Ditampar

30 04 2009

Seorang ustadz sedang didatangi oleh muridnya. Suatu ketika sang murid penasaran dan bertanya pada sang guru.

Tolong jelaskan kepadaku akan tiga hal:

“Bagaimana aku bisa memperolah gambaran yang detail mengenai iman? Apa iman itu?”, lalu “Jika syetan itu terbuat dari api dan neraka juga terbuat dari yang sama, maka kalau syetan akan ditempatkan di neraka tidak akan terasa tersiksa apa-apa. Percuma?, dan yang terakhir, “Apa takdir itu? Bagaimana aku bisa memperoleh gambaran yang detail mengenai hal itu?”. Lalu sang Ustadz terdiam. Tidak berkata apa-apa. Kemudian sang murid ditampar. Plakkk!!!

tampar

“Auw!!!”, sang murid agak terkejut setengah mati. Heran. Bisa-bisanya sang guru berlaku seperti itu. “Salah apa aku ini ya guru?”, sang murid tidak terima. “Aku baru saja memberikan jawaban dari tiga pertanyaanmu itu”, sang guru menimpali. “Engkau tadi bertanya apa iman itu. Ibarat orang yang ditampar, iman itu seperti rasa sakit. Apakah engkau merasakan dan percaya pada rasa sakit itu?”, sang guru bertanya. “Aku percaya hal itu. Tapi belum bisa menggambarkan rasa sakit itu secara fisik”. Lalu, “Pertanyaanmu yang kedua, api itu diibaratkan kulit. Jikalau kulit bertemu kulit seperti halnya yang kulakukan barusan, apakah masih terasa tidak sakit?”. “Sakit sekali”, sang murid berlanjut berkata. “Apakah tadi malam engkau bermimpi akan kutampar”, sang guru gantian mengajukan pertanyaan untuk yang kesekian kali”. “Tidak sama sekali”. “Terkadang takdir tidak disangka sama sekali akan hadir, itulah ketentuanNya yang tidak bisa dilawan. Qonaah saja”, guru menjawab dengan bijak.

Disadur dari ceramah ustadz Eka. Kajian tafsir Mhs PPMhd Cik Ditiro Yogya. Kamis 30 April 2009 06.00 WIB