Budaya Lebaran

3 09 2011

budaya lebaran

Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1432 H telah dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia beberapa hari yang lalu. Di Indonesia, tradisi atau budaya lebaran menjadi begitu semarak karena banyak aspek lain yang mewarnainya. Salah satu hal yang mendasar adalah silaturahim. Itu kemudian tidak hanya bagi umat muslim sendiri, tapi bagi semuanya atas nama kerukunan umat beragama dan saling menghormati serta saling menghargai. Tradisi atau budaya Lebaran di Indonesia begitu banyak. Setidaknya berikut ini beberapa catatan rangkuman secara umum mulai dari hal baik yang patut dipertahankan hingga berupa kritik dan saran yang semoga bisa memacu perbaikan bersama.

Baca Lagi!





Konferensi World Zakat Forum

29 09 2010

Konferensi World Zakat Forum adalah sebuah wadah untuk pertemuan berbagai lembaga atau organisasi dari berbagai dunia yang bergerak dalam pengelolaan zakat. Berlokasi di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, 28 September – 2 Oktober 2010. Tema konferensi kali ini adalah “Meneguhkan Peran Zakat Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Ummat Melalui Jejaring Zakat Internasional” (To Strengthen The Role of Zakat in Realizing the Welfare of Ummah Through International Zakat Network). Konferensi ini dibuka oleh Mentri Agama RI. Acara ini semula direncanakan pada pertengahan tahun. Tapi mengingat berbagai pertimbangan seperti piala dunia, ramadhan dan hal lainnya; maka acara diundur pada akhir tahun. Seperti dituturkan oleh Ketua Pelaksana Acara, April Purwanto (Direktur Lazis DPU-DT Jogja), salah satu yang diharapkan dari hasil akhir acara ini adalah terbentuknya forum komunikasi bersama antar sesama lazis dalam hal bertukar informasi dan kerja sama lainnya. Mengingat sejauh ini aturan hukum tentang zakat di tanah air masih kurang mendukung dan peran FOZ masih perlu ditingkatkan. Dalam acara ini pula, diadakan kunjungan ke berbagai desa binaan Lazis serta UMKM hasil pemberdayaan zakat produktif. Potensi zakat untuk membantu mengentaskan kemiskinan dan masalah di negri ini cukup besar, jadi mari membantu untuk turut serta mensukseskan acara tersebut dengan selalu ingat dan membayar zakat, infak shodaqoh.





Madrasah Ekonomi Dhuafa

23 09 2010

Pemberdayaan dana ZIS (zakat-infak-shodaqoh) atau dana dari Lazis untuk hal yang bersifat produktif (bukan konsumtif yang sekali habis; seperti kesehatan, pendidikan dan seterusnya) bisa menjadi cukup penting dalam kondisi seperti saat ini. Di kala pembangunan di Indonesia tak kunjung merata cukup lama dan kantong-kantong kemiskinan masih ada. Dan terkadang seolah kemiskinan itu masih “dipelihara” bersama. Mengubah seorang mustahik (yang berhak menerima zakat) agar menjadi muzaki (yang mampu membayar zakat) belum banyak dilakukan bersama. Yang ada malah memelihara rasa iba bersama. Yang kaya merasa mampu dapat memberikan cuma-cuma, dan yang miskin menikmati rasa iba itu secara rutin sehingga malas berusaha. Malas berusaha untuk mandiri.

Adalah salah satu kepedulian Dompet Dhuafa Jogja untuk melaksanakan program pemberdayaan yang bersifat produktif, yang bernama Sakofa (Madrasah Ekonomi Dhuafa). Bekerjasama dengan atau mempunyai mitra kerja lembaga keuangan syariah seperti BMT. Program ini memberikan bantuan pembiayaan dana atau modal kepada pengusaha kecil atau UMKM dengan syarat dan ketentuan berlaku. Sekilas memang mirip dengan program seperti Misykat milik DPU-DT. Program pemberdayaan seperti ini sangat bermanfaat. Untuk mengetahui program Dompet Dhuafa Jogja yang lain silakan klik di sini. Berita terkait di sini. Mari berzakat, infak dan shodaqoh.





Beasiswa Pendidikan PKPU

12 07 2010

Salah satu program pemberdayaan dari Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) atau lebih dikenal sebagai Lazis yang saat ini cukup mendapat perhatian adalah program beasiswa. Sudah banyak Lazis yang mendistribusikan dana yang diperoleh ke program beasiswa. Bantuan pendidikan bagi mereka yang berhak menerima. Baik berupa santunan biaya sekolah untuk SD, SMP, SMA, beasiswa kuliah, dan pelatihan lain yang bertemakan pendidikan. Salah satu Lazis di Jogja yang melaksanakan program tersebut adalah PKPU cabang Yogyakarta. PKPU Yogyakarta adalah Lazis yang beralamatkan di jalan Sardjito no 4, silakan kunjungi blog ini untuk mengetahui profilnya lebih lengkap.

Baca Lagi Ah!





Desa Ternak Mandiri

24 06 2010

Desa Ternak Mandiri (DTM) merupakan salah satu program penyaluran dana produktif dari Lazis DPU-DT Jogja (Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid). Dikatakan bersifat produkif karena bertujuan untuk memandirikan atau meningkatkan kesejahteraan para mustahik. Tidak hanya bersifat konsumtif yang akan habis sekali pakai. Seperti dana konsumtif untuk keperluan kesehatan atau pendidikan. Untuk lebih jelasnya, berikut sedikit ilustrasi program.

Setiap keluarga peternak akan diberi kesempatan untuk memelihara / menggemukkan 5 ekor domba selama 3 bulan. Sehingga setiap 3 bulan sekali, mereka akan mendapat tambahan penghasilan dari usaha peternakan mereka. Di samping itu, ada tambahan usaha pengolahan singkong. Dimana setiap keluarga peternak peserta program akan mengolah 40 kg singkong setiap hari. Hasilnya berupa tepung tapioka (tepung aci) dan rasi (beras singkong) akan dijual kepada mitra yang ada dan siap menampung hasil pengelolaan singkong sehingga tidak perlu mencari pembeli hasil pengolahan tersebut, sebagian lagi dikonsumsi sendiri sebagai pangan pokok alternatif pengganti beras. Konsumsi 1kg rasi setara dengan 3 liter beras. Sehingga uang untuk membeli beras, bisa dialihkan sebagian untuk memberi lauk pauk yang bergizi seperti telur atau ikan. Sedang sebagian lagi bisa dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan.

Baca Lagi Ah!





Amil Sebagai Profesi

18 09 2009

Jika membicarakan masalah zakat di tanah air. Akan banyak sekali yang bisa dibicarakan. Dan mencoba ditelaah lebih lanjut mengenai permasalahan yang ada. Mulai dari kesadaran menunaikan zakat, sistem pengelolaan zakat di kelembagaan, fundraising atau penggalangan dana, permasalahan amil atau pengelolaan manajemen kelembagaan zakat, dan distribusi zakat. Dan satu lagi masalah aturan atau undang-undang yang konon mencoba mengatur mengenai zakat di tanah air, tetapi masih setengah-setengah. Yang sekadar ingin dituangkan kali ini adalah seputar amil. Ya, amil adalah orang yang mempunyai peran untuk mengelola zakat. Secara gampang ialah orang yang akan menerima zakat dari muzaki (pemberi zakat) dan menyalurkannya kepada penerima zakat yang termasuk 8 golongan asnaf (mustahik). Berikut beberapa ilustrasi dan sedikit yang ingin diutarakan. Semoga menjadi wacana yang berbeda dan bermanfaat.

***

Sekadar flashback masa lalu. Ketika jaman kepemimpinan islam masih berjaya di tangan Baginda Rasulullah dan khalifah, katakanlah ada sebuah lembaga keuangan pengelola ekonomi negara yang disebut dengan istilah Baitul Mal. Di lembaga tersebutlah keuangan negara diatur secara benar. Sehingga rakyat tidak ada yang kelaparan. Orang yang bekerja di lembaga keuangan tersebut atau Baitul Mal, yang mempunyai peran mengurusi zakat disebut dengan amil.

amilTanah air ini merupakan negara yang penuh keberagaman. Walaupun memang secara presentase hitam di atas putih, mayoritas beragama islam. Tetapi dasar negara yang dianut adalah Pancasila. Mungkin hal itu juga yang menjadi salah satu faktor bahwa pekerjaan sebagai amil (kalau dibaca secara sederhana menjadi : pengumpul zakat) masih dipandang sebagai pekerjaan sambilan atau sampingan. Walaupun masih banyak sebenarnya alasan atau faktor lain penyebab hal itu terjadi. Pekerjaan menjadi amil di sebuah lembaga pengelola zakat, infak dan shodaqoh belum sepenuhnya “diterima” menjadi pekerjaan tetap seseorang. Memang ada yang telah menetapkan bahwa bekerja sebagai amil di sebuah lembaga pengelola zakat adalah pekerjaan tetap. Terutama di lembaga pengelola zakat atau lazis yang tingkatannya sudah besar. Bisa lazis tingkat provinsi atau bahkan nasional. Tapi itu hanya sedikit. Masih banyak sekali lazis kecil yang memposisikan amil sebagai pekerjaan sampingan. Misalnya seorang pegawai negri atau pegawai swasta yang pada pagi sampai siang bekerja di kantor. Tetapi di sela-sela waktu sore hari atau hari libur berperan menjadi amil sebuah lazis.

Ya memang begitulah kondisi riil di lapangan. Cara pandang sebagian masyarakat lebih condong mangatakan bahwa amil adalah pekerjaan sambilan. Karena mungkin paradigma sebagian masyarakat memandang bahwa yang namanya pekerja tetap yang profesioanl itu akan mendapat gaji dengan jumlah nominal tetap. Atau bisa juga memandang bahwa amil lebih banyak digolngkan ke aktivitas yang bersifat filantropi atau kedermawanan. Charity atau bersifat sosial yang tanpa meminta imbalan.

Kalau ditinjau dari segi masalah pendapatan dari pekerjaan tersebut, memang sudah menjadi ketentuan bahwa amil akan mendapat 2.5 persen dari zakat. Sesuai dengan ketentuan Al Quran. Tetapi jika melihat dari kenyataan di lapangan yang ada, khusunya di lembaga pengelola zakat atau lazis yang sudah besar dan mapan, sistem penggajiannya bisa beragam. Tapi bukan berarti meniadakan aturan 2.5 persen tersebut. Logikanya memang semakin besar zakat yang diperoleh, maka semakin besar “jatah” untuk amil yang bisa diperoleh. Tetapi juga harus dilihat pula bahwa sebuah lazis yang besar pada umumnya bukan melulu menampung zakat. Masih ada aliran dana lain seperti dari infak dan shodaqoh. Belum lagi jika lembaga atau lazis tersebut pada dasarnya adalah sebuah afiliasi sebuah perusahaan atau company holding besar. Yang tentunya ada subunit usaha lain yang terkait.

Nah, jika berpijak pada kenyataan masa lalu yang telah diutarakan pada paragraf satu serta untuk memberikan sedikit sumbangsih penyelesaian permasalahan zakat di tanah air, sekiranya sebenarnya perlu diubah cara pandang atau paradigma di tengah masyarakat bahwa amil adalah sebuah profesi. Seperti layaknya seorang dokter, akuntan, apoteker dan lain sebagainya. Bahwa sebenarnya seorang amil itu bekerja layaknya mereka. Dengan kemampuan yang spesifik dan bidang yang spesifik pula, seorang amil bisa saja berpindah lokasi kerja. Bisa dianalogikan seperti seorang dokter yang bisa praktek dimana-mana, tetapi kemampuan atau skill-nya tetap spesifik.

Untuk menumbuhkembangkan iklim zakat dan pengelolaannya untuk yang lebih baik, maka sudah sepantasnya jika pekerjaan sebagai amil dipandang sebagai sebuah profesi .Atau bukan hanya sebagai pekerjaan sambilan. Analoginya jika masih diposisikan sebagai pekerjaan sambilan, maka tentu saja hasilnya juga akan setengah-setengah. Padahal sebenarnya untuk menggerakkan semangat berbagi melalui zakat bukanlah pekerjaan asal-asalan. Perlu totalitas dalam pekerjaan. Bekerja dengan semangat profesionalisme. Seperti pula yang telah diajarkan dalam Al Quran. Penuh amanah.

Baca Lagi Ah





Manajemen Zakat

25 08 2009

Mungkin langsung akan terlintas bahwa penulis buku ini mempunyai latar pendidikan kental dengan pondok pesantren atau perguruan tinggi islam. Tetapi itu agak meleset. Penulis adalah salah satu orang tersohor di Indonesia. Di bidang zakat tentunya. Punya latar belakang kuliah S1 di Arkeologi UI. Dia adalah Eri Sudewo. Salah satu perintis Dompet Dhuafa Republika (DD). Penulis memang pernah bekerja di Badan Arkeolog, karena background keilmuannya itu. Tetapi juga pernah merangkap bekerja di bisnis media. Dan alhasil pada tahun 1993, penulis terlibat dalam melahirkan DD.

m zaktMungkin ini adalah buku pertama di Indonesia yang membahas mengenai seluk beluk pengelolaan zakat di sebuah organisasi nirlaba. Dan mungkin dengan dasar itulah diberi judul “Manajemen Zakat”. Bukan mengupas lebih dalam mengenai zakat kontemporer dalam sudut pandang fiqih dan penerapannya di dunia modern saat ini. Tetapi pengelolaan zakat di sebuah lembaga atau organisasi. Tentu saja dengan sejarahnya.

Buku ini memupunyai judul  “Manajemen Zakat, Tinggalkan 15 Tradisi Terapkan 4 Prinsip Dasar”. Penerbit Institut Manajemen Zakat (IMZ) Jakarta pada tahun 2004. sudah cukup lama. Tapi tetap menarik dibaca. Karena seperti diungkapkan di awal tadi bahwa jarang-jarang buku seperti ini. Di dalamnya juga tidak melulu bercerita secara teoritis. Tetapi diliputi pula oleh cerita-cerita di balik kesuksesan pembangunan lembaga DD. Dengan beragam kenangan baik maupun yang kadang lucu bahkan bercitra negatif. Tak lupa penulis kadang menyelipkan beberapa kata-kata bijak di setiap bab-nya.

Membaca buku ini, langsung disuguhi oleh pengatar atau kata sambutan dari lima orang penulis dan professional di bidangnya. Yakni sang maestro pemasaran Hermawan K, ahli manajemen Dr. Rhenald K, Akademisi Prof. Azyumardi A, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Prof. Didin H, dan penulis berbagai buku mengenai ekonomi syariah Adiwarman A.Karim. Semua kata pengantar memiliki petuah dan sudut pandang yang berbeda-beda sesuai bidang keilmuannya.

Selama ini memang masalah pengelolaan zakat dalam sudut pandang hukum negara Indonesia belum tertata dengan baik. Jika diambil sudut pandang dari ranah hukum, tentu UU zakat yang akan dipermasalahkan dan perlu ditinjau kembali. Dan jika dilihat lebih ke arah operasional, maka banyak sekali permasalahn teknis berkaitan dengan lembaga pengelola zakat. Permasalahan yang diangkat penulis, mengungkapkan ada 15 tradisi yang menyebabkan kesulitan perkembangan. Yakni : anggap sepele, kelas 2, tanpa manajemen, tanpa perencanaan, struktur organisasi tumpang tindih, tanpa fit and proper test, kaburnya batasan, ikhlas tanpa imbalan, dikelola paruh waktu, lemahnya SDM, bukan pilihan, lemahnya kreativitas, tak ada monitoring dan evaluasi, tak disiplin dan kepanitiaan. Sehingga penulis menawarkan solusi 4 prinsip dasar; prinsip rukun islam, prinsip moral, prinsip lembaga dan prinsip manajemen.

Pada intinya penulis ingin bahwa pengelolaan zakat oleh lembaga nirlaba atau sekarnag lebih sering memakai istilah lazis, bisa memberikan kemanfaatan lebih. Bukan hanya sebagai lembaga yang asal-asalan dibuat tanpa manajemen dan dibuat hanya untuk semata charity. Tetapi semua itu adalah sebuah nilai profesionalisme. Dan paradigma baru seperti ini memang tidak mudah dan butuh waktu untuk menerapkannya di benak masyarakat banyak.

Tumpang tindih yang terjadi secara struktural mengenai kelambagaan zakat secara nasional juga sedikit disingguh di sini. Kemudian tak lupa salah satu hal yang penting dalam hal pengelolaan dana zakat adalah masalah distribusi. Dimana terdapat berbagai cara atau program kegiatan untuk mendistribusikan zakat. Mulai dari cara konvensional bisa untuk penyaluran sesuatu yang bersifat konsumtif, sekali pakai habis. Sampai cara penyaluran dengan pendayagunaan. Sesuatu yang bermanfaat untuk jangka panjang. Sehingga seseorang yang termasuk golongan mustahiq (golongan yang berhak menerima zakat, 8 asnaf) bisa meningkat menjadi muzaki (donator).