Metromini Jurusan Gayus

30 09 2011

metrominiSuatu pagi di Ibukota. Yang terkenal dengan salah satu transportasi massal merakyat yang bernama Metromini. Sebuah Metromini mengantarkan para penumpangnya. Biasanya, pada saat akan berhenti atau singgah di pemberhentian tertentu, si kernet akan memberitahu nama lokasinya. Begitu juga ketika akan sampai di depan sebuah kantor pajak. Tapi kali ini ia tidak bilang “Kantor pajak, pajak, pajak!”, melainkan “Gayus, gayus, gayus…!”. Wew, spontan beberapa penumpang ada yang tertawa ringan sambil tersenyum, tapi bagi yang turun di kantor tersebut lebih banyak yang diam nyinyir. Bukan bermaksud mengeneralisir bahwa kantor pajak isinya jelek semua seperti Gayus sebagai salah satu koruptor, dan kita semua tetap butuh pajak untuk pembangunan Indonesia. Tapi kenyataan bahwa kemunculan kasus gayus hingga kini, tetap membekas di sebagian besar masyarakat Indonesia. Menunjukkan bahwa kasus korupi perihal pajak sangat menyedihkan dan merugikan negara. Dan Gayus Tambunan sebagai ikon namanya mencuat sebegitu terkenalnya. Muda, kaya raya tapi melakukan korupsi. Telah terbukti salah satu kasusnya di pengadilan, ini sebuah fakta hukum bukan tuduhan semata.

Baca Lagi!





Ada Gula Ada Semut

10 04 2010

Di dapur, umunya terdapat satu buah toples tempat menyimpan gula pasir. Jika dapur atau rumah tidak dijaga kebersihannya, maka sudah jamak jikalau toples itu akan dikerubuti oleh semut-semut nakal. Semut memang tidak berhak menikmati gula tersebut. Karena si pemilik rumah akan minilai itu pekerjaan haram bagi semut.

Rupanya sekarang penghuni rumah sudah menyadari bahwa toples berisi gula itu telah dikerubuti semut. Entah apakah dia sengaja mencari sendiri karena sedang membersihkan dapur dan seisi rumah. Atau karena melihat beberapa jejak semut yang mencurigakan. Dan bisa juga karena melihat beberapa semut yang mabuk. Terlalu banyak mengkonsumsi gula. Sehingga penghuni rumah berinisiatif untuk membasmi semut-semut nakal itu.

Tapi masalah klise sering ditemui dalam membasmi semut tersebut. Karena terlena dengan banyaknya semut yang mabuk di dalam toples gula, si penghuni rumah enggan dan terlalu capek untuk menelusuri rumah semut sesungguhnya. Apalagi si penghuni rumah mempunyai perangai kurang rajin dan tidak disiplin dalam menjaga kebersihan rumah. Alhasil, lain waktu semut-semut nakal itu akan muncul lagi. Dan lagi.

Baca Lagi Ah!





Balada Tiga Bersaudara

22 12 2008

tiga1

Bayu. Di musim rambutan seperti bulan desember 2008 ini, memang sangat enak jika menikmati buah rambutan langsung dari pohonnya. Memanjat pohon sendiri dan makan buah rambutan di atasnya. Wah, sungguh lezat.

Bayu masih duduk di kelas 3 SMU di sebuah SMU ternama di Purworejo. Dan baru saja selesai ujian semester. Semester depan sudah harus berjuang mati-matian untuk masuk universitas dambaannya. Sebuah universitas negeri di Bandung. Bayu lumayan cerdas dalam hal ilmu eksak.

“Bu, kalau semua universitas negri jadi BHP, Badan Hukum Pendidikan, apa SPP semesternya jadi mahal sekali?”, Bayu bertanya pada Ibunya di suatu sore di rumahnya.

“Sudah, yang penting kamu belajar yang rajin saja. Kalau kamu memang pengen kuliah di Bandung, seberapapun mahalnya nanti, akan Ibu usahakan Nak”, sang Ibu menimpali.

Ah, kasih sayang Ibu memang tiada tara. Pantaslah jika ada hari Ibu di Indonesia tanggal 22 Desember. Jawabannya Ibunya tetap tak sedikit pun menyurutkan semangat Bayu yang menggebu untuk menggapai cita-citanya. Jawaban yang mungkin diplomatis. Tapi itulah seorang Ibu. Walaupun sebenarnya dalam hati kecil Ibunda Bayu terbesit rasa ragu karena merasa tak mampu. Tak mampu membiayai kuliah di Bandung yang sebegitu mahal. Karena orang tua Bayu hanya pegawai kantoran biasa. Bukan bos. Ibunda Bayu sangat khawatir biaya kuliah setelah ada UU BHP hanya mampu dijangkau oleh orang kaya. Dan entah apa pula yang menjadi landasan pemikiran anggota dewan rakyat yang terhormat. Sampai adanya UU BHP. Undang-undang yang lambat laun melegalkan dan menjadi legitimasi tersendiri bahwa ke depan rakyatlah yang harus menanggung biaya sekolah. Sekolah di perguruan tinggi. Atau memang pemerintah sengaja sedang mengurangi dana pendidikan rakyatnya di Perguruan Tinggi. Sehingga dialokasikan untuk sektor lain.

Akan tetapi ditengarai anggota dewan yang terhormat bahwa dengan UU BHP, maka biaya operasional mahasiswa sebanyak dua pertiga akan ditanggung negara. Entah apakah para anggota dewan yang terhormat kurang membuat sosialisasi sehingga mahasiswa yang berdemo tak sempat membaca pasal-pasal di BHP dan memahami BHP. Atau mahasiswa pendemo sudah tidak percaya dengan janji dewan yang terhormat. Janji yang mungkin tahun depan tidak dilaksanakan oleh pemerintah.

Ditengarai lagi oleh salah seorang anggota dewanpembuat UU BHP bahwa dengan adanya UU BHP maka perguruan tinggi negri akan diwajibkan menampung mahasiswa miskind engan prosentase 20 %. Entahlah………

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Joko. Pemuda yang akan diwisuda bulan depan, Januari, di sebuah universitas terkemuka di Surabaya. Joko adalah saudara sepupu Bayu. Lokasi rumahnya tak jauh dari Bayu. Hari itu, senin 22 Desember 2008, Joko menuju kantor Polres setempat untuk memperpanjang SKCK, surat keterangan catatan kriminal. Guna melamar pekerjaan.

“Permisi Pak, mau memperpanjang SKCK”, Joko berkata pada salah seorang petugas.

“Isi dulu formulirnya, dan foto 4 x 6 dua lembar”, seorang petugas berkumis yang hampir tak pernah senyum berkata pada Joko.

Setelah selesai dengan pengisian formulir dan menyerahkan foto, “Sepuluh ribu rupiah mas”, sang ptugas berkata pada Joko.

Joko, yang beberapa bulan kemarin pernah menanyakan biaya mengurus SKCK kepada Kasat Intel Purworejo, hanya terheran, dan dengan agak terbata-bata meraih dompet untuk mengambil uang. “Untung bawa uang”, gumamnya. Padahal infomasi yang diperoleh dari Kasat Intel, bahwa pengurusan SKCK sama sekali tidak dipungut biaya.

“Apakah baru saja aku dikenai pungli (pungutan liar) oleh aparat?”, desah Joko dalam hati kecilnya. Entahlah, Joko hanya berusaha menenangkan diri. Dan pada saat itu juga terpikirkan oleh Joko, “Mungkin perkara kecil seperti ini yang menjadi cikal bakal korupsi”.

Merasa tak mungkin beradu mulut dengan petugas Polres yang tak murah senyum itu. Joko hanya merasa janggal. Apalagi dengan pelayanannya. Dan pada saat itu pula Joko teringat pelayanan konsumen di perusahaan-perusahaan swasta, seperti bank atau laboratorium terpadu di kota tempat kuliahnya dulu. Pelayanan konsumen tidak seperti di jajaran pemerintahan, aparat, dan kantor kelurahan. Pelayanan di swasta sungguh membuat orang merasa adem. Murah senyum, ramah, dan tidak ada praktek liar.

Apakah mungkin di pemerintahan hal-hal seperti itu tidak dipikirkan. Pelayanan masyarakat yang profesional dengan mengedepankan sikap ramah, senyum dan sapa. Mungkin terlihat sepele. Tapi itulah kesan mendalam yang dialami Joko.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sigit. Adalah kakak Joko. Sedang pula berlibur di rumah sekalian menjenguk orang tua dan mengurus NPWP (nomor pokok wajib pajak). Sigit berwiraswasta di Jogja. Hari itu pula, senin 22 Desember 2008, Sigit berangkat pukul 08.20 ke kantor palayanan pajak Pratama.

“Silakan diisi form-nya mas”, seorang petugas helpdesk yang berinisial HS berkata pada Sigit. Dalam bayangan Sigit, di kantor pajak akan disambut ramah oleh petugas-petuganya. Pagi itu, tidak sama sekali. Entah mengapa si petugas tidak menampakkan senyumnya sama sekali. “Padahal kalau senyum, mbak nya ini cantik lho”, gumam Sigit dalam hati. Dan pada saat itu juga, terbersit sedikit pemikiran di benak Sigit. “Mungkin kalau petugas pajak bisa melayani dengan ramah seperti halnya SPG (sales promotion girl) dan berwajah rupawan, banyak orang akan antri membayar pajak, dan negara tidak kesusahan meminta rakyat membayar pajak”.

Rumahku, sambil menunggu Ibuku pulang. Di hari Ibu 22 Desember 2008. I love my Mom