Pesta Pernikahan

7 04 2011

Seorang (lelaki muda) engineer (atau dulu lebih sering disebut tukang insiyur) yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional perakitan kendaraan bermotor untuk urusan bagian simulasi (barangkali menguasai semacam pemrograman bahasa C, promodel, powersim atau semacamnya) sedang berlibur ke kampung halaman teman sekantornya. Sebetulnya bukan kampung sekali, tapi di sebuah daerah pinggiran kota. Lalu, mereka berdua (karena sama-sama masih bujang) menghadiri sebuah undangan salah satu kerabat. Undangan pernikahan. Sebuah pesta di sebuah gedung. Bertemulah mereka dengan saudara dan teman lain yang mereka kenal di daerah itu. Terjadilah sebuah obrolan dan komentar sebelum mereka memasuki areal gedung dan setelah di dalamnya. Sebetulnya si engineer tadi yang lebih banyak omong dan komentar. Kira-kira begini beberapa komentarnya.

Baca Lagi Ah!





Hampir Percuma

5 04 2011

Bisa dikatakan hampir percuma; memisahkan sampah organik dan non-organik. Atau juga plus pemisahan sampah dari kaca (gelas, piring, dan lain sebagainya) dan plastik. Kalau bernada sisnisme memang iya, maksudnya karena adalah masih jarangnya tindak lanjut dari pemisahan sampah itu. Pada akhirnya, lebih banyak sampah disatukan di tempat pembuangan akhir. Instansi atau sekolah yang kemudian mengolah dan mendaur ulang pemisahan sampah itu juga jika dihitung hanya sedikit; minimalis. Jadi kampanye yang banyak tentang pemisahan sampah organik dan anorganik tanpa pembuatan dan penggalakan sistem daur ulang yang baik juga adalah usaha hampir sia-sia; karena cuma usaha sepihak. Bisa dikategorikan cuma usaha bertepuk sebelah tangan. Jadi usaha mendorong dan menggalakkan orang rumahan untuk membuat kompos dari sampah organik perlu ditingkatkan. Penelitian pembuatan alat daur ulang murah dan efektif juga perlu didukung dengan dana.

Baca Lagi Ah!





Pengelola Sampah Elektronik

30 03 2011

Dicari dan sangat dibutuhkan, pengelola sampah elektronik! Bingung juga, mau dibuang kemana ini barang-barang bekas elektronik. Semacam telepon genggam, komputer, kipas angin, printer, dan monitor bekas. Katakanlah misalnya di kota besar macam Jogja, sepertinya belum ada yang mengelolanya secara baik. Di tempat pembuangan akhir sampah di Banyakan Bantul Jogja pun; sampah masih menggunung disatukan tanpa pemisahan. Padahal kata UU no 18 tahun 2008 (tentang pengelolaan sampah), produsen dan pemerintah seharusnya punya andil. Artinya seharusnya produsen ikut aktif dalam pengelolaan sampah elektronik. Mungkin seperti menampung barang-barang bekas lalu didaur ulang dengan baik. Dilakukan pemisahan logam berat macam Pb, Hg, Cd, Cr, PBB, dan PBDE; karena itu bisa memicu kanker dan semacamnya.

Sudah terlalu banyak wacana dan penelitian dampak sampah elektronik. Tentang bakal meningkatnya jumlah sampah itu, dampak pencemaran lingkungan dan penurunan IQ dan seterusnya. Termasuk tulisan ini juga hanya bisa menggugah perhatian. Karena yang lebih dibutuhkan adalah usaha riil untuk mengatasi sampah elektronik itu. Jika dibilang pasokannya atau supply-nya besar, memang iya. Bahkan beberapa negara sudah terkenal sebagai penampung sampah elektronik macam Ghana dan India. Teknologi informasi meningkat secara umum di semua belahan dunia. Dan artinya sebetulnya pasokan yang besar itu juga bisa dijadikan ladang usaha daur ulang; tapi dengan konsekuensi teknologi tinggi dan tentu biaya tinggi.

Baca Lagi Ah!





TPS Banyakan

30 06 2010

Tempat Pembuangan Sampah di daerah Banyakan, Piyungan, Bantul DIY merupakan lokasi pembuangan akhir sampah untuk kawasan Jogja. Sebetulnya TPS tersebut milik pemkab Bantul. Tetapi pihak lain juga dipersilakan untuk memanfaatkannya. Bahkan pihak swasta yang akan membuang sampah di area tersebut dipersilakan. Berbagai macam jenis sampah. Untuk pihak swasta dikenai biaya per kendaraan, untuk jenis truck pick-up kecil senilai 5 ribu rupiah. Sedangkan untuk pihak pemerintah dikenai biaya per ton sampah seharga satu rupiah. Ada seorang penjaga yang bertugas di pos penjaga timbangan beban. Bekerja dalam shift (6 jam).

Baca Lagi Ah!





Sampah

20 06 2009

Gambar di bawah ini adalah fasilitas umum yang menggambarkan begitu banyaknya hasil sampah yang dihasilkan oleh manusia. Memang tidak ada data yang dipaparkan. Tetapi setidaknya bisa menjadi bahan renungan bersama.

sampah2

Di dekat fasilitas pendidikan seperti sekolah dan universitas bahkan, sampah menumpuk di pinggiran jalan kadang terpapar. Instansi yang notabene sebagai pendidik sudah sepatutnya bisa dijadikan contoh. Sehingga kelak anak didik menjadi orang yang terbudayakan dengan peduli sampah. Begitu pula di fasilitas umum. Di beberapa kampus memang telah dirintis usaha untuk mewujudkan kepedulian terhadap sampah dengan memisahkan antara sampah organik dan organik. Di salah satu dusun di kota Jogja dekat kampus, juga tengah dimulai usaha tersebut. Pemisahan sampah organik dan nonorganik, dimana umunya sampah organik masih bisa didaur ulang menajdi kompos. Dan sampah plastik sebetulnya kurang baik jika dibakar. Menimbulkan gas metana yang kurang baik untuk atmosfer.

Bumi semakin tua. Dan kata para ahli, bumi semakin kotor dan rusak. Kalau merujuk kepada akal manusia, maka semakin sering rusak sesuatu akan mempercepat umurnya. Mungkin ini analogi paling sederhana yang bisa dibawa untuk membangun kesadaran bersama.

Pertama, pernahkah kita menghitung berapa jumlah sampah yang kita buang per hari? Berapa kilo dan apa saja?

Kedua, lalu seberapa banyak sampah yang telah musnahkan, buang, atau bahkan daur ulang dan penenaman berjuta pohon? Pernahkah kita menghitungnya? Sudah sepadankah sampah yang dibuang dengan upaya pengolahan sampah yang baik?

Ketiga, sudahkah upaya menghemat bahan bakar dilakukan, bensin, listrik dan air?

sampah1

Slogan “buanglah sampah pada tempatnya” memang gampang-gampang susah. Contoh nyata untuk membudayakannya adalah ketika makan permen dan belum menemukan tempat sampah terdekat untuk membuang sampah tersebut, maka tidak ada salahnya mengantongi sampah bungkus permen tersebut.

Inilah gambar cerminan budaya membuang sampah yang kurang baik… tertulis dilarang membuang sampah sembarangan, tetapi justru berjibun sampah di bawah papan tulisan itu…. masihkah kita acuh?

sampah hukum