Uang Pendaftaran

2 12 2011

Uang PendaftaranAda seorang anak muda yang bekerja sebagai seorang aparat keamanan resmi; menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Katakanlah disebut sebagai seorang “prajurit”. Nha, suatu ketika setelah beberapa tahun bekerja, dia punya keinginan untuk keluar dari pekerjaan tersebut. Padahal sebetulnya pada dasarnya dia menyukai pekerjaan tersebut, dan punya kinerja yang cukup bagus pula. Dia pun kemudian mengutarakan niat itu kepada kedua orang tuanya itu. Orang tuanya pun kaget bukan kepalang. Karena semenjak awal untuk masuk ke pendaftaran saja bukan perkara mudah. Membutuhkan biaya yang tak murah pula. Jadi apa sebetulnya alasan dari anak muda tersebut?

Baca Lagi!





Happiness Economics

2 10 2010

Negara Indonesia sudah cukup terkenal berpredikat sebagai negara dengan ekonomi sedang berkembang. Terkadang berkembang baik, tapi tak jarang buruk. Juga terpengaruh oleh iklim ekonomi global karena krisis, teroris, dan seterusnya. Predikat itu mungkin juga tidak hanya berlaku bagi Indonesia, beberapa negara lain pun sama. Dan karena itulah sudah sewajarnya jika kemudian negara-negara berpredikat ekonomi maju menjadi acuan. Maksudnya adalah terkadang juga secara berlebihan dianut dalam hampir segala hal. Budaya mereka lebih baik, etos kerja lebih baik, perawatan lingkungan lebih baik dan seterusnya. Padahal di sisi lain juga diakui bahwa bangsa ini sesungguhnya menganut banyak nilai-nilai luhur maupun kekayaan budaya sosial yang juga baik. Tapi tak jarang karena atas nama ekonomi kemudian hal itu pelan-pelan luntur. Atau memang tidak dilaksanakan dengan baik.

Hal yang berbau dengan ekonomi adalah kekayaan, pendidikan, kepercayaan diri dan bahkan bisa menjadi sebuah nilai tertinggi yang dianut oleh seseorang. Pembagian kasta sosial kini juga terkadang masih menggunakan nilai atau aspek ekonomi sebagai acuan dasar. Kalau jaman dahulu ada kasta ulama, bangsawan, pekerja, budak dan seterusnya; maka kini tersirat ada kasta kaya dan miskin. Apapun profesi mereka. Yang miskin ingin menikmati menjadi kaya dengan menggapai kebahagiaan itu karena dasar ekonomi. Bahasa mudahnya uang. Uang yang dibelikan sesuatu benda yang akan menjadi simbol agar disebut kaya. Dan kekayaan pun bisa menjadi dewa kebahagiaan. Membeli sepeda motor agar dibilang orang kaya padahal belum begitu membutuhkan dan kredit pun kadang tak lancar. Handphone baru yang berbentuk tambun dan bertipe qwerty dibeli oleh mereka yang sebenarnya tak mampu dan belum membutuhkan agar mirip orang-orang kaya, dan seterusnya. Padahal kebutuhan pendidikan dan gizi anak bisa menjadi jauh lebih penting daripada hal-hal itu. Kalau ekonomi ukurannya uang untuk kekayaan sebagai hal utama kebahagiaan memang bisa menjungkirbalikkan.