Pasar Swalayan

28 06 2011

Pada masa sebelum reformasi atau pembangunan, belanja secara swalayan belum begitu banyak seperti sekarang ini dengan menjamurnya minimarket dan supermarket. Tidak hanya di kota besar, tapi sudah mulai merambah setiap kecamatan bahkan kelurahan di daerah. Swalayan pada masa itu barangkali masih bersifat “eksklusif”. Pembeli mengambil sendiri barang-barang yang hendak dibeli di ruangan dan rak-rak/display rapi yang bersih, dengan selisih harga memang cukup berjarak dengan harga di pasar tradisional. Barang yang dijual pun cenderung berbeda segmen untuk mereka yang lebih mampu secara ekonomi. Namun seiring berkembangnya ekonomi Indonesia dan dunia pada umumnya, konsep pasar dan pemasaran tentu mengalami perubahan. Varian barang yang dijual di pasar swalayan mulai banyak. Pun dengan selisih harga yang sedikit bahkan beberapa punya selisih nol rupiah. Segmen pasar swalayan mulai banyak dilirik dengan targeting yang bisa dipilah-pilah menjadi beragam, dan dengan pendekatan driving market.

Baca Lagi Ah!





Es Beras Kencur

11 12 2010

Sudah jarang mbok jamu gendong menjual jamu tradisional seperti beras kencur, kunir asem atau temulawak dengan menjajakannnya dari rumah ke rumah. Padahal kan jamu tradisional itu cukup bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Kini, di jaman serba instan makin banyak produk jamu instan dalam bentuk kemasan yang katanya lebih modern. Mungkin seperti serbuk, atau cair dalam botol. Tentu dengan penambahan lain seperti rasa dan pemasaran yang berbada. Yang tersisa dari jamu beras kencur tradisional adalah penjual keliling dengan sepeda; es beras kencur. Rasanya tentu segar jika dinikmati saat siang hari di kala panas menyengat. Harganya juga murah meriah. Salah satu lokasi yang masih banyak para penjual keliling es beras kencur nya adalah di depan rumah sakit sardjito jogja. Ohiya, kalau di pasar tradisional masih ada beberapa penjual jamu beras kencur gendongan. Kalau mau membuat lebih segar, silakan masukkan kulkas terlebih dahulu :D.





Clorot

21 10 2010

Salah satu makanan khas dari kota pensiunan di pesisir selatan Jawa Tengah, Purworejo. Makanan ini adalah sejenis kue. Merupakan makanan dari adonan tepung beras dan gula merah yang dikukus. Rasanya cukup manis dan kenyal. Bentuk kue ini unik karena dibungkus dengan janur atau daun kelapa muda. Dibuat melingkar, berulin, memanjang dan adonannya terletak di tengah. Bagaimana cara makan kue ini? Nah, ada caranya tersendiri. Seperti dalam ilustrasi gambar di samping. Ya mungkin terkadang menjadi guyonan cara makan kue ini agak ”saru”. Tetapi begitulah adanya, salah satu jari tangan digunakan untuk menakan dari bawah sehingga adonan kue yang ditengah nongol ke atas. Makanan ini menjadi hidangan khas jikalau ada kegiatan seperti hajatan, syukuran perkawinan, sunatan dan seterusnya. Memang tidak begitu banyak tersedia di pasar. Hanya di beberapa pasar tradisional. Tentu saja dengan harga merakyat yang tidak menguras kantong.





Buntil

12 02 2010

buntilDari namanya, terdengar ndeso. Tapi jangan salah, makanan yang satu ini lezat dan sehat. Mungkin bisa dikategorikan sayuran. Atau mungkin bisa disebut sebagai lauk. Karena sangat enak bila dimakan dengan ditemani nasi. Adalah makanan tradisional yang terbuat dari daun lumbu (katanya mirip daun talas). Atau juga bisa dari daun pepaya. Isinya adalah parutan kelapa yang diberi bumbu. Terdapat kuah sedikit pedas yang terbuat dari santan. Dan mungkin sekilas mirip bothok.

Entah dari mana asal makanan ini. Karena agak sulit menelusurinya secara pasti. Dan bisa jadi di banyak daerah terdapat makanan ini, ada yang mengatakan makanan khas magelang, di daerah Purworejo juga ada, dan sebagainya. Memang lebih banyak dijual di pasar dan toko tradisional dengan harga yang terjangkau semua rakyat tentunya.