Pengamen

27 08 2009

Yufal dan Zainal sedang mengendarai motor berdua. Tibalah mereka di perempatan condongcatur Ring Road utara Jogja. Terjadilah perbincangan menarik di antara kedua sahabat dekat ini.

Y : “Wah, baru liat aku ada pengamen kayak gini. Sudah beberapa tahun di sini perasaan baru kali ini ada pengamen seperti ini. Pernah liat ga?”

Z :  “Belum. Wah kreatif betul tuh”

Y : “Iya sih, tapi itu juga seolah untuk menutupi bahwa mereka kurang cakap dalam bekerja. Tidak bisa kerja”

Z : “Bukan begitu bro. Bukan ga bisa kerja, tetapi lowongan kerja terlalu sempit di sini. Harusnya pemerintah dan swasta ikut andil tanggungjawab nih”

pengamen

Lalu Yufal mengambil kamera digitalnya. “Kuambil gambar ah, lumayan buat koleksi”. Zainal bilang, “Dasar, fotografer kurang kerjaan, huh”.

Y : “Ah gak papa. Kan namanya ini kreatif. Kayak para pengamen itu. Ngamen dengan kreatif. Jarang-jarang ada yang seperti itu. Yang penting mereka dah bisa menyukuri hasil pekerjaan mereka itu sudah baik. Daripada meminta-minta, apalagi korupsi. Huh, memalukan””

Z : “Iya deh, terserah kamu mau bilang apa. Tapi tetep aja pembangunan negara kita ini belum merata. Kesempatan kerja juga. Apalagi kurs dolar amerika nilainya masih tinggi amat. Masih ga setuju juga kamu dengan pendapatku ini?”

Y : “He he. Lampu hijau sudah menyala bro. Wokelah, mereka itu juga punya nilai lebih lho. Melestarikan budaya. Memakai unsur budaya kesenian asli tanah air, dari etnis jawa. Daripada keduluan diklaim lagi sama negara tetangga. Kita nikmati saja dulu”

Lalu, uang seribu rupiah dikeluarkan dari kantong saku Zainal. Diberikan ke pengamen itu.