Calon Mentri Keuangan

20 05 2010

Sebelum maupun selepas resmi diumumkan, banyak dikatakan bahwa sosok pengganti Ibu SMI sebagai mentri keuangan adalah seseorang yang berasal di kalangan profesional. Dan sudah cukup dikenal oleh pasar. Hal tersebut dikemukakan oleh orang nomer satu di negri ini dan banyak pengamat ekonomi. Ya, dikenal oleh pasar. Pasar. Sekali lagi, pasar. Tapi orang-orang seperti mbok iyem yang jual jadah di pasar kliwon solo, mas paijo yang jualan soto ayam pagi hari di pasar bringharjo jogja atau koh ahong pemilik toko semen di dekat pasar johar semarang, mungkin kurang sepakat dengan hal tersebut. Mereka juga orang-orang yang terjun langsung di pasar. Bahkan berkeringat dan bekerja tanpa pendingin ruangan demi untuk menghidupi keluarga di rumah. Tapi mungkin mereka tak kenal.

Lalu pasar mana yang dimaksud? Rupanya memang istilah pasar yang dimaksud adalah pasar modal. Pasar milik orang berduit. Yang pasti duitnya jauh lebih banyak daripada duit milik orang-orang pasar tradisional seperti mbok iyem dan mas paijo. Pasar yang lebih bersifat derivatif, spekulasi dan menjadikan uang sebagai komoditi. Bukan transaksi ekonomi riil seperti mbok iyem dan mas paijo. Yang kemanfaatannya lebih nyata untuk sebagian besar rakyat negri ini. Rakyat yang hidup sebagai kalangan menengah ke bawah secara ekonomi. Tapi mayoritas jumlah rakyat itu kalah dengan minoritas yang mempunyai duit lebih banyak dengan bermain di area pasar modal.

Ya mungkin memang karena semenjak dahulu pendekatan makro (bukan mikro) lebih banyak digunakan untuk menilai kemakmuran ekonomi negri ini. Sehingga pasar modal yang perputaran duit-nya mayoritas akan lebih dipandang. Walaupun pedagang-pedagang kecil di pasar tradisional mengeluh kekurangan modal dan retribusi pasar yang terlalu mahal, tapi jika pasar modal sehat maka terkadang akan menjadi penilaian secara keseluruhan bahwa ekonomi negara ini sehat walafiat. Betulkah?