Es Teh

20 05 2011

Kenapa es teh? Karena Teh adalah minuman sejuta umat rakyat Indonesia :). Hampir semua warung makan dan sejenisnya selalu menyediakan minuman teh. Walaupun mungkin di beberapa restoran atau kedai makan mewah khusus orang berduit tidak ada menu minuman teh yang disajikan untuk konsumen; mungkin minuman-minuman yang lebih “berkelas”. Walaupun sepertinya teh tetap akan ada di dapur mereka, tapi tidak untuk dijual. Mungkin :). Teh hangat dan es teh, adalah minuman pilihan pertama. Yang kedua adalah jeruk hangat dan es jeruk. Bagi yang sedang ingin diet gula atau penderita diabetes pun tetap bisa mengkonsimsi teh; teh tanpa gula. Jadi, jika melihat begitu besarnya pangsa pasar teh maka tak heran begitu banyak pula kebun teh dan perusahaan teh di Indonesia. Jangan sampailah impor teh; seperti komoditi yang sudah-sudah macam beras, daging, dan garam. Malu-maluin karena katanya negri ini punya banyak kekayaan alam :(.

Baca Lagi Ah!





SMP Alternatif Qaryah Thayyibah

4 09 2010

Semoga informasi ini tidak begitu basi. Tetapi bisa membuka sedikit wawasan tentang kondisi yang ada. Sekolah untuk rakyat kecil, yang hidup dengan pas-pasan bahkan termarjinalkan itu memang masih minim. Sekolah untuk rakyat kini juga minim perhatian, bahkan oleh pemerintah. Justru yang lebih banyak diperhatikan adalah sekolah rintisan standar internasional. Sekolah latah demi rebutan gelar, internasional. Dan tersebutlah sekolah setingkat SMP di sebuah desa di Salatiga Jawa Tengah yang bernama SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Khusus untuk menampung mereka yang kurang mampu. Tetapi jangan meremehkan mengenai sistem pembelajarannya dan prestasinya.

Sekolah tanpa sekolah, bangunan sederhana sekolah menyatu dengan alam. Karena siswa bisa belajar di mana saja. Fasilitas internet juga mendukung pembelajaran di sekolah ini, dengan bantuan dari pengusaha dan pihak lain. Sekolah tersebut pernah diliput di beberapa media ternama seperti trans tv, metroTV dan kompas. Untuk melihat videonya, silakan klik di sini. Berita lain yang terkait antara lain silakan klik di sini, atau di sini.





Rumah untuk Rakyat

16 01 2010

Di hari minggu, di sebuah rumah reyot yang terbangun dari susunan kayu usang. Di sebuah pinggiran sungai. Sungai yang berwarna coklat kehitam-hitaman dan penuh gundukan sampah. Yang baunya begitu menyengat hidung bagi siapa saja yang belum terbiasa. Sungai itu membentang di sekitar pinggiran Ibukota.

Adalah sebuah keluarga yang sedang menonton televisi. Televisinya pun juga kelihatan usang. Karena terlihat jadul dan ukurannya yang mini. Keluarga itu terdiri sepasang suami istri dan seorang anak kecil. Anak kecil yang belum sekolah. ”Rumahnya bagus sekali ya Bu”, celoteh anak kecil itu dengan lugu. Di hari minggu memang beberapa stasiun televisi menayangkan promosi komplek hunian tinggal yang cukup elit dan mewah. Di samping acara-acara ringan dan menghibur keluarga seperti kartun anak.

Baca Lagi Ah!





Bang Sat

11 01 2010

“Bang Sat”, kata panggilan itu terucap ketika orang-orang di sebuah kampung pinggiran Ibukota membutuhkan jasa tambal ban panggilan. Yang bisa dipanggil setiap saat dengan hanya mengirim pesan melalui sms. Tapi orang-orang di kampung itu juga sebenarnya tidak selalu dan sepenuhnya memanggil dengan kata lugas seperti itu. Nama tukang tambal ban itu adalah Satriyo. Ada yang memanggil bang Iyo, tetapi ada juga yang memanggil dengan nama Bang Sat. Katanya, supaya lebih beken. Maklum, meskipun di kampung pinggiran Ibukota, pobia untuk selalu mengikuti trend yang uptodate juga digandrungi. Dan jangan salah dengan sebutan nama yang terdengar amat kasar itu, Bang Sat. Tapi bagi penduduk kampung, nama panggilan itu sudah wajar. Familier terdengar di telinga orang. Dan si pemilik nama juga tak pernah mempermasalahkan hal itu.

Tapi, baru-baru ini. Belum lama ini, nama panggilan tukang tambal panggilan tersebut lebih tenar di ruangan wakil rakyat. Di sebuah gedung hijau megah di Ibukota, yang kata si kambing jantan “Raditya Dika”, mirip kodok. Bukan untuk memanggil Bang Satriyo karena meminta jasa tambal ban. Tetapi konon katanya karena ada suasana emosional adu mulut di sebuah sidang. Adu mulut yang cukup lama dan disaksikan langsung oleh rakyat. Sehingga salah satu anggota wakil rakyat mengucapkan kata itu.

Baca Lagi Ah!





Rintisan Sekolah untuk Rakyat

9 11 2009

rintisanBuku-buku pelajaran itu tak mampu terbeli oleh Ujang. Anak kelas lima sekolah dasar, yang setiap usai sekolah harus mengais rejeki untuk membiayai uang spp sekolah sendiri. Bekerja di industri sepatu kulit, di sebuah wilayah di jawa bagian barat. Karena orang tua hanya mampu membiaya makan setiap hari. Maka untuk urusan sekolah dia harus bisa memperoleh biaya sendiri.

Kisah serupa dialami Budi, anak kolong di ibukota. Yang sehari-hari seusai bersekolah di bangku smp kelas satu, harus memainkan gitar kecilnya di perempatan jalan. Mengamen untuk mendapat biaya membeli buku dan uang spp di sekolahnya.

Baca Lagi Ah!