Cocoa Van Houten

23 03 2012

Cocoa Van HoutenCocoa Van Houten, since 1828. Merupakan bubuk coklat yang dapat dikonsumsi sebagai minuman. Cocok untuk menemani suasana pagi hari, apalagi selepas hujan turun. Pun di saat suasana lain selagi membutuhkan kenikmatan aroma coklat, termasuk barangkali untuk memperbaiki mood. “A dark rich & aromatic dutch style cocoa powder”. Bubuk kakao gaya “dutch” yang kaya warna dan aroma. Komposisi : bubuk kakao, perisa vanilli. Diproduksi oleh PT. Ceres Bandung untuk C.J. Van Houten Zurich, Swiss. Cara membuatnya cukup mudah, satu sendok teh bubuk kako dengan dua sendok teh gula. Tuangkan air panas secukupnya lalu aduk rata. Bisa pula aduk dengan sedikit susu. Sepertinya bagi para penggemar coklat, minuman coklat ini adalah pilihan lain sebagai variasi mengkonsumsi coklat, Tersedia di beberapa supermarket, kemasan 90 g (halal) seharga kurang lebih delapan belas ribu rupiah. Bisa untuk dikonsumsi beberapa minggu hingga bulan.

Baca Lagi!





Luwak White Koffie

6 12 2011

Luwak White Koffie Premium, Low Acid. Diproduksi oleh PT Javaprima Abadi Semarang. Awalnya mengira jika warna kopi ini “cukup” putih (white). Tapi setelah membeli di supermarket satu pak isi 10 sachet x 20g, seharga kurang lebih 9 ribu rupiah, prediksi awal tersebut kurang tepat. Setelah kopi dibuat, warnanya cenderung coklat dengan buih-buih berwarna coklat muda di bagian atas. Rasanya pun sedikit mirip dengan kopi instan campur krim merk lain pada umumnya. Akan tetapi yang membedakan adalah rasanya. Hmm, aromanya itu bisa dibilang lebih “pekat” dan rasanya punya kenikmatan tersendiri dibanding yang lain. Beberapa warung burjo juga telah menjadikan Luwak White Koffie sebagai salah satu sajian menu.





Pasar Swalayan

28 06 2011

Pada masa sebelum reformasi atau pembangunan, belanja secara swalayan belum begitu banyak seperti sekarang ini dengan menjamurnya minimarket dan supermarket. Tidak hanya di kota besar, tapi sudah mulai merambah setiap kecamatan bahkan kelurahan di daerah. Swalayan pada masa itu barangkali masih bersifat “eksklusif”. Pembeli mengambil sendiri barang-barang yang hendak dibeli di ruangan dan rak-rak/display rapi yang bersih, dengan selisih harga memang cukup berjarak dengan harga di pasar tradisional. Barang yang dijual pun cenderung berbeda segmen untuk mereka yang lebih mampu secara ekonomi. Namun seiring berkembangnya ekonomi Indonesia dan dunia pada umumnya, konsep pasar dan pemasaran tentu mengalami perubahan. Varian barang yang dijual di pasar swalayan mulai banyak. Pun dengan selisih harga yang sedikit bahkan beberapa punya selisih nol rupiah. Segmen pasar swalayan mulai banyak dilirik dengan targeting yang bisa dipilah-pilah menjadi beragam, dan dengan pendekatan driving market.

Baca Lagi Ah!