miskin seolah makin termarjinalkan. Benarkah demikian? Kalau mau berdebat mengenai angka dan data, bisa jadi lama dan banyak versinya. Semua punya argumen masing-masing yang cukup meyakinkan dan tentu tidak mau kalah, baik dari pihak yang meyakini kabar berita di atas maupun yang kontra. Tapi bahwa ada fenomena kesenjangan dalam piramida sosial yang acapkali muncul dan berulang itu adalah kenyataan. Sebutlah adanya perumahan kumuh di tengah hingar bingarnya ibu kota. Sekolah untuk rakyat di pelosok belum merata. Kasus susahnya masyarakat kecil mengakses kesehatan dan seterusnya.

Jadi lebih baik sampaikanlah solusi nyata yang telah dilakukan untuk mengatasi kesenjangan yang terlalu tinggi di piramida sosial masyarakat Indonesia saat ini. Misal berupa social entrepreneurship dan kepedulian terhadap pendidikan. Karena pendidikan adalah kebutuhan pokok. Kebutuhan pokok seanjutnya adalah pekerjaan. Sehingga bisa dipergunakan untuk mendapatkan pangan, sandang, dan papan.





Rumah untuk Rakyat

16 01 2010

Di hari minggu, di sebuah rumah reyot yang terbangun dari susunan kayu usang. Di sebuah pinggiran sungai. Sungai yang berwarna coklat kehitam-hitaman dan penuh gundukan sampah. Yang baunya begitu menyengat hidung bagi siapa saja yang belum terbiasa. Sungai itu membentang di sekitar pinggiran Ibukota.

Adalah sebuah keluarga yang sedang menonton televisi. Televisinya pun juga kelihatan usang. Karena terlihat jadul dan ukurannya yang mini. Keluarga itu terdiri sepasang suami istri dan seorang anak kecil. Anak kecil yang belum sekolah. ”Rumahnya bagus sekali ya Bu”, celoteh anak kecil itu dengan lugu. Di hari minggu memang beberapa stasiun televisi menayangkan promosi komplek hunian tinggal yang cukup elit dan mewah. Di samping acara-acara ringan dan menghibur keluarga seperti kartun anak.

Baca Lagi Ah!





Marjinal

14 09 2009

Entah dari mana istilah marjinal ini mucul untuk didefinisikan sebagai warga miskin, pemulung, pengamen, gelandangan, penduduk dengan status sosial rendah, dan pengemis. Mungkin juga belum banyak yang tahu darimana asal kata pengemis. Mengapa dinamakan “pengemis”? kalau mau sekadar googling maka akan menemukan sebuah penjelasan dari buku “Khasanah Bahasa dalam Kata per Kata karya Prof. Gorris Keeraf yang mencoba menjelaskannya. Alkisah pada jaman dulu di tanah jawa ketika masa berkuasa para Raja. Diceritakan bahwa para penguasa gemar memberikan sedekah kepada kaum miskin ketika hari kamis. Dalam bahasa jawa lebih jamak dilafalkan “kemis”. Sehingga orang-orang atau warga miskin yang sering meminta-minta sekadar sumbangan di hari tersebut diberi julukan “pengemis”. Dan istilah itu langgeng sampai sekarang.

marjinalKini, di setelah sekian lama tanah air Indonesia merdeka, untuk mencegah berkembangnya kaum marjinal yang artinya kemiskinan semakin manjalar maka dibuatlah sebuah peraturan atau undang-undang atas nama hukum. Entah apakah cara ini efektif apa tidak. Apalagi mungkin agak pas dengan momen ramadhan. Dimana kehadiran kaum marjinal justru disebut-sebut semakin banyak. Dengan asumsi bahwa akan semakin banyak orang mau bersedekah. Atau mungkin perlu dibuat penelitian yang membuktikan kolerasi positif antara semakin banyak orang ingin bersedekah dengan semakin banyak pengemis.

Bukan bermaksud mengeksploitasi atau apapun, tapi gambar di bawah ini adalah gambaran nyata yang sering terjadi. Dan tidak semua “ngeh” akan hal yang lebih bersifat strategis dari permasalahn tersebut. Mungkin karena sudah dianggap lumrah sehingga seolah dicuekin dan dibiarkan begitu saja. Apa adanya. Di sebuah acara di tengah kota jogja, tepatnya alun-alun utara jogja, begitu terlihat banyak orang terkumpul dengan segera dikerumuni oleh beberapa pengemis. Entah dadakan atau memang benar-benar pengemis. Dan hal tersebut juga sering nampak di beberapa supermarket di tengah kota. Apalagi sekarang bulan ramadhan. Wallahu’alam.

Dan dengan foto tersebut masalah kemiskinan kaum marjinal pasti tidak akan langsung teratasi. Tetapi paling tidak bisa menggugah semangat untnk menjalani hidup dan mensyukuri semua nikmat yang menempel di diri masing-masing orang yang diberi kelapangan hati. Kepalangan nikmat. Dan semoga juga bisa nembangkitkan kesadaran bersama untuk memberikan sedikit kelebihan nikmat. Kelebihan rejjeki yang berlimpah ruah. Bahkan bisa mendoakan adalah sebuah nikmat. Walaupun mungkin itu usaha yang paling minim dan lemah.

Teringat lagu iwan fals yang “untukmu terkasih”. Bang Iwan berkata andai saja setiap satu orang kaya memberikan kemudahan dan kelebihan rejeki ke satu orang miskin, maka selesai urusan kemiskinan di negara ini. Atau juga sindiran-sindiran di sinetron PPT 3. Dimana pemimpin wilayah, dalam hal ini RW, membuat aturan bahwa setiap orang yang akan makan harus melihat kanan kiri tetangga terlebih dahulu, apakah ada yang kekurangan makan. Semoga semua bersedia menyisihkan sedikit kenikmatan di bulan yang suci untuk yang belum mendapatkan cukup rejeki.….

Sekadar Ide

Teringat akan sebuah tulisan di sebuah papan di perempatan tugu jogja. Kurang lebih berbunyi begini : “Peduli bukan berarti memberi. Salurkan dana bantuan ada ke lembaga sosial keagamaan”. Terpampang juga sebuah gambar pengemis jalanan yang diberi uang oleh seorang pengendara mobil di sebuah jalan. tetapi diberi tanda silang warna merah tebal.

Baca Lagi Ah